
"Sudah jangan menangis lagi," ucap Marshall lembut sembari mengelus pundak Aisyah.
"Ais, rindu papa, Bang!"
"Iya, Abang tau. Sekarang bobo lagi, biar abang temani," tawar Marshall.
Aisyah mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya dan Marshall menyelimuti tubuh Aisyah. Marshall naik ke tempat tidur dan mengelus kepala Aisyah dengan sayang. Aisyah mencoba memejamkan matanya untuk kembali tertidur.
Pagipun menjelang, matahari pun sudah memancarkan biasnya. Aisyah sudah siap dengan seragam sekolah. Setelah mengecek ulang buku pelajarannya, Aisyah segera turun untuk sarapan.
"Pagi non," sapa Mba Ijah, "Non mau makan sama apa?"
"Sama nasi goreng aja mba," sahut Aisyah.
Mba Ijah segera mengisi piring dengan nasi goreng, kemudian meletakkan di hadapan Aisyah. Tidak lama Marshall datang dan mereka sarapan bersama.
"Marshall, ayo papa antar kamu sekolah, " tawar Doni yang baru muncul bersama Marisa.
"Nggak om, Marshall akan berangkat bersama Ais," tolak Marshall.
Marisa mendengus, anaknya begitu keras kepala. Sudah beberapa kali Marisa mengasih tau kalau Doni adalah papa kandungnya.
"Marshall, kamu harus nurut sama papa kamu. Kamu nggak boleh menolak permintaan papa kamu!" ujar Marisa kesal.
"Dia itu bukan papa aku, Ma. Papa aku adalah papa Adam."
"Marshall!" bentak Marisa.
"Ais, ayo kita berangkat," ajak Marshall dan tak memperdulikan mamanya yang sedang memperingatinya.
Marshall segera mencangklok tasnya di punggung dan menarik tangan Aisyah yang sudah siap dari tadi. Marshall melewati kedua orang tuanya, bahkan Marshall tidak berpamitan.
"Bang, kita harus pamit dulu sama mama dan om." Aisyah mengingatkan Marshall.
"Nggak usah Ais, kita sudah kesiangan."
Marisa yang sudah kesal langsung mengikuti Marshall dan Aisyah. Marisa langsung menarik tangan Marshall secara kasar dan menyeret Marshall ke mobilnya Doni. Sedangkan Doni hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Marisa menghadapi kekeras kepalaan anaknya.
"Ma, buka pintunya!" Marshall menggedor pintu mobil.
Marisa dan Doni segera meninggalkan halaman rumah mereka tanpa mengajak Aisyah yang diam terpaku di tempatnya. Aisyah menatap nanar mobil Doni yang sudah melesat menjauh dari pandangannya.
Aisyah tertunduk seraya meneteskan air matanya. Sebegitu tak pentingkah seorang anak pungut di mata Mama angkatnya.
"Non...." panggil mang Jaja.
Aisyah mendongakkan kepalanya menatap mang Jaja yang sudah siap mengantarnya berangkat sekolah.
__ADS_1
"Ayo berangkat."
Aisyah mengangguk dan segera naik ke mobil yang sudah di buka pintunya oleh Mang Jaja.
Di sepanjang perjalanan, Aisyah hanya diam dan menatap ke luar jendela. Mang Jaja yang melihat Aisyah dari kaca spion hanya menghela nafasnya. Mang Jaja bisa melihat ada kesedihan di mata Aisyah.
Kasihan Non Aisyah, semenjak di tinggal pergi sama tuan, Non Aisyah selalu terlihat murung. Apalagi Nyonya Marisa memperlakukan Aisyah sebagai orang asing dan tak menyayanginya.
Kini mobil yang di kendarai mang Jaja sudah tiba di sekolah. Marshall langsung menyongsong mendekati mobil yang di kendarai oleh Mang Jaja.
"Ais!" panggil Marshall saat Aisyah turun dari mobil.
Aisyah tersenyum saat Marshall menyapanya.
"Maafin Abang, harusnya kita berangkat bersama," sesal Marshall.
"Iya nggak apa-apa, Bang. Lagian Ais di antar sama mang Jaja."
"Tetep aja Abang merasa bersalah karena sudah ninggalin Ais."
"Ais nggak apa-apa kok bang, beneran," ucap Aisyah meyakinkan Marshall.
"Ayo kita masuk bang," ajak Aisyah.
***
Karena tak punya tujuan kemana akan pergi, Hana asal naik kendaraan umum dan kini Hana memilih turun di halte dekat sekolah SD. Hana menyusuri trotoar jalan dan kini pandangannya mengarah ke arah sekolah dimana semua murid berhamburan untuk pulang ke rumah.
Hana terus menatap ke arah sekolah dan kini pandangannya bersitubruk dengan gadis kecil. Mereka berdua terus saling pandang, tiba-tiba hati Hana menghangat dan merasa ada sesuatu menyentuh hatinya dengan gadis kecil yang tengah di tatapnya.
Saat Hana akan mendekati gadis kecil itu, dari arah samping tubuh Hana di tabrak oleh ibu-ibu yang akan menjemput anaknya pulang sekolah.
"Maaf Mba, saya nggak sengaja. Soalnya saya lagi buru-buru menjemput anak saya!" ucap ibu-ibu tersebut.
" Oh ... iya nggak apa-apa, Bu," jawab Hana seraya tersenyum.
Kemudian Hana kembali menatap ke arah dimana gadis kecil itu berada, tapi sayang gadis kecil itu sudah tidak ada di sana. Hana memperluas pandanganya dan mencari anak perempuan yang tadi di lihatnya.
Kok aku merasa anak tadi mirip denganku, apa itu cuman perasaanku saja ya. Tapi kenapa ada sesuatu yang menarik perhatianku saat menatapnya.
Drrtt Drrtt
Suara dering telepon membuyarkan lamunannya, Hana segera mengangkatnya saat tau siapa gerangan yang kini menelponnya, siapa lagi kalau bukan Aries.
" Halo...."
"Lagi dimana?"
__ADS_1
"Di jalan, kenapa?"
"Kita makan siang yuk, aku jemput kamu ya. Kamu share lok dimana kamu berada."
"Oke, aku share lokasi aku."
Kini Hana dan Aries sudah berada di restoran dan keduanya sudah memesan makanan. Sejak tiba di restoran, Hana hanya diam menatap ke luar jendela. Pikirannya sedang tertuju kepada anak kecil tadi yang di lihatnya di sekolah.
"Hana...." panggil Aries sembari mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Hana.
"Eh ... iya, Kenapa?"
"Dari tadi aku ngomong, taunya kamu lagi ngelamun."
"Maaf, aku lagi mikirin orang tuaku," dusta Hana.
"Kenapa dengan orang tua kamu?"
"Nggak kenapa-napa, cuma rindu saja."
"Yakin? bukan lagi mikirin cowok lain?" tanya Aries curiga.
"Ngapain mikirin cowok, kalau yang di pikirkan ada di hadapanku," goda Hana seraya mengulum senyumnya.
Jleb
Hati Aries langsung berbunga-bunga mendengar penuturan Hana, yang menurutnya sudah membuat hati Aries meleleh bak es krim yang terkena sinar matahari.
"Kenapa muka kamu memerah?" tanya Hana.
"Karena kamulah," sahut Aries.
"Aku!, emang aku sudah lakukan apa sampai muka kamu memerah?"
Aries mencubit hidung Hana gemas, " Karena kamu sudah membuat aku meleleh dengan perkataan kamu, kalau kamu selalu memikirkan aku. Itu tandanya kamu suka sama aku."
"Ih, geer. Siapa juga yang suka sama kamu," elak Hana.
"Nggak mau ngaku nih...."
"Memang aku nggak suka sama kamu, kamunya aja yang ke ge'eran."
" Tapi yang aku tangkap dari mata kamu, kalau kamu sebenarnya suka sama aku."
"Sok tau!" tukas Hana.
"Taulah, jadi ayo kita nikah," ajak Aries.
__ADS_1
Hana langsung melototi Aries, kemudian memukul lengan Aries. Sedangkan Aries hanya terkekeh-kekeh menatap wajah Hana yang tengah mendelik seraya mencibir dirinya.