Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 23


__ADS_3

Selesai berbalas pesan dengan Titin, Hana masuk dan menyimpan ember di kamar mandi. Hana segera menemui kedua orang tuanya membicarakan keinginannya untuk kembali ke ibu kota.


Hana langsung duduk di samping Ibunya dan menyentuh lutut Ibunya. Dengan ragu Hana memulai berbicara kepada kedua orang tuanya.


"Bu...Pak, Hana ingin bicara," menjeda kalimatnya. " Hana ingin kembali bekerja ke ibu kota." Hana melirik Ibu dan Bapaknya menunggu respon keduanya.


"Kenapa harus kerja di ibu kota?, di sini juga banyak pekerjaan," jawab Ibu Dumiya yang tak setuju Hana kerja lagi ke ibu kota.


" Hana tau, disini juga banyak lowongan pekerjaan. Tapi, Hana ingin suasana baru. Jujur!, kalau Na terus berada di sini, Na selalu teringat dengan bayinya, Na. Hati Na selalu sesak bila mengingat itu semua." Hana mulai berkaca-kaca mengingat tentang buah hatinya yang entah di mana keberadaannya.


Pak Rusli menghela nafasnya. Beliau tau, rasanya kehilangan walau kita sudah mencoba melupakan semuanya Tapi tetap saja akan selalu terbayang di ingatan.


" Tapi...."


"Sudahlah Bu, biarkan saja Na kerja di ibu kota lagi."


"Tapi Pak!, Hana 'kan baru sembuh. Ibu takut jika--"


"Ibu harus percaya sama, Na. Ibu nggak mau 'kan kalau Na tertekan?. Jadi, tolong izinkan Na buat kerja di ibu kota lagi. Na janji kalau Na akan jaga diri baik-baik."


Ibu Dumiya menghela nafasnya, dan melirik ke suaminya. Pak Rusli menganggukkan kepalanya saat bertemu pandang dengan Ibu Dumiya.


"Baiklah...." Ibu Dumiya terpaksa menyetujui keinginan Hana, meski hatinya tak ikhlas membiarkan Hana pergi jauh hanya untuk merantau.


Hana tersenyum, dan Hana menggenggam tangan ibunya yang sudah mulai keriput.


"Terima kasih, Bu. Kali ini Na nggak akan mengecewakan Ibu dan Bapak," ucap Hana.


"Tapi ingat, Na nggak boleh terlalu berpikir yang berat-berat dan jangan sampai Na tertekan karena pekerjaan Na. Jika sudah capek, cepatlah istirahat." Wejangan Ibu Dumiya.


"Iya, Bu!" seru Hana.


***


Sekarang disinilah Hana, berdiri di terminal. Hana sudah mantap mencari keberadaan putrinya seorang diri, hanya berbekal dengan keyakinan kalau ia akan menemukan putrinya.


" Na, kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Hasan.


Hana mengangguk mantap, "Ya."


"Ya sudah, Na hati-hati selama di ibu kota dan ingat, Na harus bisa jaga diri Na baik-baik. Bukan Mas mengorek luka lama, tapi ini demi kebaikan Na."


"Ya, Mas."

__ADS_1


Hana di antar ke depan pintu bis oleh Hasan, sebelum naik, Hana pamitan dengan Hasan.


Kini bis yang di tumpangi Hana sudah bergerak meninggalkan terminal. Hana ke ibu kota dengan membawa harapan, semoga ia bisa menemukan putrinya dan berharap bisa bersama lagi.


Hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk tiba di ibu kota. bis yang di tumpangi Hana sudah sampai di terminal, Hana 'pun segera turun. Tempat tujuannya adalah ke daerah Cibubur dan setelah itu Hana langsung mencari kontrakan.


Keesokan harinya, Hana mulai mencari pekerjaan. Sudah beberapa tempat Hana datangi, tapi tetap saja belum ada yang menerimanya. Tapi Hana tidak menyerah dan saat sedang berjalan kaki, Hana melihat di selembaran kertas bertuliskan lowongan pekerjaan.


"Aku akan coba melamarnya, siapa tau keterima?" gumam Hana di iringi dengan senyuman.


Hana langsung menuju alamat yang tercantum di kertas itu dan berharap kali ini diterima bekerja.


Di tempat berbeda, Adam sedang menunggu Aisyah pulang sekolah.


"Papa...." teriak Aisyah sambil berlari menghampiri Adam.


"Ais senang, Papa yang jemput," cetus Aisyah dengan senyuman cerianya.


"Kan Papa sudah janji mau jemput Putri Papa yang cantik ini." Sambil mencubit hidung Aisyah.


"Pa!" seru Marshall yang baru tiba di hadapan Adam dan Aisyah.


"Ayo, cepat naik ke mobil." Titah Adam.


"Papa, Ais boleh beli es krim yang di dekat toko roti kesukaan Ais?"


"Boleh!, nanti kita beli es krim di sana."


"Yey...terima kasih Papa." Tubuh Aisyah maju dan mencium pipi kiri Adam dari belakang.


"Sama-sama, sayang," sahut Adam.


Hanya dua puluh menit untuk tiba di kedai es krim. Mereka bertiga turun dan berjalan masuk ke kedai es krim.


"Ais mau rasa apa?" tanya Adam.


"Ais mau rasa vanilla, Pa."


"Marshall?"


"Coklat!" jawab Marshall.


Selesai memesan dan sudah mendapatkan es krim yang mereka inginkan, kini Ketiganya duduk di dekat kaca.

__ADS_1


Saat sedang mengelap mulut Aisyah, Adam mendapatkan telpon dari kantornya dan mengharuskan Adam secepatnya ke kantor.


"Ais, cepat makan es krimnya. Papa harus segera balik lagi ke kantor."


"Tapi es krimnya Ais belum habis?" balas Aisyah yang masih menyuapkan es krim ke mulutnya.


"Makannya di mobil saja!"


"Tapi Papa yang bawa es krimnya." Pinta Aisyah.


"Iya."


Aisyah dan Marshall melangkah lebih dulu, sedangkan Adam berada di belakang keduanya.


Saat itu juga, Hana yang baru saja di terima bekerja di sebuah toko kue yang cukup terkenal tersenyum bahagia.


"Akhirnya, aku di terima bekerja di toko kue ini," gumam Hana sambil melangkah menyusuri pertokoan itu.


Saat akan belok ke arah jalan besar, netra Hana menangkap sosok gadis kecil berlari ke arah mobil. Tiba-tiba hati Hana seperti tertarik magnet, dengan cepat Hana melangkah ke arah mobil yang di naiki oleh gadis kecil itu yang tidak lain adalah Aisyah.


Seketika jantung Hana berdekup kencang saat pandangannya mulai menangkap punggung Aisyah dari jarak yang lumayan jauh. Hana mempercepat langkah kakinya, saat itu juga Adam keluar sembari membawa es krim milik Aisyah. Adam melangkah sembari memasukan dompetnya ke saku celananya dan juga Hana yang pandangannya tertuju kepada punggung Aisyah, sehingga Adam dan Hana saling bertabrakan. Es krim yang di pegang oleh Adam tumpah ke baju Hana.


"Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Adam yang ikut membantu Hana membersihkan tumpahan es krim di bajunya.


"Iya, nggak apa-apa. Saya juga salah," timpal Hana.


"Aduh... gimana ini, baju anda kena tumpahan es krim?" Ada rasa tak enak di hati Adam saat es krim itu mengotori baju Hana.


"Oh, nggak apa-apa!, nggak jadi masalah kok," sahut Hana sembari tersenyum dan menampilkan lesung pipinya.


Kenapa wanita ini jika di perhatikan lama-lama, ada kemiripan dengan Aisyah. Apa jangan-jangan?, tapi mana mungkin?. Bukannya ibu kandung Aisyah itu bernama Diah.


Dering handphone Adam membuyarkan lamunannya.


"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Adam tulus.


"Iya..."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Ya, silahkan." Ucap Hana sembari menganggukkan kepalanya. Lalu pandangan Hana kembali ke arah mobil yang di naiki Aisyah, tapi sayangnya pintu mobilnya sudah tertutup dan juga mobilnya sudah mulai meninggalkan parkiran mobil.


"Apa itu cuma perasaanku saja ya?"

__ADS_1


__ADS_2