Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 22


__ADS_3

Di tempat lain.


Seorang wanita yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, kini tersenyum sumringah karena bisa merasakan kembali hidup normal seperti dulu lagi. Sudah cukup baginya merasakan kepahitan dalam hidupnya. Sekarang, di hari ini dia harus bangkit dan memulai kehidupan yang baru.


Wanita itu adalah HANA AZZUHRA. Semenjak kehilangan buah hatinya, Hana langsung depresi akut karena merasa kehilangan bayinya. Setahun sebelum di masukan ke rumah sakit jiwa, Hana selalu kabur dari rumah dan selalu merebut bayi siapapun. Sehingga membuat para warga resah dengan perilaku Hana yang selalu merebut bayi orang, dan semua warga melaporkan Hana ke RT agar Hana di rawat saja di rumah sakit jiwa.


Bagaimana dengan Anton?. Tentu saja Pak Rusli langsung lapor polisi dan Anton di jebloskan ke penjara, sehari setelah pelaporannya di terima oleh pihak kepolisian, sedangkan Diah hanya di nyatakan sebagai saksi. Anton mendapatkan hukumannya di penjara hanya setahun, karena di bantu oleh pengacara yang di bayar orang tuanya.


Meskipun Anton sudah di jebloskan ke penjara, Anton tetap bungkam saat Pak Rusli menanyakan kepada siapa Anton menjual cucunya. Setelah bebas dari penjara, Anton langsung menceraikan Hana ke pengadilan agama.


"Na...." Sapa Pak Rusli saat Hana sudah berdiri di hadapannya.


Pak Rusli dan Hasan menjemput Hana dari rumah sakit jiwa. Pak Rusli sangat lega setelah mendapatkan kabar bahwa Hana sudah di nyatakan sembuh total dari depresinya.


Hana tersenyum melihat Bapaknya dan Hasan. Mereka datang untuk menjemputnya pulang ke rumah.


"Bapak!" seru Hana yang mulai meneteskan air matanya, lalu Hana memeluk Bapaknya. Rasa rindu terhadap keluarganya mulai memudar berganti rasa hangat menghampiri relung hati Hana.


Pak Rusli mengelus punggung Hana yang bergetar karena tangisannya. Pak Rusli tersenyum bahagia karena Hana benar-benar sudah sembuh dan sehat seperti dulu lagi.


Hana melerai pelukannya dan mencium tangan Pak Rusli. "Maafin Hana yang sudah banyak merepotkan Bapak dan Ibu," ucap Hana masih dengan tangisannya.


"Sudah lupakan dan ayo kita pulang, Ibu sudah menanti Na di rumah. Bahkan Ibu sudah memasak makanan kesukaan, Na!" Timpal Pak Rusli.


Hana mengangguk dan segera menghapus air matanya.


***


Ibu Dumiya sudah berulang kali keluar masuk ke dalam rumahnya. Ibu Dumiya benar-benar sudah tidak sabar menunggu kedatangan putri tercintanya.


"Bu, lebih baik Ibu duduk saja," ujar Rossiyana.


Ibu Dumiya menghela nafasnya, dan menuruti perkataan menantunya. Akan tetapi pandangan Ibu Dumiya tetap tertuju ke arah pintu bahkan kaki kirinya terus di getarkan karena saking tak sabar ingin bertemu dengan Hana.


"Sabar, Bu. Sebentar lagi mereka akan tiba di rumah." Ucap Rossiyana.


"Ya...."


Tidak lama terdengar suara mobil yang kini sudah terparkir di depan rumah. Ibu Dumiya yang memang sejak tadi menanti kedatangan Hana, langsung menyongsong ke depan. Detak jantung Ibu Dumiya semakin cepat, saat netranya menangkap Hana yang sudah turun dari mobil. Mata Ibu Dumiya berkaca-kaca dan segera berjalan cepat ke arah Hana, lalu Ibu Dumiya langsung memeluk Hana dengan perasaan yang campur aduk.

__ADS_1


Tangis Ibu Dumiya pecah di pelukan Hana, begitupun dengan Hana. Keduanya menangis menumpahkan rasa sesak yang selama ini membelenggu hati keduanya.


"Ibu...." lirih Hana.


Sedangkan Ibu Dumiya tak mampu menjawab karena saking bahagianya melihat kondisi Hana sudah jauh lebih baik, bahkan benar-benar sudah sembuh.


"Ayo, kita masuk dulu, Bu!" ajak Pak Rusli.


"Iya...ayo, Nak." Ucap Ibu Dumiya sambil menyeka air matanya.


Semuanya masuk ke dalam rumah, Hana mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumahnya. Tidak ada yang berubah saat terakhir kali dia meninggalkan rumahnya. Seketika hati Hana mencelos saat menatap ke arah kamarnya, mengingat sang buah hatinya.


"Ibu sangat bahagia, Na bisa kembali seperti dulu lagi. Ibu berharap, Na tetap sehat dan tidak depresi lagi."


" Insyaallah, Bu. Na nggak akan mengalaminya lagi. Kata dokter yang menangani, Na. Na benar-benar sudah sembuh total, jadi Ibu tidak usah risau dengan keadaan Na."


"Ibu berharap juga begitu," ucap Ibu Dumiya seraya menyeka air matanya yang terus mengalir ke pipinya.


"Bu!, biarkan Hana istirahat dulu." Ujar Pak Rusli.


"Ya, Pak."


"Ya, Bu."


Hana bangkit dari duduknya, dan berjalan pelan ke arah kamarnya. Hana masuk ke kamarnya, dan menutup pintunya. Hati Hana mencelos melihat tempat tidurnya, mengingat kembali saat indah kebersamaan dengan buah hatinya. Hana meneteskan air matanya, rasa sesak terus Hana rasakan jika berhubungan dengan buah hatinya.


Hana berbaring dan berusaha melupakan kejadian di masa lalu, dan Hana mulai memupuk kembali semangat hidupnya serta Hana akan terus mencari informasi tentang buah hatinya.


***


Sore harinya, Hana akan berbelanja ke warung. Tapi semua tatapan para warga masih merasa waspada, takut kalau Hana belum sembuh dan berbuat onar lagi.


" Hana!, benar ini Hana!" seru temannya yang bernama Titin.


Hana mengangguk, " Ya Allah, Na. Kamu sudah sembuh!, kapan kamu pulang?" tanya Titin senang melihat Hana kembali sembuh seperti dulu lagi.


"Tadi pagi, kamu habis dari mana?" tanya Hana basa basi.


"Aku mau pulang. O...iya, Na aku mau bicara sama kamu tentang keberadaan anak kamu," ucap Titin.

__ADS_1


"Kamu tahu dimana anakku?" tanya Hana serius.


" Hanya sedikit yang aku tau, tapi kita bicaranya jangan di sini, kita bicara di rumahku saja." Ajak Titin


"Baiklah, ayo."


Kini Hana dan Titin sudah berada di rumah Titin. Titin mengajak Hana masuk ke dalam rumahnya dan menyuguhkan minuman untuk Hana.


"Sekarang kamu ceritakan." Pinta Hana tak sabaran.


"Sebenarnya aku sudah lama ingin membicarakan ini sama kamu, tapi melihat kondisi kamu waktu itu aku mengurungkan niatku. Aku tahu soal ini karena adiknya Anton adalah teman adikku dan adiknya Anton selalu bercerita tentang keluarganya termasuk anak kamu."


"Terus," sahut Hana.


"Dia bilang, Anton menjual anak kamu ke pengusaha Asuransi yang cukup terkenal di Jakarta. Tapi masalahnya adiknya Anton juga tidak tahu alamat rumah pengusaha itu. cuman yang dia tahu dia tinggal daerah Jakarta timur."


"Coba kamu desak adik kamu, agar adiknya Anton mau mengorek informasi alamat rumah pengusaha itu." Pinta Hana memelas.


"Baiklah,akan aku coba bicara dengan adikku dan semoga berhasil."


***


Keesokan harinya, saat Hana selesai menjemur pakaiannya. Hana mendapatkan pesan dari Titin.


Titin :


'Na, aku sudah bicara sama adikku kemarin dan katanya pengusaha itu tinggal di kawasan Cibubur, tapi soal alamat jelasnya, adiknya Anton juga tidak tahu.'


Hana :


'Terima kasih informasinya, biar ini jadi tugasku. Kamu tahu siapa nama pengusaha itu?'


Titin :


' Kalau tidak salah Tuan Adaskhan, hanya itu yang aku dapatkan soal informasi dari adikku.'


Hana :


' Terima kasih, Tin. Ini sangat berarti untukku.'

__ADS_1


Tunggu Ibu, sayang. Ibu akan menjemput kamu dan kita akan berkumpul kembali.


__ADS_2