
Hana menggeliat dan membuka matanya. Hana menautkan kedua alisnya saat tersadar dari pingsannya. Pandangannya mengelilingi sebuah kamar yang tampak asing di matanya.
"Aku dimana?" gumamnya.
Lalu Hana mengingat kembali kejadian sebelum dirinya pingsan. Jantung Hana berdekup kencang dengan air mata yang siap meluncur bebas ke pipinya. Hana yakin kalau dirinya sekarang sedang di sekap oleh seseorang.
Hana akan melangkah ke arah pintu, tapi tiba-tiba pintunya terbuka. Jantung Hana semakin berdekup kencang melihat pintu itu terbuka, dan nampaklah Aries dengan tatapan heran melihat Hana menangis seraya memegang dadanya.
"Aries...." cicit Hana dengan perasaan lega.
"Sayang kamu kenapa?"
Hana tak menjawab, tapi Hana langsung berlari memeluk Aries.
"Aku pikir, aku di sekap seseorang," ucap Hana seraya menangis.
Aries menghela nafasnya, dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Tadi kamu memang di culik oleh si brengsek Doni. Maaf, aku lalai menjaga kamu," ucap Aries penuh dengan sesal.
"Apa! Aku di culik!"
"Iya...."
"Dan Doni yang menculik aku?"
"Iya."
"Aku janji, mulai sekarang aku akan lebih ketat menjaga kamu dan Ais. Aku nggak mau ini terjadi lagi," lanjut Aries seraya menatap manik Hana.
" Terus sekarang kita ada dimana?" tanya Hana.
"Di apartemen aku. Apartemen ini tidak jauh dari tempat kamu di culik."
Hana kembali memeluk Aries, hatinya lega karena Aries berhasil menyelamatkan dirinya dari Doni. Hana tidak tau kalau Aries tidak menyelamatkan dirinya, entah apa yang akan terjadi kepada dirinya.
"Kita lebih baik pulang, Ais pasti mencari kita," ajak Hana.
"Baiklah, kita pulang."
***
Aries dan Hana tiba di rumahnya, dan di sambut dengan wajah ceria Aisyah.
__ADS_1
"Ayah...." Aisyah berlari ke arah Aries dan langsung memeluk sang ayah.
Aries langsung mengangkat tubuh Aisyah dan mencium pipi Aisyah dengan sayang.
"Gimana sekolahnya?" tanya Aries.
"Ais dapat nilai seratus, yah," ucapnya penuh semangat.
"Wah, anak ayah hebat." Sembari mengangkat jempolnya. Aisyah tersenyum senang karena mendapat pujian dari ayahnya.
Drrtt Drrtt.
"Sebentar."
Aries menurunkan Aisyah dari gendongannya dan mengangkat telponnya.
" Halo Syam, gimana? ... Apa! ... Baiklah aku segera ke sana."
Aries mengakhiri telponnya, dan menatap wajah Hana.
"Ada apa?" tanya Hana.
"Aku belum bisa jelasin, aku pergi dulu."
***
Dengan langkah lebar dan cepat, Aries mencari keberadaan Syam yang sudah lebih dulu tiba di rumah sakit.
"Syam!"
"Tuan...."
" Gimana keadaannya? Coba ceritakan yang terjadi?"
"Doni berhasil lolos dari jeratan kita dengan cara menembak anak buah kita. Doni juga kabur dari kejaran polisi, hingga kecelakaan itu pun terjadi."
"Ternyata Doni kabur mengajak anak dan istrinya juga," sambung Syam.
"Keadaannya mereka gimana? Terutama anaknya, Marshall?"
"Kalau anaknya selamat, tadi sempat tidak sadarkan diri. Kalau Doni tewas di tempat, sedangkan istrinya keadaannya sangat kritis dan sekarang sedang di operasi."
"Sekarang dimana Marshall? Aku mau melihatnya?"
__ADS_1
Syam pun menujukan dimana Marshall di rawat, setelah itu Syam meninggalkan Aries di ruang rawatnya Marshall. Aries masuk dan melihat Marshall tengah termenung menatap ke jendela dengan tatapan kosong.
Aries melangkah mendekati Marshall dengan tatapan prihatin melihat keadaan Marshall yang terlihat luka lebam di wajahnya dan beberapa luka di tubuhnya.
"Shall...."
Marshall diam, bahkan Marshall tidak merespon panggilnya. Aries menyentuh punggung Marshall lembut.
"Shall, ini om Aries."
Marshall menengok dan mengadakan wajahnya menatap Aries dengan tatapan sendu.
"Om...." Marshall berkaca-kaca menatap wajah Aries.
"Menangis lah, nak. Om tau apa yang Marshall rasakan."
Aries langsung memeluk Marshall dan Marshall langsung menangis di pelukan Aries.
"Marshall yang sabar dan harus ikhlas dengan kepergian papanya Marshall, dan berdoa semoga Mamanya Marshall juga selamat."
Marshall mengangguk dengan tangis kian memilukan, bahkan rasa sakit di tubuhnya tidak lagi Marshall rasakan karena kehilangan orang tuanya.
"Hiks ... hiks ... Marshall belum siap kehilangan om Doni. Marshall juga nggak mau kehilangan Mama ... hiks ...hiks," ucap Marshall sesegukan.
Aries semakin mengeratkan pelukannya terhadap Marshall.
Seburuk apapun kelakuan orang tuanya, tetap saja Marshall belum siap kehilangan Doni. Marshall masih membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Terutama mamanya yang sudah melahirkannya.
"Tuan...." panggil Syam.
"Iya...."
"Istrinya Doni di nyatakan meninggal. Dokter sudah berusaha menyelamatkan nyawanya."
Marshall yang mendengar kabar mamanya yang meninggal langsung menangis histeris.
"Mama ... hiks ... hiks ... Mama ... jang - an ... tinggalin ... aku...."
Marshall terus menangis kencang dan meraung-raung memanggil Mamanya dalam tangisannya yang memilukan.
"Aku ... mau kete - mu ... Mama ... hiks ... hiks...."
Marshall memberontak di pelukan Aries dan ingin berlari menemui ibunya yang kini sudah tak akan menemani hidupnya lagi. Ibu yang sudah mengandung, melahirkan dan juga membesarkannya. Kini Marshall benar-benar harus merelakan ibunya pergi untuk selama-lamanya.
__ADS_1