
Marshall menatap pusara kedua orang tuanya, dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Marshall berusaha untuk tegar menghadapi kepergian kedua orang tuanya. Aries yang berada di samping Marshall terus menjaga tubuh Marshall yang saat ini belum pulih.
Marshall bersimpuh di pusara papa dan mamanya, Marshall menyentuh nisan sang mama, dan menciumnya dengan berlinang air mata. Marshall berusaha kuat dan ikhlas mengh.adapi kepergian orang yang paling di kasihinya itu. Marshall mengelus nama sang mama penuh kesedihan.
"Ma ... om...." ucapnya tercekat. Aisyah yang selalu menemani Marshall ikut memeluk Marshall dari samping sembari menangis.
"Ma ... semoga Mama bahagia di surga bersama om dan papa. Maafin, Marshall yang selalu nakal, bahkan Marshall selalu membantah perkataan mama. Maafin Marshall, ma...." ucap Marshall sesegukan.
"Marshall ikhlas dengan kepergian Mama sama om. Marshall janji akan jadi anak yang baik. Satu yang harus Mama tau kalau Marshall sangat menyayangi mama," lanjutnya lagi seraya memeluk nisan Marisa dan mengelusnya, sedangkan air matanya terus meluncur bebas tanpa henti.
"Abang...."
Aisyah mengeratkan pelukannya terhadap Marshall. Marshall terisak di pelukan Aisyah.
"Ais ... Abang sayang sama mama. Abang juga sayang sama om." ucapnya di sela Isak tangisnya.
"Ais juga sayang sama mama Marisa dan om Doni."
Semua yang hadir di pemakaman Marisa dan Doni, ikut bersedih melihat Marshall begitu kehilangan orang tuanya.
"Shall, ayo kita pulang. Sebentar lagi akan turun hujan." Ajak Aries lembut seraya menyentuh punggung Marshall.
"Tapi, Marshall masih pengen tetap di sini, om."
"Besok kita kesini lagi," bujuk Hana.
Marshall tak bergeming, Marshall masih terus memeluk nisan sang mama.
"Abang, ayo kita pulang. Jika Abang nggak mau pulang, Ais juga nggak mau pulang. Ais akan nemenin Abang disini."
"Baiklah, Abang ikut pulang."
Dengan berat hati Marshall berdiri, di bantu oleh Aries.
__ADS_1
"Ma ... om, Marshall pulang dulu. Marshall janji besok akan datang lagi menemui Mama sama om."
Aisyah menggenggam tangan Marshall dan ikut melangkah meninggalkan makam Marisa dan Doni.
"Sini naik ke punggung om. Biar om gendong kamu."
Aries langsung berjongkok di depan Marshall, kemudian Marshall melirik Aisyah dan Aisyah hanya mengangguk kecil di sertai senyuman. Marshall langsung naik ke punggung Aries.
***
"Istirahatlah," titah Aries saat tiba di kediamannya dan menyuruh Marshall beristirahat di kamar.
"Terima kasih om. Maaf, Marshall jadi merepotkan om dan tante Hana," ucapnya tertunduk sendu.
Aries mengelus kepala Marshall dengan lembut.
"Bagi om, kamu tidak merepotkan om dan tante Hana, apalagi Ais. Mulai sekarang, om dan tante Hana adalah orang tua kamu. Jadi Marshall jangan sungkan kalau butuh sesuatu dan jangan bersedih, karena om dan tante juga Ais akan selalu ada buat Marshall, kapanpun dan di manapun."
"Sekali lagi, terima kasih om." Aries mengangguk dengan tatapan teduh.
Marshall mengangguk lemah dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Sekali lagi Aries mengelus kepala Marshall, setelah itu Aries meninggalkan kamar Marshall.
Sepeninggalan Aries, Marshall menatap langit-langit kamarnya mengingat kembali kebersamaan bersama kedua orang tuanya, terutama mamanya.
Setetes air mata keluar tanpa permisi. Rasa sesak di dadanya kian bertambah saat kerinduan itu, kini hadir di relung hatinya.
"Mama ... Marshall kangen."
"Marshall tau, pasti om melakukan kejahatan sampai om di kejar-kejar polisi, tapi Marshall juga merindukan om...." gumamnya.
"Semoga Allah memaafkan om. Semoga om di tempatkan di sisi-Nya. Aamiin."
Tok tok tok
__ADS_1
"Abang! Ais boleh masuk."
"Masuklah," sahut Marshall.
Aisyah masuk dan mendekati Marshall yang saat ini tengah berbaring di ranjang. Aisyah naik ke ranjang dan duduk di samping Marshall.
"Kenapa Ais kesini?"
"Ais akan menemani Abang bobo, dan juga Ais akan menjaga Abang. Jika Abang butuh sesuatu Ais langsung siap membantu Abang."
Marshall tersenyum kecil menatap Aisyah yang sudah dia anggap adik kandungnya sendiri.
"Sini." Marshall menepuk kasur di sampingnya, meminta Aisyah tidur di sampingnya.
Aisyah langsung menurut dan merebahkan tubuhnya di samping Marshall.
"Terima kasih, Ais selalu ada buat Abang. Abang senang karena Abang tidak merasa kesepian di saat mama dan om pergi dari hidup Abang," ucap Marshall seraya menatap Aisyah dari samping.
"Ais kan adik Abang. Jadi Ais akan selalu ada buat Abang." Marshall tersenyum kecil dengan perhatian Aisyah.
Marshall mengangkat tangannya ke udara dan meminta tangan Aisyah menautkan jemarinya ke jemari Marshall.
"Mulai sekarang Ais sama Abang selalu bersama dan saling menjaga. Di hidup Abang, hanya Ais yang Abang punya. Ais janji ya, kalau Ais nggak akan meninggalkan Abang."
"Iya, Ais janji. Ais nggak akan ninggalin Abang."
"Sekarang Abang bobo ya, Ais akan menjaga Abang bobo,"
Marshall pun mengangguk dan memejamkan matanya, berusaha menyambut sang peri mimpi dalam tidurnya, tanpa melepaskan genggamannya Aisyah.
_________***_______
Selamat istirahat dan jangan lupa jaga kesehatan.
__ADS_1
Salam sayang dari othor 😘😘