
"Adik!!" Jawab Aries dan Hana bersamaan.
"Iya, ayah sama ibu mau kan, kabulin permintaan Ais." ucap Aisyah antusias saat mengungkapkan keinginannya memiliki adik.
"Tentu saja," jawab Aries dengan senyum smriknya, sembari melirik Hana.
Hana yang mendengar perkataan Aries langsung melototi Aries, tapi Aries tak memperdulikan Hana. Sedangkan Hana gusar di buatnya, ingin rasanya Hana mencubit Aries saat ini juga.
"Sayang, dengerin ibu...."
"Ais, pengen punya adik berapa?" Sambar Aries, memotong perkataan Hana, dan lagi-lagi Hana memolototi Aries sembari mencibirnya.
"Aries...." Gusar Hana, sedangkan Aries terus memanfaatkan situasi ini.
"Ais pengen punya adiknya lima," ucap Aisyah semangat sembari menunjukkan ke lima jarinya.
Tentu saja membuat Hana semakin resah, sedangkan Aries seolah mendapatkan oase di gurun pasir.
"Kalau Ais ingin punya adik, Ais harus cepat sembuh. Ayah dan ibu pasti akan mengabulkan permintaan Ais," jawab Aries tak kalah senangnya.
Hana mendengus menatap Aries dan menggelengkan kepalanya. Aries tersenyum melihat tingkah Hana yang kesal terhadapnya.
Sepertinya aku harus memanfaatkan Ais dalam hal ini, agar Hana bersedia menikah denganku. Ais, kamu harus bantu ayah meluluhkan hati ibumu.
Dengan wajah berbinar, Aisyah mengangguk seraya tersenyum senang.
"Ayah janji ya, mau ngabulin keinginan Ais," seru Aisyah sembari mengulurkan jari kelingkingnya ke hadapan Aries, dan tentu saja Aries segera mengaitkan jari kelingkingnya.
"Ibu juga...." seloroh Aisyah, meminta Hana ikut mengaitkan jari kelingkingnya bersama-sama.
Hana menelan Salivanya, dan bingung harus berbuat apa. Hana melirik Aries yang tengah tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Ibu...." rengek Aisyah.
Dengan berat hati Hana mengaitkan jari kelingkingnya bersama-sama dan tersenyum kaku.
Sumpah, demi apapun. Hana ingin menenggelamkan dirinya, agar terbebas dari janji yang baru saja dibuatnya bersama sang putri tercinta. Tapi, apalah daya? demi kebahagiaan Ais, dia rela menyampingkan egonya.
"Yeeey...."Sorak Aisyah gembira.
"Terima kasih ayah, terima kasih ibu. Ais sayaaaang ibu dan ayah," seru Aisyah dengan penuh semangat.
"Ayah juga sayang, Ais," balas Aries kemudian Aries mengecup pipi Aisyah, dan Aisyah pun membalas ciuman Aries di pipinya.
Terima kasih, sayang. Dengan begini, Hana tak bisa menolakku lagi. Aku yakin Hana pasti mau menikah denganku. Karena ayah yakin, kalau Ibumu tidak mau membuat kamu kecewa.
"Abang!!" panggil Aisyah riang.
"Iya...." sahut Marshall yang sejak tadi diam memperhatikan interaksi mereka bertiga.
"Iya, Abang seneng dengernya," sahut Marshall tak kalah senangnya.
Sementara Hana hanya diam terpaku, melihat senyum ceria di wajah Aisyah. Hana galau di buatnya, saat melihat keceriaan Aisyah yang menginginkan seorang adik.
Berbeda dengan Hana, berbeda pula dengan Aries. Saat ini Aries sedang merayakan kemenangannya di lubuk hatinya, bahkan senyum Aries tak pudar menghiasi bibirnya.
"Ayah, ibu jadi kapan adik Ais ada di perut ibu?" ucap Aisyah polos.
"Ais yang sabar ya, kita tunggu saja. Mudah-mudahan doa anak ayah segera terwujud. Iya kan, ibu," ucap Aries seraya menatap Hana, yang hanya diam saja sejak tadi.
"Hah ... apa?" tanya Hana gagap.
"Iiih ... ibu kenapa diam saja? Ibu nggak suka ya, kalau Ais pengen punya adik?"
__ADS_1
"Bukan begitu, sayang. Tapi ibu rasa, saat ini kesehatan Ais lebih penting dari pada permintaan Ais. Kalau ibu hamil adik Ais, siapa yang akan merawat Ais?" pungkas Hana asal. Jujur Hana lagi mencari cara agar tidak lagi membicarakan soal adik. Hana juga yakin kalau saat ini Aries tengah berbahagia di atas kekalahannya.
***
Setelah pembicaraan soal keinginan Aisyah. Kini Hana tengah termenung memikirkannya. Apa dirinya harus menikah dengan Aries atau tetap dengan pendiriannya. Bukan dia tak mau menikah lagi, tapi dia belum siap membuka lembaran baru.
Tapi saat melihat wajah Aisyah yang begitu berharap menginginkan seorang adik, membuat keteguhan hati Hana mulai sedikit goyah.
"Huft...." Hana membuang nafasnya pelan.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Hana galau.
"Hana...." panggil Aries yang kini ikut duduk di samping Hana.
"Kenapa? Ais sudah tidur?"
"Sudah."
Aries memandang wajah Hana yang terlihat kusut.
"Kenapa? Sejak tadi terlihat gelisah?"
Hana mencibir perkataan Aries, tanpa dia berkata pun, Aries pasti sudah tau jawabannya.
"Jadi gimana? Apa kamu masih tetap dengan pendirian kamu, yang tak mau menikah denganku. Apa kamu mau membuat Aisyah kecewa, hanya karena keegoisan kamu yang tidak mau menikah denganku."
"Hana, aku mohon. Demi kebahagiaan Ais, juga harapan Ais yang menginginkan seorang adik. Apa kamu tega menghancurkan harapannya?"
"Beri aku sedikit waktu untuk memantapkan hatiku. Yang kita bicarakan ini soal pernikahan, karena aku nggak mau tersakiti lagi seperti dulu."
Sepertinya, pernikahan Hana yang pertama begitu menggores luka hatinya yang terdalam.
__ADS_1