
Keesokan harinya, Setelah pulang dari ziarahnya. Marshall di ajak Aisyah berkumpul bersama keluarganya di ruang keluarga. Marshall menurut dan ikut duduk di dekat Hana, kemudian Aisyah mendekati omanya yang sejak tadi terlihat tak suka melihat Marshall ada disini.
Aisyah menyentuh tangan mama Soraya dan menatap wajah omanya yang masih terlihat cantik meski usianya tak muda lagi.
"Kenapa sayang?" Menatap Aisyah bingung.
Aisyah menarik tangan Omanya dan meminta mengikutinya mendekati Marshall yang sejak tadi hanya diam.
Mama Soraya duduk di samping kiri Marshall, sedangkan Aisyah duduk di pangkuan Mama Soraya.
"Oma, semalam Oma sudah berjanji kan kalau Oma mau menyayangi Abang," cetus Aisyah dan membuat Aries, Hana dan papa Erik menatapnya.
Mama Soraya mengangguk kecil menatap sang cucu.
"Tapi Ais lihat, Oma masih tidak suka melihat Abang, Ais jadi sedih." Aisyah tertunduk sendu.
Mama Soraya menghela nafasnya pelan, kemudian tersenyum menatap wajah Aisyah.
"Oma suka kok sama Marshall, Oma juga tidak membenci Marshall."
"Bohong! Buktinya Oma menatap Abang marah," sela Aisyah.
Mama Soraya diam, ternyata cucunya itu sangat peka. Aisyah kemudian menyentuh lengan Mama Soraya dan mengelusnya.
"Oma, Ais mohon. Oma jangan membenci Abang, kasihan Abang, sekarang Abang tidak punya Mama sama om. Ais pernah merasakan seperti Abang di tinggal pergi sama papa dan mama Marisa tidak suka sama Ais, tapi Ais tetap menyayangi mama Marisa. Ais juga tidak membencinya. Papa juga mengajarkan Ais, harus jadi anak yang baik dan harus saling menyayangi walau orang itu membenci Ais."
Mama Soraya tersentuh dengan kata-kata Aisyah, meski usianya masih kecil tapi cucunya itu sangat bijak menyikapinya. Mama Soraya memeluk Aisyah penuh kasih sayang dan membenamkan bibirnya di kening Aisyah.
__ADS_1
Aries, Hana dan papa Erik sangat bangga terhadap Aisyah. Mereka bertiga tersenyum melihat Aisyah yang mampu membuat hati Mama Soraya tersentuh oleh kata-katanya.
Mama Soraya kemudian menatap wajah murung Marshall, dan membelai kepala Marshall.
"Maafin Oma ya," ucapnya tulus. Marshall pun mengangguk pelan seraya menatapnya.
"Sini, duduknya geser," pinta Mama Soraya, dan Marshall pun menurut. Mama Soraya kemudian memeluk Marshall dari samping.
"Maaf, nggak seharusnya Oma membenci kamu. Sedangkan kamu tidak bersalah, yang salah itu orang tua kamu dan Oma tidak punya hak untuk membenci kamu. Ais benar, kalau kita harus saling menyayangi. Mulai sekarang, kamu adalah cucu Oma juga sama seperti Ais."
Marshall hanya bisa menitikkan air matanya, dan Marshall bisa merasakan ada ketulusan dari mama Soraya.
"Jangan bersedih, ada kami yang akan selalu ada buat kamu. Kami semua yang ada disini akan menyayangi kamu," sambung mama Soraya.
"Terima kasih sudah mau menerima Marshall dan sayang sama Marshall," ucap Marshall yang kini ada di pelukan Mama Soraya.
Aries kemudian merengkuh tubuh Hana dari samping dan mengusap lengan Hana.
"Aku juga bangga," timpal Aries seraya mencium kepala Hana.
***
Dua minggu sudah berlalu, kini Marshall sudah tidak begitu bersedih. Meskipun rasa rindu terhadap orang tuanya tidak akan terkikis oleh waktu. Marshall sudah mulai menampakkan keceriaannya karena Aisyah selalu bersama dirinya dan selalu menghiburnya.
Marshall bersyukur karena keluarga Aries menganggapnya sebagai keluarganya terutama Aries dan Hana yang sudah menganggap Marshall sebagai anaknya.
Seperti sekarang ini, Aries mengajak anak dan istrinya berlibur ke sebuah pulau yang sangat indah.
__ADS_1
Senyum keceriaan Marshall dan Aisyah terus tersungging di bibirnya saat sedang bermain pasir di tepi pantai. Keduanya saat ini tengah membuat sebuah istana dari pasir. Aisyah dan Marshall tertawa bersama karena berhasil membuat istana pasir yang sangat bagus.
Aries dan Hana hanya memantaunya dari pinggir pantai sembari merebahkan tubuhnya di kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Aku senang melihat keceriaan anak-anak, apa lagi Marshall yang sudah tidak begitu bersedih dengan kehilangan orang tuanya," ucap Hana yang berada di rengkuhan Aries.
"Ya, semoga saja Marshall selalu bahagia hidup bersama dengan kita. Aku bahkan berencana mau mengadopsi Marshall sebagai anak kita. Menurutmu bagaimana, sayang?"
"Aku sih setuju aja, bay. Lagian aku juga sudah sangat menyayangi Marshall dan sudah menganggap Marshall sebagai anakku sendiri."
Aisyah berlari mendekati kedua orang tuanya yang tengah bersantai di pinggir pantai.
"Ayah! Ayo ikut bermain pasir sama-sama."
"Oke sayang," sahut Aries seraya tertawa kecil.
"Aku temani anak-anak dulu."
Hana mengangguk sembari tersenyum. Aries segera menyusul langkah kaki Aisyah yang sudah lebih dulu kembali ke tempat tadi.
Ketiganya membuat lagi istana pasir yang lebih bagus dan besar. Tawa mereka terus terdengar nyaring dan kebahagiaan mereka sangat terasa. Hana yang dari kejauhan terus memotret ketiganya yang tengah asik bermain bersama-sama meski terik matahari begitu menyengat kulit mereka.
_______***__________
Terima kasih masih setia mengikuti cerita receh ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍
__ADS_1
Salam sayang dari othor 😘😘