
Hari ini Hana akan bertemu dengan Diah di taman kota. Setelah berbalas pesan dengan Diah, kini Hana tengah bersiap-siap untuk berangkat di tempat yang sudah di janjikan.
Hana juga sudah meminta izin untuk libur bekerja, dan kini Hana sudah sampai di taman kota dan menunggu Diah datang. Dari kejauhan Hana sudah melihat Diah, wanita itu datang dengan keadaan yang membuat hati Hana iba melihat keadaannya. Bibir kiri Diah terluka dan juga ada bekas tamparan di pipinya Diah. Hana yakin, kalau Diah habis di siksa oleh si bajingan Anton yang selalu berbuat kasar dan main tangan.
"Maaf, terlambat," ucap Diah.
"Nggak apa-apa, santai aja," timpal Hana seraya tersenyum simpul.
"Jadi gimana? apa yang kamu ketahui tentang anakku?"
"Aku tahu tempat tinggal orang yang sudah membeli anakmu."
" Dimana?" Desak Hana cepat.
"Di perumahan elit, tapi aku lupa nama perumahannya. Soalnya udah lama aku nggak ke sana, tapi aku masih ingat alamatnya!"
"Kalau begitu kita langsung saja ke sana. Aku sudah lama ingin berjumpa dengan anakku, pasti sekarang sudah besar," ujar Hana dengan sangat antusias dan berharap bisa bertemu dengan anaknya.
"Ayo, mudah-mudahan kita di izinkan bertemu dengan anak kamu," timpal Diah.
"Hana!"
"Hmm ... kenapa?"
"Sebelum kita berangkat menemui anak kamu, aku mau mau meminta maaf atas perilakuku dulu terhadap kamu. Karena aku ... hubungan kamu sama mas Anton jadi hancur dan aku juga malah ikut membantu mas Anton menjual anak kamu. Mungkin ini karma buat aku, karena sudah merebut mas Anton dari kamu. Bahkan sampai sekarang aku belum di kasih keturunan," sesal Diah penuh dengan penyesalan sembari berkaca-kaca, mengingat betapa teganya dirinya menyakiti hati Hana.
Hana menghela nafasnya, kemudian Hana menggenggam tangan Diah sembari tersenyum hangat.
"Lupakan soal masa lalu, yang terpenting sekarang kamu sudah menyadarinya. Aku berharap, hubungan kamu sama mas Anton tidak terulang seperti diriku," ucap Hana tulus.
Diah terenyuh dengan sikap baik Hana, padahal dia pernah menyakiti hati Hana. Bahkan dengan tega ikut membantu Anton menjual bayinya, tapi apa ini? justru Hana dengan mudahnya memaafkan dirinya.
"Terima kasih, kamu sudah mau memaafkan aku yang hina ini." Diah berucap seraya menitikkan air matanya.
"Ya, sudah jangan sedih lagi. Lebih baik kita segera berangkat," kata Hana.
"Ya Na, ayo...."
Mereka berdua segera meninggalkan taman tersebut dan mengayun melangkah bersama mencari keberadaan Aisyah, putri kandung Hana yang lama terpisah.
Setelah naik angkot, Hana dan Diah turun di halte.
"Dari sini kita kemana lagi?" ujar Hana menengok ke arah Diah.
"Sebentar, soalnya aku lupa? Aku coba tanya orang dulu, ya."
Hana mengangguk dan memilih duduk di halte. Saat sedang menunggu Diah, seorang anak perempuan mendekat dan duduk di samping Hana dengan wajah yang sangat lelah, bahkan wajahnya penuh dengan keringat.
__ADS_1
Hana melirik anak tersebut, yang sedang menundukkan kepalanya.
" De...." panggil Hana.
Anak itu mengadahkan wajahnya dan menatap dirinya. Hana terdiam saat menatap wajah anak kecil itu,bahkan Hana memandanginya lekat-lekat. Hati Hana tiba-tiba berdesir saat menatap bola mata indah itu dan Hana tak bisa mendefinisikan hatinya, Hana merasa kalau anak itu memiliki ikatan kuat dengan hatinya. Tapi Hana tak bisa menjabarkan nya.
"Kamu, di sini sendirian, De?" tanya Hana halus.
Anak perempuan itu mengangguk lemah, "Ade mau kemana?"
"Mau...."
"Na!" panggil Diah.
"Iya, gimana?" sahut Hana.
"Kita tinggal naik angkot satu kali lagi dari sini."
Ya sudah ayo. Eh ... tunggu sebentar." Hana menghentikan langkah Diah yang akan meninggalkan halte.
"Kenapa?"
Hana tak menjawab, tapi Hana menengok ke arah anak perempuan itu.
"De, jangan pergi jauh-jauh ya. Nanti Tante ke sini menemui kamu, dan ini uang untuk Ade, buat beli sesuatu atau Ade mau ikut sama Tante?"
"Ais tunggu di sini aja Tante," jawabnya.
"Baiklah, kalau ada yang mau mendekati Ade dan tidak Ade kenal, Ade segera pergi dan cari tempat yang ramai." Anak perempuan itu mengangguk paham.
"Ingat, tetap berada di sekitar sini ya, agar Tante gampang mencari Ade."
'"Iya...."
Dengan berat hati Hana meninggalkan anak itu, dan berjanji akan secepatnya menemuinya lagi.
Hana dan Diah segera naik angkot, tapi pandangan Hana tetap mengarah ke anak kecil itu sampai hilang dari pandangannya. Meski baru bertemu, anak perempuan itu sudah berhasil mengalihkan semua perhatiannya dan seolah-olah mereka berdua sudah lama terjalin dan Hana sendiri tidak bisa menjelaskannya.
Kini Hana dan Diah sudah sampai di tempat yang di tuju. Mereka berdua segera mencari rumah orang yang sudah membeli anak Hana.
"Nah, itu dia rumahnya!" Diah menarik tangan Hana.
Deg
Jantung Hana berdebar kencang, saat melihat rumah mewah itu. Bahkan kaki Hana seolah tak dapat berpijak, mata Hana sudah berkaca-kaca karena sebentar lagi akan bertemu dengan anak kandungnya. Kini debaran jantung Hana semakin kencang karena langkah kakinya sudah mendekati rumah itu.
" Permisi Pak!" Sapa Diah kepada satpam.
__ADS_1
"Iya, cari siapa ya?"
"Apa benar, ini rumah tuan Adam Adaskhan?"
"Ya, betul."
"Boleh kami bertemu dengan beliau?"
"Ada keperluan apa, anda mencari tuan Adam?"
Diah melirik Hana sebentar kemudian kembali menatap satpam tersebut.
"Ada hal yang sangat penting dan kami harus bertemu dengannya langsung."
"Maaf, sebenarnya tuan Adam sudah meninggal dan nyonya juga sedang pergi."
"Apa! Tuan Adam sudah meninggal?" Diah terkejut.
Hana dan Diah saling pandang dan semoga Hana bisa bertemu dengan anaknya.
"Maaf ... kalau Ai ... Aisyah nya ada?" tanya Hana ragu.
Pak satpam itu terdiam lama, Hana tak tau kenapa satpam itu terdiam dan seolah ada sesuatu yang membuat satpam itu terdiam.
"Kalau boleh tau, anda mencari non Ais untuk apa, ya?"
"Gimana ya saya ngejelasinnya?" kata Hana bingung.
"Anak itu, anak kandungnya," timpal Diah.
Tanpa di duga satpam tersebut membuka pintu gerbang dan mempersilahkan masuk. Kini Hana dan Diah sudah berada di rumah mewah itu.
Seorang perempuan paruh baya datang menghampiri mereka dan meletakkan minuman di meja.
"Maaf, kata pak Suryo anda mencari non Ais?" ucap Bi Nunik.
"Iya, benar. Apa Aisyah nya ada?" tanya Hana penuh dengan pengharapan.
"Kalian siapanya non Ais?"
"Em ... saya ibu kandung Aisyah, Bu?" jawab Hana ragu.
Bi Nunik diam dan hanya menatapnya.
"Jadi gini Bu? Dulu suami saya menjual Aisyah ke tuan Adam dan ini Hana, ibu kandungnya Aisyah. Kami datang kesini mencari keberadaan Aisyah dan ingin bertemu dengan Aisyah," pungkas Diah langsung ke intinya.
"Apa ... saya boleh bertemu dengan Aisyah?"
__ADS_1