
Kesedihan Aisyah sudah mulai berkurang, dan sekarang wajah Aisyah mulai ceria lagi. Bahkan Marshall benar-benar memenuhi janjinya kepada Papa Adam, yaitu menjaga Aisyah dan selalu membuat Aisyah selalu tersenyum ceria.
Seperti sekarang ini, Marshall mengajak Aisyah bermain petak umpet. Aisyah bertugas bersembunyi sedangkan Marshall mencari Aisyah.
"Ketemu!!" seru Marshall.
"Ya ... ketemu lagi deh." Aisyah langsung mengerucutkan bibirnya dan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sekarang giliran, Ais yang jaga," kata Marshall di selingi senyum kemenangan.
"Ya...." ucap Aisyah tak bersemangat.
Aisyah mulai menghitung dan menutup kedua matanya, sedangkan Marshall berlari dan mencari tempat untuk bersembunyi.
"Delapan, sembilan, sepuluh!" Selesai Aisyah menghitung. Aisyah langsung mencari Marshall ke setiap sudut ruangan. Aisyah terkadang harus memanjangkan lehernya hanya untuk mencari tempat persembunyian Marshall.
"Abang...." panggil Aisyah.
Saat sedang mencari Marshall, tangan Aisyah tak sengaja menyenggol Gucci kesayangan Marisa. Sehingga Gucci tersebut terjatuh dan pecah berserakan. Marisa yang sedang menuruni tangga bersama Doni langsung mempercepat langkah kakinya.
Marisa terbelalak melihat Gucci kesayangannya pecah, kemudian pandangan Marisa mengarah ke Aisyah yang tengah berdiri ketakutan di dekat meja.
"Aisyah!" bentak Marisa sembari menggeram kesal.
"Ma-maaf, Ma ... Ais nggak sengaja," ucap Aisyah sembari menundukkan kepalanya.
"Maaf-maaf, kamu tahu nggak! itu Gucci harganya sangat mahal. Malah kamu pecahin!"
Aisyah diam tak berani membantah apalagi mengangkat kepalanya.
Dari kejauhan Marisa melihat kemoceng yang tergeletak di atas nakas, sejurus kemudian Marisa mengambil kemoceng tersebut.
"Sini kamu!" Marisa menarik paksa tangan Aisyah, kemudian Marisa memukul tubuh mungil Aisyah menggunakan kemoceng.
"Aduh, Ma ... sakit, Ma!" jerit Aisyah mengaduh kesakitan. Tapi bukannya berhenti Marisa semakin terus memukul tubuh Aisyah.
"Ampun Ma, sakit. Hiks ... hiks...."
"Kamu tahu, Mama pesan Gucci itu dari Singapura langsung tapi kamu malah mecahin!" bentak Marisa masih dengan memukul Aisyah.
Sedangkan para Art hanya bisa menyaksikannya tanpa bisa menolong Aisyah. Para Art tahu betul watak Marisa, jika membangkang maka mereka akan di pecat tanpa gaji.
"Stop, Ma!" teriak Marshall dan langsung berlari ke arah Aisyah yang tengah meraung kesakitan.
__ADS_1
Marshall langsung merengkuh tubuh Aisyah dengan tatapan nyalang terhadap Mamanya. Marisa langsung berhenti memukul Aisyah dan membuang kemoceng tersebut ke sembarang arah dengan dada naik turun karena kesal.
"Mama kok tega memukul Ais!" geram Marshall.
"Karena anak pungut ini sudah mecahin Gucci kesayangan Mama!"
"Tapi nggak harus mukul Ais juga, Ma!"
"Sudah sayang, Jangan di perpanjang lagi. Kamu kan sudah memberi hukuman yang pantas buat si anak sial itu," ucap Doni menenangkan kemarahan Marisa.
"Jaga ucapan, Om! Ais itu bukan anak sial," bentak Marshall yang tak terima Aisyah dikatakan anak sial.
"Marshall!" Marisa membentak Marshall dengan tatapan tajam.
"Sudah-sudah, lebih baik kita pergi saja. Ayo kita pergi." Ajak Doni kepada Marisa dan melingkarkan tangannya ke pinggang Marisa.
Sepeninggalan Marisa dan Doni, Marshall langsung memapah tubuh Aisyah ke sofa dan memeriksa tubuh Aisyah yang kena pukul. Mata Marshall membola melihat banyaknya luka lebam di sekujur tubuh Aisyah. Hati Marshall langsung teriris dan juga merasa bersalah, sebab dia merasa gagal melindungi Aisyah dari amukan Mamanya sendiri.
"Maafin Abang ya? Abang nggak becus jaga Ais, harusnya Abang lindungi tubuh Ais dari pukulan Mama."
"Abang nggak salah. Memang Ais yang ceroboh," ucap Aisyah sesegukan seraya menyeka air matanya.
Mbak Ijah datang membawa kotak obat dan duduk di samping Aisyah dengan wajah sendu karena tak bisa menolongnya dari amukan Marisa.
"Sini mba obatin lukanya, Non."
Andai tuan Adam masih ada, pasti tuan akan sangat marah melihat putrinya di siksa seperti tadi. Batin Mba Ijah
Mba Ijah sudah beres mengobati luka Aisyah, kemudian Mba Ijah mengajak Aisyah istirahat di kamarnya. Mba Ijah menemani Aisyah beristirahat tapi Aisyah malah memandanginya.
"Mba...."
"Iya, kenapa Non?"
"Sebenarnya Ais anak siapa?" tanya Aisyah dengan tatapan sendu.
"Ais anak Papa Adam," jawab Mba Ijah seraya mengelus Surai hitam Aisyah.
"Tapi kok, Mama selalu bilang kalau Ais anak pungut?"
"Nggak usah di dengarkan apa kata Mama, yang terpenting sekarang Ais bobo ya!"
"Berarti bener kalau Ais bukan anak Mama?" lanjut Aisyah.
__ADS_1
"Mba ceritain dongeng aja ya?"
Mba Ijah mengalihkan topik pembicaraan, dan berharap Aisyah tak bertanya lagi perihal siapa dirinya.
"Ya udah deh," Aisyah terpaksa mengiyakan tawaran dari Mba Ijah.
***
Di sebuah taman yang indah, seorang gadis kecil berlari riang. Angin yang sepoi-sepoi meniup rambut panjang gadis kecil itu dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Dari kejauhan, seorang lelaki dewasa menghampiri gadis kecil itu dan membentangkan kedua tangannya. Gadis kecil itu adalah Aisyah.
Aisyah langsung menubruk tubuhnya ke lelaki dewasa itu dan mencium seluruh wajahnya.
"Papa, Ais kangen sama Papa."
"Papa juga sayang," timpal Adam. Adam langsung memangku tubuh Aisyah.
"Papa jangan pergi lagi ... Ais nggak mau di tinggal sama Papa," lirih Aisyah.
"Kan ada Abang Marshall yang jagain Ais," sahut Adam sembari membenarkan anak rambut Aisyah yang terkena angin.
"Tapi Ais pengen nya sama Papa?"
"Nggak bisa sayang," ucap Adam lembut.
Kemudian Adam menurunkan tubuh Aisyah, dan menatap manik Aisyah.
"Ais, dengarkan Papa. Ais harus jadi anak yang kuat dan Ais harus jadi anak Sholeha. Ais juga nggak boleh jadi anak yang cengeng. Mulai sekarang Ais harus bisa jaga diri Ais sendiri, karena Papa nggak bisa jagain Ais lagi. Paham!"
"Paham, Pa." Sembari menganggukkan kepalanya.
"Jaga diri Ais baik-baik, Papa pergi dulu."
"Papa mau kemana? Ais ikut!" seru Aisyah. Tapi Adam terus melangkahkan kakinya menjauh dari putri tercintanya.
"Papa! Jangan pergi. Ais ikut!" teriak Aisyah berusaha mengejar langkah kaki Adam tapi Tiba-tiba bayangan Adam menghilang dari pandangan Aisyah.
"Papa! jangan pergi! Ais ikut...."teriak Aisyah meraung-raung memanggil papanya.
"Ais ... Ais ... bangun!" Marshall mengguncang tubuh Aisyah agar terbangun dari tidurnya, karena sedari tadi Aisyah terus memanggil Papanya.
Marshall terus membangunkan Aisyah, kemudian Aisyah membuka matanya dan menatap wajah Marshall.
__ADS_1
"Abang...."
Aisyah langsung memeluk Marshall dan menangis sesegukan di pundak Marshall. Marshall hanya bisa mengelus punggung Aisyah yang bergetar karena tangisannya.