Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 63


__ADS_3

Saat ini Hana tengah mengelap tubuh Aisyah. Hana sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu, dan Hana sangat bahagia karena Aisyah tumbuh menjadi anak yang cantik dan menggemaskan juga pintar.


Selesai mengelap tubuh Aisyah, Hana segera menyuapi Aisyah untuk sarapan. Hana tersenyum bahagia karena sekarang dia bisa berkumpul bersama sang buah hatinya. Hana ingin mengisi hari-harinya bersama Aisyah, menggantikan waktu yang sudah terbuang karena perpisahan antara dirinya dan Aisyah.


"Ibu, nanti kalau Ais sudah sembuh. Ais pengen sekolah lagi, Ais sudah kangen sama teman-teman Ais di sekolah," ungkap Aisyah.


"Iya, itu sudah pasti. Ais harus sekolah, biar jadi anak yang pintar," jawab Hana penuh dengan kelembutan.


"Ayo, habiskan sarapannya," titah Hana.


"Iya, tapi kalau Ais sudah keluar dari sini, boleh Ais ke makam papa?"


"Tentu saja boleh, nanti kita sama-sama ke makam papa dan kita doakan Papa supaya papa tenang di surga."


Aisyah pun mengangguk dengan senang. "Ais sayang ibu...." Aisyah merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Hana. Dengan senang hati Hana memeluk Aisyah dengan penuh kehangatan.


"Ibu juga sayang, Ais, bahkan sayangnya ibu ke Ais sangat banyak," timpal Hana.


Mereka saling berpelukan dan saling berbagi kasih. Tidak lama Mama Soraya datang seorang diri dan membawa paper bag di tangannya.


" Halo, cucu Oma...." sapa Mama Soraya kemudian mencium pipi Aisyah yang sekarang terlihat agak chubby.


"Oma bawa apa?" tanya Aisyah penasaran.


"Ayo tebak, Oma bawa apa untuk Ais," seraya menjembel pipi Aisyah.


Aisyah menggelengkan kepalanya, tapi matanya terus tertuju kepada paper bag yang di bawa oleh Mama Soraya.

__ADS_1


"Nih, buat cucu Oma yang paling cantik." Mama Soraya menyodorkan paper bag tersebut kepada Aisyah.


"Wah...." Mata Aisyah berbinar senang saat mama Soraya memberikannya hadiah untuknya.


"Terima kasih, Oma. Ais suka boneka Barbie nya, bonekanya cantik kaya Ais," serunya seraya terkiki-kikik.


"Sama-sama sayang." Tangan mama Soraya mengelus kepala Aisyah.


"Oma mau bicara dulu sama ibu ya. Ais main sendiri nggak apa-apa?"


Aisyah pun mengangguk dan bermain dengan boneka yang di bawa oleh Mama Soraya.


Mama Soraya kemudian mengajak Hana untuk duduk dan mengeluarkan beberapa contoh undangan yang sudah di cetak.


"Hana, coba kamu pilih undangan yang menurut kamu paling bagus. Kalau sudah di pilih, Mama segera menyuruh orang membuatkan undangan yang kamu pilih." Seraya meletakkan contoh undangan di atas meja.


Hana pun memilih contoh undangan yang di bawa oleh Mama Soraya. Hana sedikit bingung, karena contoh undangan yang di bawa Mama Soraya semuanya bagus.


"Sudah pilih saja, menurut kamu yang bagus mana? agar Mama segera membuatkannya."


"O iya, orang tua kamu sudah di kabarin belum soal kamu dan Aries?" sambung Mama Soraya.


"Sudah, ma. Rencananya orang tuaku akan ke sini besok, ma."


"Oh, begitu. Mama akan menyuruh orang untuk menjemput orang tua kamu. Sekarang kamu kasih tau Mama, dimana kampung halaman kamu."


Hana pun memberi tahu alamatnya di kampung, dan Mama Soraya menghubungi anak buahnya untuk menjemput orang tua Hana di kampung.

__ADS_1


"Pokoknya kalau Aisyah sudah sembuh, kamu dan Aries harus segera menikah dan Mama nggak mau ada halangan. Semoga saja kedua orang tua kamu setuju dan merestui pernikahan kalian, apalagi sudah ada Ais di antar kalian."


"Iya, ma...."


"Jika orang tua kamu tidak setuju, Mama akan memaksa kedua orang tua kamu agar setuju. Apapun caranya."


"Insyaallah, orang tuaku pasti akan setuju, ma."


" Semoga saja, Mama nggak mau kalau kamu dan Aries nggak jadi menikah. Kasihan Aisyah, dia butuh kalian berdua."


"Mama tenang saja, kami pasti akan menikah," ucap Hana menenangkan Mama Soraya sembari menggenggam tangan mama Soraya.


"Ayo, kita lanjutkan. Kamu sudah menemukan yang cocok belum dengan kartu undangannya."


"Belum, ma. Semuanya bagus-bagus, aku jadi bingung harus pilih yang mana? Apa aku tanya Aries saja ya."


"Boleh, biar kamu nggak bingung," sahutnya.


Akhirnya Hana meminta bantuan Aries untuk memilih kartu undangannya lewat WA.


***


Sementara di tempat lain. Marshall yang tengah berada di kamarnya, sedang memikirkan Aisyah. Dia sangat ingin bertemu dengan Aisyah, tapi mamanya melarangnya untuk menemui Aisyah lagi. Apalagi kalau dia sampai nekat kabur lagi, yang ada dia bakal di kirim ke Surabaya dan tinggal di sana.


"Gimana caranya aku bisa bertemu dengan Ais, aku ingin sekali bertemu dengan Ais."


"Apa aku kabur lagi ya, tapi aku lupa jalan ke rumah sakitnya. Aku cuma ingat nama rumah sakitnya?"

__ADS_1


Marshall menghela nafasnya, dan menatap foto dirinya, Aisyah dan papa Adam.


Pa, maafin Abang. Kali ini Abang nggak bisa jagain Ais. Tapi papa tenang saja, sekarang Ais sudah ada yang jagain yaitu tante Hana dan om Aries. Mereka sangat menyayangi Ais, sama seperti papa menyayangi Ais. Tapi sekarang Abang kangen Ais. Abang kesepian pa, nggak ada Ais di rumah ini.


__ADS_2