
Hana terus menatap wajah cantik Aisyah yang kini sudah di berada di ruang rawat. Hana tak mau melepaskan genggaman tangannya semenjak Aisyah di pindahkan , bahkan Hana tak mau beranjak dari sana.
Rasa bahagia karena Hana berhasil bertemu dengan putri tercintanya yang lama terpisah. Air mata Hana tak henti-hentinya membasahi pipinya, karena rasa bahagia yang sangat membuncah bisa bersama putrinya.
Hana mencium tangan Aisyah kemudian meletakkan tangan Aisyah ke pipinya, seraya memandang wajah cantik Aisyah di selingi dengan senyuman.
"Sayang, cepat bangun, Nak. Ini ibu, ibu sudah sangat rindu ingin memeluk Ais." Sembari mengelus tangan punggung Aisyah.
Aries masuk membawa makanan dan meletakkan makanan tersebut di meja, kemudian mendekati Hana yang tengah duduk menatap Aisyah. Aries mengelus kepala Hana dan Hana mendongak menatap Aries.
"Kamu makan dulu, dari tadi kamu belum makan."
"Aku nggak lapar," sahut Hana yang kini tengah memandangi Aisyah.
"Kamu harus makan, kalau kamu sakit siapa yang akan jaga Aisyah," rayu Aries.
"Tapi aku nggak mau meninggalkan Aisyah walau hanya sebentar. Aku takut kejadian di masa lalu terulang lagi, jika aku lengah dan membiarkan putriku sendirian."
"Kamu nggak usah takut, aku janji akan menjaga Aisyah dengan ketat dan akan berada dalam pengawasanku."
"Tapi tetap saja aku nggak mau meninggalkan barang sejenak pun," kekeuh Hana.
Aries menghela nafasnya, kemudian Aries mengambil kotak makan beserta air mineral dan kembali mendekati Hana.
"Kamu harus makan dan aku suapin."
"Baiklah...."
Aries segera membuka kotak makan dan menyuapi Hana. Dengan telaten Aries terus menyuapi Hana, meski beberapa kali Hana menolak dengan alasan sudah kenyang, tapi Aries terus memaksa Hana menghabiskan makan malamnya.
"Sudah, aku benar-benar sudah kenyang," tolak Hana saat Aries akan menyuapinya lagi.
"Baiklah," jawab Aries mengalah, kemudian Aries menghabiskan makanan tersebut.
Setelah membereskan kotak makan dan membuangnya, Aries kembali mendekati Hana dan duduk di tepi ranjang sembari menatap wajah putrinya.
"Putri kita sangat cantik dan persis seperti kamu," ucap Aries.
__ADS_1
"Aku tau, karena aku ibunya," sahut Hana.
Aries tersenyum dan mengelus pipi Hana, " Aku janji akan menjaga kalian berdua dengan sepenuh hatiku, aku nggak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian berdua, karena sekarang kalian adalah hidupku."
Aries mengecup kening Hana kemudian Aries juga. mengecup kening Aisyah juga mencium pipi Aisyah penuh kasih sayang. Bahkan sampai detik ini Aries tak percaya kalau dirinya sudah memiliki buah hati. Putrinya yang pernah dia tolong dan Aries tak bisa memungkiri kalau hatinya sangatlah bahagia memiliki seorang anak.
***
Sudah tiga hari Aisyah di rawat dan Aisyah masih betah memejamkan matanya. Bahkan Hana terus berada di sisi Aisyah, Hana benar-benar tidak mau meninggalkan Aisyah dari sisinya. Rasa takut kehilangan seperti dulu, membuat Hana tak mau meninggalkannya meski Aries sudah mengatakan kalau dirinya memberikan pengawasan yang ketat. Bahkan Aries sudah menempatkan tiga anak buahnya menjaga kamar rawat Aisyah.
"Sayang, cepatlah bangun. Ibu mohon buka mata kamu sayang, ibu sudah sangat merindukan Ais dan ibu ingin sekali memeluk Ais. Apa Ais nggak rindu sama ibu?"
Tok tok tok
"Permisi, Bu. Kita mau periksa keadaan pasien," ucap dokter.
"Iya, silahkan."
Hana bergeser dan memberi ruang untuk dokter, agar dokter lebih leluasa mengecek keadaan Aisyah.
"Bagaimana dok, keadaan anak saya?"
Hana tersenyum dan lega mendengar penuturan dokter, kalau keadaan Aisyah mulai membaik.
"Kalau begitu kita permisi dulu," pamit dokter.
"Iya dok, silahkan dan terima kasih," ucap Hana sopan.
Setelah dokter pergi, Hana kembali mendekati Aisyah dan mencium kening Aisyah penuh kasih sayang.
"Sayang ... Ais dengarkan kalau dokter mengatakan kalau Ais mulai membaik, jadi ibu mohon buka mata kamu sayang," pinta Hana.
"Hana!" panggil Aries yang baru masuk.
"Gimana keadaan Aisyah, tadi aku lihat dokter habis dari sini."
"Kata dokter keadaan Aisyah ada kemajuan dan kita tinggal menunggu Ais bangun."
__ADS_1
Kemudian Aries merengkuh tubuh Hana dan mencium kepala Hana.
"Istirahatlah, sudah beberapa hari kamu kurang tidur, biar aku yang menjaga anak kita," pinta Aries.
Hana menggeleng, "Aku tetap ingin berada di dekat Ais, aku ingin orang yang pertama yang di lihat Ais saat Ais bangun."
" Gini saja." Aries duduk di kursi dekat ranjang Aisyah dan menarik tubuh Hana agar duduk di pangkuannya.
"Tidurlah di pangkuanku, aku akan menjaga kalian berdua. Jika nanti Ais siuman, aku akan membangunkan kamu."
"Tapi...."
" Tidak ada penolakan, tidurlah!" tegas Aries.
Dengan berat hati Hana mulai memejamkan matanya, dan tidur di pangkuan Aries. Lamat-lamat, Hana tertidur di pangkuan Aries, karena rasa lelah menjaga Aisyah.
Lama Hana tidur di pangkuan Aries dan Aries sibuk dengan handphonenya berbalas pesan dengan Syam.
"Haus...." lirih Aisyah yang bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
Aries terhenyak mendengar suara lirih Aisyah yang kini mulai mengerjapkan kelopak matanya.
"Hana ... bangun, Aisyah sudah sadar." Tepuk punggung Hana.
"Hmm...."
"Bangun, Aisyah sudah siuman," katanya lagi.
Hana langsung membuka matanya sempurna saat Aries mengatakan kalau Aisyah sudah sadar, dan Hana segera turun dari pangkuan Aries.
"Sayang, kamu sudah sadar, Nak," seru Hana dengan mata berbinar.
Aisyah perlahan membuka matanya dan menatap langit-langit kamar rawatnya, kemudian pandangannya mulai mengarah ke Hana dan Aries.
Hana tersenyum bahagia, saat Aisyah membuka matanya dan Hana langsung mencium seluruh wajah Aisyah di selingi dengan tetesan air mata.
"Sayang, akhirnya kamu bangun, Nak."
__ADS_1
Hana benar-benar bahagia, bahkan Hana tak bisa mendefinisikan rasa bahagianya itu. Hana terus berucap rasa syukur karena Aisyah sudah sadar dari tidurnya.