
Saat ini Aries sudah tiba di perusahaan The Star Grup di temani oleh Syam, mereka akan membicarakan apa yang tadi di bicarakan lewat sambungan telpon.
"Informasi apa yang kamu dapatkan, Syam?" tanya Aries seraya menyeruput secangkir kopi.
Syam berdehem, sebelum memulai pembicaraannya dengan sang bos. Mereka akan membicarakan tentang Aisyah.
"Nona muda Aisyah di jual oleh mantan suaminya nona Hana yang bernama Anton, dan tuan Adam Adaskhan yang membeli nona muda Aisyah. Selama tinggal bersama tuan Adam, nona muda Aisyah selalu di manja oleh tuan Adam bahkan tuan Adam lebih menyayangi nona muda Aisyah dari pada anak dari istrinya yaitu Marshall. Tapi ... semenjak tuan Adam meninggal, nona muda Aisyah selalu di perlakukan tidak baik oleh istrinya tuan Adam. Satu hal yang tuan harus tahu, kalau ternyata tuan Adam memberikan tujuh puluh persen harta warisannya untuk nona muda Aisyah dan istri tuan Adam hanya mendapatkan tiga puluh persen dari harta warisan tuan Adam. Akan tetapi istri tuan Adam tidak setuju dan ingin menguasai seluruh harta tuan Adam. Sampai sekarang pengacara dari tuan Adam masih mempertahankan hak nona muda Aisyah, agar tidak di ambil alih oleh istri dari tuan Adam."
Aries manggut-manggut mendengarkan informasi yang di sampaikan oleh Syam.
"Kalau begitu, kita harus segera bertemu dengan pengacara dari almarhum tuan Adam," pungkas Aries yang menatap Syam datar.
"Baik tuan, akan saya atur pertemuan dengan pengacara dari tuan Adam."
"O iya, kamu tau kenapa tuan Adam meninggal?" tanya Aries penasaran, sedangkan terakhir kali bertemu dengan Adam di kantornya. Beliau dalam keadaan sehat-sehat saja dan tak terlihat seperti orang sakit.
"Tuan Adam meninggal karena ketabrak mobil, saat akan menyelamatkan nona muda Aisyah yang sedang bermain sepeda," terang Syam.
"Kamu tahu, siapa yang menabraknya?"
"Belum tuan. Jika tuan ingin mengusutnya, saya akan lakukan." Tawar Syam.
"Ya, tolong kamu usut. Siapa yang menabrak tuan Adam. Bagaimanapun, beliau adalah orang yang berjasa untukku dan juga Hana. Tanpa tuan Adam, mungkin putriku tak akan merasakan kebahagiaan."
"Baik tuan, akan saya lakukan."
"Apa ada lagi tuan?" tanya Syam, sebelum meninggalkan ruang kerja Aries.
__ADS_1
"Untuk sementara itu dulu," sahut Aries.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Syam bangkit dari duduknya dan membungkukkan sedikit tubuhnya, setelah itu Syam meninggalkan ruang kerja Aries.
Aries bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah jendela kaca sembari menatap pemandangan kota Jakarta di malam hari.
Aries menarik nafasnya, dan memejamkan matanya.
Terima kasih tuan Adam, karena sudah bersedia merawat putriku dengan penuh kasih sayang. Terima kasih sudah menjaga putriku dengan segenap raga anda dan bahkan anda bersedia menyelamatkan putriku dari bahaya, meski nyawa anda taruhannya. Semoga Tuhan membalas kebaikan anda dan semoga anda di tempatkan di sisi-Nya.
Tring
Satu pesan masuk ke handphonenya yang berada di atas meja. Aries melangkah dan mengambil handphonenya. Aries tersenyum karena Hana mengirim pesan singkat kepadanya, dan segera Aries membuka chat dari Hana.
Hana :
Aries :
Tolong, kamu tenangkan Ais dulu. Aku akan segera ke rumah sakit, saat ini aku masih berada di kantor.
Setelah membalas pesan untuk Hana, Aries memasukkan handphonenya ke saku kemejanya dan meraih kunci mobilnya, kemudian Aries keluar dari ruang kerjanya. Dengan langkah lebar Aries berjalan keluar dari perusahaannya dan segera naik ke mobilnya.
***
Di tempat yang berbeda, tepatnya di sebuah gudang penyimpanan barang. Seorang lelaki tengah memarahi anak buahnya karena gagal menangkap seseorang.
Plak
__ADS_1
Bugh
"Ampun bos...." ucapnya meringis karena mendapat pukulan bertubi-tubi dari Doni.
Mereka yang di pukul oleh Doni adalah anak buahnya yang di suruh mencari anaknya yang kabur dari rumah.
"Dasar kalian tidak becus!! Di suruh tangkap satu anak saja kalian tidak bisa!" Hardik Doni yang menatap nyalang terhadap kedua anak buahnya.
Kedua anak buahnya hanya menundukkan kepalanya dan tak berani mengangkat kepalanya, apalagi membantah omongan tuanya yang sedang emosi.
"Maaf, bos. Kami akan mencarinya lagi," pungkasnya.
"Cih!! Sekarang, pergi Kalian dari sini. Ingat, jika kalian sudah menemukan anakku, segera kalian tangkap anakku dan jangan sampai gagal lagi," perintah Doni tegas dengan tatapan tajam.
"Baik, bos." Keduanya mengangguk, kemudian kedua anak buahnya meninggalkan Doni sendirian sembari meringis menahan sakit akibat pukulan dari Doni.
Doni mendengus menatap anak buahnya yang pergi meninggalkan dirinya. Setelah itu, Doni pergi dari sana.
"Hey, kalian. Saya mau pergi dulu, ingat kalian harus terus berjaga dan jangan sampai ada yang berani masuk ke tempat ini." Perintah Doni kepada para anak buahnya yang berada di luar gudang sembari bermain catur.
"Baik, bos," ucap anak buah Doni serempak sembari menganggukkan kepalanya.
Doni bergegas pergi dari gudang tersebut dan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari gudang tersebut.
_____________***__________
Jangan lupa tinggalkan like 👍👍
__ADS_1
Salam sayang dari othor 😘😘