Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 6


__ADS_3

Keesokan harinya Hana tengah memasak untuk sarapan, sedangkan Anton belum pulang sejak Anton menyentuhnya. Saat sedang fokus memasak di dapur Hana di kejutkan dengan teriakan Anton.


"Hana..." teriak Anton dari arah depan.


"Iya Mas..." sahut Hana yang langsung bergegas menemui Anton.


Anton mendengus memandang Hana, "Lelet banget sih jadi orang, buatkan saya kopi." Pinta Anton yang memandang Hana dengan tatapan sinis.


"Iya mas." Hana segera membuat kopi untuk Anton,dan meletakkan kopi tersebut di atas meja. Anton langsung meraih kopi itu dan langsung menyeruput kopinya.


Byurr


Anton menyemburkan kopinya dan meletakan cangkirnya secara kasar sembari menatap Hana tajam.


"Kamu sengaja ya, mau buat lidah saya melepuh!," bentak Anton sembari menoyor kepala Hana.


"Tidak mas, itu kan kopinya baru di seduh jadi kopinya masih panas," tukas Hana.


"Ngejawab aja kamu tuh," hardik Anton seraya menggebrak meja. Hana terkejut saat Anton menggebrak meja dan memandang Anton lekat.


"Kenapa kamu ngeliat saya kayak gitu!," bentak Anton seraya bangkit dari duduknya dan mendorong bahu Hana kasar.


"Sekarang kamu siapkan saya sarapan, saya mau berangkat kerja," teriak Anton dari balik pintu kamar mandi.


Hana kembali ke dapur dengan hati yang meringis atas sikap Anton yang benar-benar telah berubah, tidak seperti dulu lagi. Hana kembali melanjutkan acara memasaknya, karena dia tidak mau kena omel lagi.


"Hanna..." teriak Anton dari kamarnya.


"Iya mas," sahut Hana yang kembali tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa lagi mas?" tanya Hana.


"Cih, harusnya kamu sebagai istri tuh, mempersiapkan segala sesuatunya untuk suamimu ini. Suami mau kerja tapi kamu sebagai istri tidak menyiapkan pakaian untukku," sentak Anton dengan pandangan menghunus.


"Maaf mas, aku tadi masih sibuk dengan masakan," jawab Hana yang melangkah ke lemari untuk mengambil pakaian Anton.

__ADS_1


"Alasan saja bisanya." Cibir Anton.


Anton langsung merebut pakaiannya dari tangan Hana dengan kasar seraya menatap sinis Hana. Hana keluar dari kamar dan segera menyiapkan sarapannya di meja makan. Anton langsung duduk di kursi dan Hana melayani Anton dengan tulus, meskipun Anton sudah menghinanya tak ayal membuat tugasnya sebagai istri dia abaikan.


Selesai dengan sarapan Anton langsung berangkat bekerja tanpa pamit kepada Hana. Hana berusaha tegar menghadapi sikap Anton yang tak menghargainya sebagai istri. Hana memilih menyibukan diri membereskan rumah kontrakannya.


Setelah seharian membenah rumah, Hana tertidur karena lelah, seharian ini dia benar-benar bekerja keras membereskan rumahnya sendiri.


Tok tok tok


"Hana," panggil Ibu Dumiya dari luar rumah, beliau datang tak sendiri. Beliau datang bersama suaminya yaitu Bapak Hana.


Sayup-sayup Hana mendengar teriakan seseorang yang memanggilnya, Hana terbangun dan melirik jam yang tergantung di dinding dan ternyata sudah sore. Hana langsung melangkahkan kakinya ke pintu depan untuk membukakan pintu untuk tamunya.


"Ibu,Bapak..." seru Hana dan Hana membukakan pintunya dengan lebar.


"Ayo masuk Bu,Pa." Hana mempersilahkan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.


"Gimana kabarmu, Nak." Seloroh Ibu Dumiya yang tengah duduk di kursi panjang.


"Kabar Hana, baik Bu!." Dusta Hana seraya tersenyum getir.


"Sudah pak," sahut Hana yang bingung menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya tengah berbadan dua.


Tiba-tiba Anton datang, tanpa mengucapkan salam.Anton terkejut dengan kedatangan mertuanya itu. Anton langsung mencium tangan mertuanya secara bergantian.


"Saya ganti baju dulu pak, Bu." Izin Anton kepada mertuanya.


"Iya, silahkan Nak," timpal Ibu Hana.


"Ngapain dua orang itu datang kesini."Gerutu Anton dalam hati, seraya melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


Sedangkan Hana tengah sibuk di dapur menyiapkan air minum dan juga cemilan untuk kedua orang tuanya dan juga buat Anton. Setelah itu Hana membawa nampan berisi minuman dan cemilannya.


"Maaf Bu, hanya ini yang bisa Hana suguhkan," seloroh Hana yang meletakan cangkir di atas meja beserta cemilannya.

__ADS_1


"Hente nanaon Na ( Nggak apa-apa Na ) ini saja sudah cukup," ujar Ibu Dumiya yang langsung menyesap minumannya.


"Kata dokter Na sakit apa?" tanya Bapak Hana yang menatap Hana lekat.


"Hana cuman----"


"Hana hamil Pak." Potong Anton cepat.


Kedua orang tua Hana saling pandang dan juga memandang Hana seolah meminta penjelasan, takut-takut pendengaran mereka bermasalah.


"Maksudnya nak Anton apa ya?, mana mungkin anak kami hamil," cetus Bapak Hana yang bingung dengan semua ini.


"Kalau bapak tidak percaya sama saya, lebih baik Bapak tanya langsung ke anak bapak yang terlihat polos tapi aslinya kelakuannya nggak benar selama dia bekerja di ibu kota." Cibir Anton yang memandang hina kepada Hana.


"Na, apa benar yang di omongin Anton?," tanya Bapaknya meminta penjelasan.


Hana dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes."Nggak Pak, Hana nggak seperti itu. Hana beneran bekerja di sebuah Mall di ibu kota.m," awab Hana.


"Halah, jangan sok suci kamu!, buktinya kamu sekarang hamil anak orang lain." Tukas Anton.


"Nak, jawab dengan jujur." Mohon bapaknya.


"Sebenarnya Hana jadi korban pemerkosaan sama orang yang tidak Hana kenal saat Hana pulang ke kosan, Hana di tarik dan Hana di perkosa sama lelaki itu. Sungguh Pak, Hana nggak bohong, demi Tuhan Hana bekerja di ibu kota dengan cara halal dan juga tidak menjadi perempuan yang seperti di katakan mas Anton." Jujur Hana dengan derai air mata.


"Cih, jangan kamu bawa nama Tuhan kalau memang kamu di ibu kota, kamu memang bekerja sebagai wanita penghibur." Kekeh Anton dengan tuduhannya.


"Cukup mas!, aku nggak pernah bekerja seperti itu," hardik Hana yang menatap Anton tajam.


"Kenapa kamu menatap saya kaya gitu,Hah!," bentak Anton yang tidak peduli dengan mertuanya yang menyaksikan perdebatan mereka.


"Stop!," sentak Bapak Hana yang mengangkat satu tangannya ke udara.


"Hana, Bapak kecewa sama Na.nNa sudah merusak kepercayaan Bapak, sekarang jawab pertanyaan Bapak siapa orang yang telah menghamili Na," ucap Bapak Hana tegas.


"Pak, Na nggak tau siapa dia. Na nggak kenal sama orang yang telah merenggut kehormatan Na," ucap Hana yang tak percaya dengan sikap sang Bapak yang tak mempercayainya.

__ADS_1


Hana menangis menahan kesedihannya sendiri, bahkan Bapaknya sendiri merasa kecewa dengan semua ini. Sedangkan sang Ibu hanya diam dan menatapnya menangis. Ibu Dumiya hanya diam tanpa merangkul kesedihan Hana.


Hati Hana semakin perih melihat kedua orang tuanya diam, sedangkan di sini Hana adalah korban pemerkosaan, dan Hana benar-benar tidak mengenal orang yang sudah merenggut kesuciannya.


__ADS_2