Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 40


__ADS_3

Di sebuah kamar yang bernuansa pink bergambar hello Kitty, Aisyah tengah menggambar. Aisyah begitu serius mencoret-coret buku gambarnya.


"Yey ... akhirnya selesai juga gambarnya, sekarang tinggal di warnai," ucap Aisyah.


Kemudian, Aisyah mencari crayon, tapi Aisyah tak menemukannya. Aisyah mencoba mengingat di mana terakhir kali memakainya.


"Ah, Ais ingat. Terakhir Ais pakai di kamar papa."


Aisyah bergegas ke kamar Adam yang sekarang di tempati oleh Marisa dan Doni. Aisyah membuka pintu kamar utama dan mencari crayon. Aisyah membuka setiap laci tapi Aisyah tidak menemukan apa yang di carinya. Pandangan Aisyah tertuju ke meja rias Marisa.


"Tinggal laci ini yang belum di periksa," gumam Aisyah.


Aisyah segera membuka laci yang paling atas, tapi Aisyah belum menemukannya, lalu Aisyah membuka laci yang ke dua. Senyum Aisyah terbit saat apa yang di carinya ada. Saat itu juga, Marisa datang dan betapa terkejutnya melihat Aisyah tengah membuka laci yang ada perhiasannya.


"Kamu lagi ngapain?" sentak Marisa curiga.


"Ais cuma mau mengambil crayon, Ma," jawab Aisyah jujur.


"Kamu mau mencuri perhiasan Mama ya!" Desak Marisa seraya memandang Aisyah tajam.


" Nggak ma, Ais nggak mencuri."


" Halah, mana ada maling ngaku. Terus kamu ngapain buka-buka laci! " hardik Marisa yang mulai naik pitam.


"Beneran ma ... Ais nggak bohong, Ais hanya mau cari crayon," jujur Aisyah dan kini matanya mulai berkaca-kaca.


"Ada apa ini?" tanya Doni yang baru masuk.


"Ini mas, si anak pungut mau mencuri perhiasanku," sahut Marisa sembari menatap Aisyah sinis.


"Oh, kalau begitu kurung aja di gudang, biar ini anak kapok," timpal Doni.


"Bagus juga ide kamu mas."


Marisa tersenyum menyeringai dan menarik tangan Aisyah secara kasar, sedangkan Aisyah sudah mulai menangis. Marisa terus menyeret Aisyah dan tak peduli dengan tangisan Aisyah.


Sedangkan mba Ijah dan bik Nunik yang melihat Aisyah di seret hanya bisa memandang iba dengan nasib Aisyah yang kini penuh dengan air mata.


Kasihan Non Aisyah, sekarang hidupnya tak sebahagia dulu. Sangat berbeda jauh ketika tuan Adam masih hidup. Semoga suatu saat non Aisyah bisa bertemu dengan ibu kandungnya dan hidupnya bahagia. Aamiin. Batin bik Nunik.

__ADS_1


Marisa dan Aisyah sudah tiba di depan pintu gudang. Marisa segera membuka pintu gudang yang gelap dan berdebu, kemudian Aisyah di seret masuk.


"Malam ini kamu tidur di gudang," ucap Marisa yang tidak memperdulikan tangisan Aisyah yang semakin pilu.


"Ma ... Ais mohon, jangan hukum Ais. Ais nggak mau tidur di sini," ucap Aisyah memelas.


Akan tetapi Marisa malah mendorong tubuh kecil Aisyah, sampai Aisyah tersungkur ke lantai. Kemudian Marisa keluar dan mengunci pintu gudang.


Aisyah yang melihat Marisa menutup pintu segera bangkit dan berlari tapi sayang, pintunya sudah di tutup dan juga sudah di kunci dari luar.


"Ma! Ais mohon buka pintunya...." teriak Aisyah sembari menggedor-gedor pintunya.


"Ma...."


Tangis Aisyah semakin pecah dan sangat memilukan.


"Hiks ... hiks ... Papa, tolong Ais. Ais nggak mau tidur di sini," lirih Aisyah dengan derai air matanya yang begitu menyayat hati.


Setelah mengunci pintu gudang, Marisa tersenyum jumawa, dan segera kembali ke kamarnya. Saat melewati dapur, Marisa menatap kedua Art-nya dengan tatapan tajam.


"Jangan ada yang berani membuka pintu gudang, ngerti kalian." Marisa memperingati mba Ijah dan bik Nunik.


"Bagus! awas saja kalau di antara kalian ada yang membukakannya, saya pastikan akan langsung memecat kalian tanpa gaji." Ancam Marisa.


Setelah itu memperingati kedua Art-nya, Marisa meninggalkan ruang dapur dan melanjutkan langkahnya ke kamar.


Mba Ijah dan bik Nunik hanya bisa mengelus dada dan berharap Aisyah akan baik-baik saja.


Maaf, non. Mba nggak bisa bantu non. Semoga non bisa melewati malam ini dengan sabar. Ya Allah, hamba mohon beri kekuatan untuk non Aisyah melewati ini semua.


Di lantai yang dingin, gelap dan juga berdebu. Aisyah meringkuk di dinginnya lantai gudang tanpa alas apapun. Aisyah yang malang hanya bisa meratapi kesendiriannya, pikirannya melayang dan mengingat semua momen indah saat bersama sang papa tercinta.


"Papa ... Ais kangen sama Papa," gumam Aisyah yang mulai memejamkan matanya.


***


"Aisyah ... sayang, bangun. Ini papa datang menemui Ais."


Aisyah bangun dan langsung memeluk Adam yang sangat di rindukannya itu dengan suka cita.

__ADS_1


"Papa, Ais kangen sama papa. Ais mohon jangan tinggalkan Ais lagi," ucap Aisyah dengan penuh pengharapan.


Adam tersenyum teduh dan mendudukkannya di pangkuannya seraya membelai lembut pipi Aisyah.


"Pa...."


"Hm ... kenapa, sayang?"


"Ais mau ikut sama papa aja, Ais nggak mau sendirian. Ais nggak mau tinggal sama mama Marisa," adu Aisyah.


"Ais, dengarkan Papa. Ais harus kuat ngejalani ini semua, suatu saat nanti Ais akan bertemu sama orang yang akan menyayangi Ais melebihi dirinya sendiri. Jadi, Ais harus sabar, karena seseorang sedang menanti Ais. Makanya Ais nggak boleh cengeng dan harus kuat dan juga nggak boleh menyerah. paham sayang."


Aisyah mengangguk, " Pinter anak papa," ucap Adam sembari tersenyum menatap wajah imut putrinya.


"Sekarang, Ais tidur lagi ya. Papa temenin di sini dan jangan takut lagi."


Aisyah memejamkan matanya sembari memeluk hangat tubuh Adam, sedangkan Adam terus mengelus punggung Aisyah agar cepat tertidur.


Aisyah menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya, perlahan Aisyah membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya. Aisyah yang tidur di lantai segera duduk.


"Papa!" panggil Aisyah.


"Ternyata Ais cuma mimpi," ucapnya sedih.


Aisyah kembali merebahkan diri di lantai yang dingin, Aisyah yang malang kembali menangis mengingat mimpinya yang bertemu dengan papa Adam.


Aisyah saat ini hanya berteman dengan kesunyian dan bersahabat dengan gelapnya gudang tanpa seorangpun yang tau kesedihan yang di rasakannya.


Tangisan Aisyah semakin menyayat hati, tatkala tak ada tempat untuk bersandar sekedar sebagai obat pelipur lara hatinya.


Ya Allah, beri Ais kekuatan agar Ais bisa menjadi anak yang di banggakan oleh papa. Ya Allah , kirimlah malaikat untuk menjaga Ais, seperti ibu peri. Ais mohon ya Allah.


Aisyah terus bersabar menanti pintu gudang di buka, bahkan Aisyah tak tahu di luar sudah pagi atau masih malam.


"Ais sudah lapar lagi," keluh Aisyah menyentuh perutnya sembari menyenderkan tubuh kecilnya ke tembok sembari menatap pintu dan berharap ada yang membuka pintunya.


Akan tetapi yang di harapkan Aisyah hanyalah semu, tak ada seorangpun yang membukakan pintu gudang. Bahkan Marshall yang biasanya selalu ada untuknya tak nampak membantunya.


Aisyah hanya terus berharap dan terus berharap, sampai-sampai rasa katuk mulai menyerangnya lagi dan tertidur sembari menyenderkan tubuhnya di tembok.

__ADS_1


__ADS_2