Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 53


__ADS_3

Aries sudah tiba di pelataran rumah sakit.Setelah memarkirkan mobilnya, Aries segera turun dan melangkah menuju ruang rawat Aisyah. Aries melirik jam di pergelangan tangannya, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aries mempercepat langkah kakinya, dan berharap Aisyah belum tidur.


Dengan perlahan Aries membuka pintu dan menyembulkan kepalanya untuk melihat, apakah Aisyah sudah tidur atau belum. Tapi yang ada Aisyah malah tengah menonton tivi, sedangkan Hana berada di sampingnya sembari memeluk Aisyah.


"Ibu, kapan om Aries datang?" rengek Aisyah yang sudah kesal menunggu kedatangan Aries. Bahkan Aisyah berusaha menahan ngantuknya, hanya ingin mendengar Aries membacakan cerita untuknya.


"Sebentar lagi sampai kok, sabar ya sayang...." bujuk Hana lembut.


Aisyah mencebikan bibirnya, " Lama! Ais sudah mengantuk, tapi Ais ingin om membacakan cerita untuk Ais," keluh Aisyah.


"Iya, coba ibu telpon dulu."


"Hmm...." Aries berdehem seraya tersenyum kepada kedua perempuan yang sangat dia cintai.


"Om!!" Seru Aisyah yang kini langsung berbinar melihat Aries yang kini melangkahkan masuk dan mendekati ranjangnya.


Hana yang melihat Aries mendekat, langsung bangun dari posisi tidurnya, kemudian turun dari kasur seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


Kini, Aries sudah berdiri di samping Hana dan ranjang Aisyah.


"Maaf lama," bisik Aries kepada Hana.


"Iya. Aku serahkan Ais sama kamu, dari tadi Ais sudah merengek menunggu kamu datang," pungkas Hana.


"Kenapa om lama sekali?" seloroh Aisyah kesal karena harus menunggunya sampai berjam-jam menanti kedatangan Aries.


"Maaf, sudah membuat tuan putri lama menunggunya," ucap Aries seraya memasang wajah menyesal.


"Iya, Ais maafin om kok. Ais cuman kesel aja, kenapa om datangnya lama," kata Aisyah yang kini menggembungkan kedua pipinya.


"Tapi, sebelum om membacakan cerita. Om boleh minta sesuatu dari Ais."


"Minta apa? Ais nggak punya uang, om."


"Bukan minta uang sayang, tapi om ingin Ais memanggil om dengan sebutan 'Ayah'." Pinta Aries.

__ADS_1


"Ayah...." cicit Aisyah seraya memandang wajah Aries.


" He'em, Ayah. Ais mau kan memanggil om dengan sebutan ayah."


"Iya, ayah...." ucap Aisyah lembut.


Aries tersenyum haru, karena sekarang putrinya sudah memanggil dirinya dengan sebutan ayah. Aries harus pelan-pelan memberi tahu Aisyah soal kenyataan bahwa Aisyah adalah putri kandungnya bersama Hana.


Aries menarik kursi dan langsung duduk di samping ranjang, sedangkan Hana memilih duduk di sofa.


"Baiklah, karena putri ayah sudah lama menunggu. Kita mulai saja bercerita. Kali ini Ais mau mendengarkan cerita apa?"


Aisyah menggeleng tanda tak tahu, karena dirinya suka bingung kalau di minta memilih di bacakan cerita apa.


" Sebentar, ayah cari cerita dulu dari hape," ucap Aries yang kini membuka gawainya mencari cerita yang menurutnya bagus. Sedangkan Hana, hanya memperhatikan interaksi ayah dan anak itu.


" Oke, kita mulai ceritanya. Judulnya semut dan merpati."


Aries langsung membacakan cerita tersebut sembari mengelus kepala Aisyah. Sedangkan Aisyah mendengarkan dengan seksama cerita tersebut, sampai-sampai kedua matanya mulai berat dan akhirnya kedua matanya menyerah lalu Aisyah mulai tidur dan langsung di sambut oleh sang alam mimpi.


Aries tersenyum melihat wajah damai Aisyah yang begitu pulas dalam tidurnya, bahkan terdengar suara dengkuran halus dari mulut Aisyah. Aries mencium kening Aisyah dan membenarkan selimutnya seraya mengelus pipi Aisyah.


"Semoga mimpi indah, putri ayah yang cantik. Ayah sayang kamu, nak." Bisik Aries.


Pandangan Aries langsung teralihkan ke Hana, yang sedang memainkan gawainya. Aries pun mulai mendekati Hana dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa berbantal paha Hana.


"Hana...."


"Iya," sahut Hana yang masih fokus kepada gawainya.


"Hey, lihat aku," pinta Aries.


"Iya, Kenapa?" Hana tetap fokus ke handphonenya dan tidak mengalihkan pandangannya.


Aries mendengus melihat Hana yang begitu fokus ke handphonenya daripada dirinya yang sedang tiduran di pangkuannya.

__ADS_1


"Lagi lihat apa sih, dari tadi aku di cuekin!" ketus Aries yang kesal karena Hana mengabaikannya.


"Ada apa sih," ucap Hana malas.


"Aku tuh di sini, bukan di handphone kamu," sungut Aries kesal.


"Iya iya, maaf. Mau ngomong apa memangnya?" jawab Hana yang sembari meletakkan handphonenya di sofa.


" Aku tuh kangen sama kamu, tau." Ucapnya manja.


"Aku pikir mau ngomong apaan. Lagian buat apa kangen-kangenan, toh kita setiap hari ketemu."


"Memang kita bertemu setiap hari, tapi aku kangen ingin di manja sama kamu."


" Kamu tuh," cibir Hana. "Sekarang tuh bukan waktunya yang tepat, kita harus fokus dengan kesembuhan Aisyah. Aku ingin Aisyah sehat kembali dan bisa berkumpul dengannya. Kamu tau sendiri, kalau aku sangat menantikan momen ini. Aku sudah terlalu lama berpisah dengan Ais."


"Ya iya."


Aries pun bangun dari tidurannya dan duduk seraya menarik tubuh Hana ke dalam dekapannya.


"Hana, aku ingin secepatnya kita menikah," cetus Aries.


"Menikah?"


"Iya, kamu mau kan menikah denganku. Apalagi sekarang sudah ada Ais yang harus kita rawat bersama."


" Tapi----"


" Tapi Kenapa? apa kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Aries.


"Bukan begitu, tapi saat ini aku mau fokus kepada kesembuhan Ais dulu. Setelah itu kita bisa bicarakan lagi nanti."


"Apa kamu tidak mencintaiku?"


Hana diam dan menatap manik Aries. Sebenarnya Hana ragu akan hatinya terhadap Aries. Hana yang pernah gagal menjalin bahtera rumah tangga bersama Anton harus kandas lantaran dirinya yang di nyatakan hamil anak orang lain dan harus merasakan siksaan lahir dan batin dari Anton. Sedangkan Hana harus berpikir ribuan kali jika ingin melangkah ke yang lebih serius. Bukan apa-apa, Hana hanya takut. Takut akan kegagalan lagi dan akan banyak yang kecewa lagi yaitu kedua orang tuanya.

__ADS_1


Maaf, Aries. Untuk sementara, biarkan kita seperti ini dulu. Jika memang kita berjodoh, pasti kita akan bersatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan.


__ADS_2