
Marshall yang berhasil kabur dari rumah, segera berlari menjauh dari rumahnya. Akan tetapi masalahnya dia harus mencari kemana, sedangkan dirinya tak tahu dari mana memulai pencarian keberadaan Aisyah.
Marshall hanya terus menyusuri jalanan dan berharap menemukan Aisyah. Marshall menengok ke sana kemari sambil melihat sekelilingnya dan berharap Aisyah perginya tidak jauh dari rumah.
"Ais, kamu dimana sih. Abang bingung cari Ais," gumam Marshall.
Marshall beristirahat di tepi jalan dan Marshall membuka botol air mineral yang di belinya. Marshall sudah jauh melangkah meninggalkan rumahnya, bahkan dia sendiri tidak tahu dirinya berada dimana?.
Waktu sudah sore, tapi Marshall sampai sekarang belum berhasil menemukan keberadaan Aisyah. Rasa lelah membuat Marshall lapar, kemudian Marshall mengambil uang yang dari celengannya.
"Dengan uang segini cukup nggak ya?"
Namun Marshall teringat kepada Aisyah yang sudah tiga hari pergi dari rumah tanpa membawa apapun.
"Ais, kamu sedang apa dan kamu tidur dimana? Pasti kamu sangat kelaparan karena tak ada uang untuk membeli makanan."
"Ya Allah, tolong jaga Ais. Semoga ada orang baik yang menolong Ais."
Tiba-tiba hujan turun membasahi bumi, Marshall berlari mencari tempat untuk berteduh. Marshall berdiri di emperan toko yang sudah tutup. Marshall tak tahu harus kemana lagi mencari keberadaan Aisyah, sedangkan hari sudah mulai gelap. Marshall tak tahu harus tidur dimana malam ini.
Marshall menggigil merasakan hawa yang dingin, sedangkan hujan turun dengan sangat lebat. Rasa lapar yang sejak tadi di tahannya kini semakin menjadi.
"Huh ... Sepertinya aku harus mencari makan, tapinya hujan semakin besar," monolog Marshall seraya memegang perutnya yang semakin lapar.
Marshall kembali menegak air minumnya yang hanya tinggal setengah botol dan berharap bisa mengganjal perutnya yang sangat lapar.
"Baru setengah hari aku berada di luar, dan rasanya seperti ini. Tapi bagaimana dengan Aisyah yang sudah tiga hari di luaran rumah. Pasti Ais sangat ketakutan."
Sedangkan Marisa yang belum menyadari kalau Marshall sudah kabur dari rumahnya, kini melangkah ke kamar Marshall karena sudah seharian Marshall di kurung di kamarnya.
Marisa membuka pintu kamar Marshall dan Marisa mengernyitkan dahinya karena kamar Marshall kosong , kemudian Marisa melangkah ke kamar mandi dan ternyata kosong. Membuat Marisa di landa gusar karena tidak menemukan keberadaan anaknya di kamar. Marisa melihat jendela kamar terbuka dengan tirai terus mengibas terkena angin Saat akan menutup jendela, Marisa terkejut karena jendela tersebut ada ikatan seprai menjuntai ke bawah.
"Marshall...." Geram Marisa juga khawatir dengan keadaan Marshall.
Marisa langsung mencari Doni.
"Mas!" teriak Marisa.
"Ada apa teriak-teriak?"
"Mas ... Marshall kabur. Dia kabur lewat jendela dan aku nggak tau kapan Marshall kaburnya."
__ADS_1
"Kok, bisa Marshall kabur!" sentak Doni.
" Dasar nggak becus jadi ibu, jaga anak satu saja nggak bisa!"
"Udahlah nggak usah nyalahin, lebih baik sekarang kita cari Marshall." Gusar Marisa yang menghawatirkan keadaan Marshall.
"Ya sudah ayo," dengus Doni.
Kini keduanya bergegas mencari keberadaan Marshall. Hujan pun semakin deras, membuat hati Marisa menjadi gusar.
"Marshall ... kamu dimana sih," gumam Marisa.
Hari sudah gelap, sedangkan hujan belum berhenti.
" Kita cari kemana lagi?" tanya Doni.
"Aku juga nggak tahu?"
"Apa kita lapor polisi aja," ujar Marisa gusar.
"Percuma lapor polisi, sedangkan Marshall hilangnya belum dua puluh empat jam."
"Terus kita cari kemana lagi?"
Mereka terus melanjutkan pencariannya dan berharap bisa menemukan Marshall.
***
Marshall berjongkok dan mendekap tubuhnya sendiri karena hawa dingin semakin menembus ke tulangnya. Hari sudah gelap dan hujan pun sudah reda hanya menyisakan gerimis.
Marshall kembali melanjutkan perjalanannya seorang diri dan mencari makan untuk mengisi perutnya yang sejak tadi di tahannya. Marshall masuk ke warteg dan memesan makanan.
Selesai makan dan membayar makanannya, Marshall terus menyusuri jalan, dari kejauhan Marshall melihat Aisyah tengah berdiri seorang diri. Marshall berlari mendekati anak perempuan tersebut tapi semakin dekat ternyata bukanlah Aisyah.
"Aku harus cari kemana lagi...." ucapnya penuh keputusasaan.
Marshall berdiri seraya menunduk dan meneteskan air matanya.
Pa ... maafin Abang yang tak bisa jaga Ais, sampai sekarang Abang belum menemukan keberadaan Ais. Abang, sudah berusaha mencari Ais. Ya Allah tolong beri petunjuk dimana keberadaan Ais dan semoga Ais baik-baik saja. Ais, Abang janji akan terus mencari Ais sampai ketemu.
"Hai, kamu ngapain sendirian disini?" tanya seorang anak lelaki yang seumuran dengan Marshall.
__ADS_1
"Eh...." Marshall terkejut karena ada yang menyapanya.
"Di tanya kok bengong?"
"Aku lagi cari adikku yang hilang dan sampai sekarang aku belum menemukan adikku," ucap Marshall lesu.
"Rumah kamu dimana? ini sudah malam, lebih baik kamu pulang," bujuknya.
"Aku nggak mau pulang sebelum menemukan adikku."
"Tapi ini nggak baik buat kita, sebagai anak kecil. Aku takut nanti kamu di culik lagi."
"Tapi aku harus tetap mencari keberadaan adikku."
"Gimana kalau kamu ikut denganku saja, besok kamu bisa melanjutkannya. Aku takut kamu di jahatin sama orang jahat," cetus anak itu.
Marshall terdiam dan berpikir apa ikut dengannya atau tidak.
"Baiklah aku ikut denganmu, lagian aku juga bingung mau tidur di mana malam ini."
Akhirnya Marshall memutuskan ikut dengan anak yang baru di kenalnya dan mereka berdua berjalan beriringan pulang ke rumah anak tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanya Marshall.
"Aku Zidan kalau kamu?"
"Aku Marshall."
Kini keduanya sudah berada di depan rumah Zidan dan Zidan pun mengucapkan salam kepada neneknya.
"Ini siapa?" tanya nenek Zidan.
"Dia temanku, nek. Dia boleh menginap di rumah kita?"
"Tentu saja boleh," jawab sang nenek.
"Terima kasih nek," ucap Marshall sopan.
"Istirahatlah, ini sudah malam," titah nenek.
"Iya...." jawab Zidan.
__ADS_1
Marshall merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis, rasa lelah karena seharian mencari Aisyah membuat Marshall langsung meraih alam mimpi dan berharap keesokan harinya dia bisa menemukan Aisyah dan membawanya pulang ke rumah yang selama ini menjadi tempatnya bernaung.