
"Ais sudah bangun belum ya," Marshall melirik jam di atas meja belajarnya.
Biasanya, Aisyah akan membangunkan dirinya bila bangun terlambat. Tapi sejak dirinya bangun, Aisyah tak terlihat datang ke kamarnya.
Marshall sudah selesai memakai seragam sekolahnya dan mencangklokkan tasnya ke punggungnya. Marshall segera turun untuk sarapan, tapi saat sudah tiba di meja makan, Aisyah tidak ada di sana dan itu membuatnya merasa aneh.
"Kok, Ais nggak ada? Apa Ais sakit ya?" gumam Marshall.
Marshall melanjutkan langkahnya dan duduk di depan meja makan.
"Mba Ijah!" panggil Marshall.
"Ya, den. Ada apa?"
"Ais sudah turun belum?"
"Oh, non Ais ... anu. Non Ais---" Mba Ijah bingung menjelaskannya.
Aduh ... gimana ini? kalau di kasih tau ke Aden Marshall yang ada saya kena semprot nyonya, tapi jika tidak di kasih tau kasihan Non Ais. Bahkan sampai sekarang Non Ais masih di dalam gudang.
"Mba!, di tanya kok diam saja. Dimana Ais?"
"Itu ... Non Ais---" Jeda Mba Ijah.
Kasih tau nggak ya ke Aden, tapi kalau nggak di kasih tau kasihan si Non. Kasih tau aja deh, kalau nyonya marah itu urusan belakangan.
"Sebenarnya Non A--"
"Marshall, kamu sudah siap belum?" ujar Marisa sembari mendekati Mba Ijah kemudian mendelik menatap Mba Ijah. Sedangkan Mba Ijah menundukkan kepalanya.
"Cepat sarapannya, papa sudah menunggu kamu."
"Tapi, Ais."
"Ais ada di kamarnya, dia lagi sakit." Potong Marisa.
"Kalau begitu, aku mau lihat Ais dulu," seloroh Marshall.
"Jangan, Ais lagi tidur. Mama tadi sudah memberikan obat, jadi jangan di ganggu."
"Ya, sudah kalau begitu. Marshall berangkat dulu ma," ucapnya lemas.
Marshall pun berangkat sekolah di antar oleh Doni. Di perjalanan menuju ke sekolah, Marshall gelisah dan pikirannya terus tertuju kepada Aisyah yang kata mamanya Aisyah lagi sakit.
__ADS_1
***
Setelah Marshall berangkat sekolah, Marisa segera membuka pintu gudang dan membukanya. Marisa berdecih melihat Aisyah yang tengah tidur meringkuk.
"Eh, bangun!" Marisa membangunkan Aisyah dengan kakinya. Tapi Aisyah tak bergeming, Aisyah masih tetap tertidur.
"Cih, dasar anak pemalas," cibirnya.
"Heh ... bangun!" teriak Marisa seraya menggoyangkan tubuh Aisyah menggunakan kakinya.
Aisyah menggeliat dan mengerjapkan matanya, kemudian Aisyah menatap Marisa.
"Mama...." ucapnya begitu lirih.
"Bangun! Dasar pemalas!" hardik Marisa sambil berkacak pinggang dengan tatapan nyalang.
Aisyah langsung bangun, saat Aisyah bangkit dari lantai tiba-tiba Aisyah limbung. Untung saja Aisyah langsung meraih tangan Marisa, sehingga Aisyah tidak terjatuh ke lantai.
"Jangan lebay deh? baru segitu aja udah sakit!"
"Ais nggak sakit, Ma."
Marisa hanya menatap sinis terhadap Aisyah. "Sana keluar!" suruh Marisa ketus.
Aisyah mengangguk pelan dan mengayunkan kakinya keluar gudang. Aisyah yang memang sudah sangat lapar segera melangkah ke arah meja makan.
Bi Nunik dan Mba Ijah yang tengah membereskan dapur menengok dan seketika keduanya mencelos melihat Aisyah yang begitu pucat. Mba Ijah langsung menitikkan air matanya melihat Aisyah yang terlihat kuyu. Mba Ijah mengusap kedua matanya, bahkan rasa sesak terasa menghimpit Dada Mba Ijah karena merasa iba melihat keadaan Aisyah yang sekarang kehidupannya sangat menyedihkan. Mba Ijah bisa melihat ada kesedihan di mata Aisyah, meski Aisyah tidak menunjukkannya.
Bi Nunik segera menghampiri Aisyah yang sudah duduk di meja makan. Bi Nunik tersenyum hangat saat sudah berada di depan Aisyah.
"Non mau makan?"
"Iya, Ais sudah sangat lapar," Ucapnya memelas.
"Non mau makan sama apa?"
"Apa saja, karena Ais sangat lapar."
Bi Nunik segera membuatkan makanan untuk Aisyah, dan segera menghidangkannya. Aisyah langsung melahap sarapannya.
Selesai dengan sarapannya, Aisyah langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya. Saat Aisyah akan naik tangga, tiba-tiba rasa pusing membuat jalan Aisyah tak seimbang dan menyenggol pas bunga yang berada di atas meja.
PRANK
__ADS_1
Suara pecah pas bunga. Marisa yang memang tengah bersantai di ruang keluarga sambil menonton tivi langsung bangkit dan berjalan cepat ke arah benda jatuh.
Marisa langsung melayangkan tatapan tajam saat tahu kalau Aisyah yang memecahkan pas bunga miliknya. Sedangkan Aisyah menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasa takut langsung menyergapnya.
"AISYAH!" Lengkingan Marisa memenuhi ruangan itu dengan wajah yang sudah sangat marah.
"Maaf, Ma. Ais nggak sengaja," ucap Aisyah takut.
Kali ini Marisa benar-benar sudah tidak bisa mentoleransi Aisyah, kesabarannya sudah tidak bisa di tahan lagi. Marisa sudah sangat muak dengan keberadaan Aisyah, yang menurutnya hanya sebuah benalu di kehidupannya.
"Sini kamu!"
Marisa langsung menyeret Aisyah kasar, dan membawa Aisyah keluar dari rumahnya. Marisa langsung mendorong tubuh ringkih Aisyah ke luar gerbang.
"Dengar ya!, mulai hari ini kamu di larang menginjakkan kaki kamu ke rumah ini. Sana pergi dari sini!" Usir Marisa.
"Ma ... jangan usir Ais ... hiks ...hiks."
Marisa tak memperdulikan kesedihan Aisyah, walau tangisannya sangat memilukan dan menyayat hati. Marisa langsung menutup gerbang rumahnya dan juga menguncinya.
"Ma ... buka gerbangnya. Ais mau masuk, Ais nggak mau tinggal di jalan. Ma ... Ais mohon buka ... hiks ... hiks."
Aisyah terus meraung-raung sembari mengguncang-guncang gerbang rumahnya. Bahkan tangisan Aisyah sudah tak bisa terbendung lagi. Aisyah terus memanggil Marisa dan juga memohon agar di belas kasih oleh Marisa.
"Ma...." Suara Aisyah semakin melemah bahkan suara Aisyah sampai serak akibat terus berteriak memanggil Mamanya.
Setelah mengunci gerbang rumahnya, Marisa memperingati satpam rumahnya.
"Jangan biarkan dia masuk, jika kamu melanggarnya saya pastikan kamu langsung saya pecat. Paham kamu!"
"Paham, Nya...."
Sedangkan Mba Ijah dan Bi Nunik hanya bisa menangis dan mengelus dadanya, karena lagi-lagi mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Aisyah yang malang, masih tetap berdiri di balik gerbang rumahnya. Aisyah memandangi seluruh rumah yang selama ini jadi tempatnya berteduh. Rumah yang penuh kenangan bersama sang papa tercinta, rumah yang sudah membawanya kebahagiaan juga penderitaan.
Dengan berat hati, Aisyah mulai meninggalkan rumah yang sudah membesarkannya dan juga kehangatan saat bersama papanya juga abangnya yaitu Marshall.
Sekali lagi Aisyah melihat rumahnya, kemudian Aisyah mengayunkan langkahnya meninggalkannya. Kini langkah kakinya terus berjalan menyusuri jalan yang tak tau arah.
Kaki kecil itu kini sudah mulai lelah untuk berjalan lagi, karena Aisyah sudah jauh meninggalkan rumahnya. Aisyah berhenti di halte untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"De...." panggil seorang wanita muda.
__ADS_1
Aisyah mengadahkan wajahnya menatap siapa yang memanggilnya.
Wanita itu terdiam menatap wajah Aisyah, bahkan wanita itu memandang lekat-lekat wajah Aisyah. Wanita itu tiba-tiba hatinya berdesir saat menatap manik Aisyah, dan dia tak bisa mendefinisikan hatinya karena melihat wajah Aisyah. Wanita itu adalah Hana.