Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 97


__ADS_3

Siang harinya Aries menelpon orang rumah, menanyakan keadaan Hana, yang sejak pagi belum sarapan sama sekali, dan itu justru mengganggu konsentrasinya bekerja.


"Hallo, mbak Siti."


"Iya, tuan...." sahutnya di sebrang telpon.


"Istri saya lagi apa?"


"Nyonya masih di kamar dan belum keluar sejak tadi pagi, tuan."


"Apa! tapi istri saya sudah makan belum?" tanya Aries sedikit cemas.


" Belum, tuan."


"Ya sudah, kalau ada apa-apa tolong secepatnya kabari saya."


"Baik, tuan."


Aries pun menutup sambungan teleponnya, dan memejamkan matanya, mengingat sikap Hana yang berubah. Aries merogoh sakunya dan menatap benda kecil itu.


"Lebih baik aku segera temui temanku."


Aries langsung bergegas meninggalkan ruang kerjanya dan melangkah menuju ruang kerja Syam.


"Syam...."


Syam yang lagi serius mengerjakan pekerjaan, langsung mengangkat kepalanya saat Aries memanggilnya.


" Ya, tuan. Ada apa?"


"Tolong nanti kamu gantikan saya rapat penting dengan perusahaan Law Grub. Saya harus pergi ada urusan penting."


" Baik tuan." Sembari menganggukkan kepalanya.


Aries langsung meninggalkan Syam dan segera pergi menemui seseorang.


Aries sudah berada di kantin rumah sakit dan sedang menunggu sahabatnya yang bekerja sebagai dokter.


"Hai, bro. Sorry lama...."


"Nggak masalah, lagian aku juga baru sampai."


"Ada apa nih, seorang Aries yang super sibuk kini bersedia meluangkan waktunya untuk bertemu denganku," canda dokter Diki sembari meninju lengan Aries.

__ADS_1


Aries mengulurkan benda kecil itu kepada Diki. "Itu milik istriku. Bisa kamu jelaskan hasil dari testpack itu, soalnya aku melihat ada satu garis samar yang bahkan tidak begitu jelas."


Diki menatapnya hasil testpack itu serius.


"Kapan istri kamu menggunakan ini," ujarnya seraya mengangkat testpack.


"Dua hari yang lalu."


"Aku lihat sih ini nggak jelas, tapi kalau kamu penasaran lebih baik segera di periksa saja. Itu akan lebih akurat hasilnya."


Aries manggut-manggut mendengarkan penuturan sahabatnya itu.


"Oke deh, aku akan ajak istriku untuk memeriksanya."


"Semoga saja istri kamu memang sedang hamil," ujar dokter Diki seraya menepuk bahu Aries.


"Aamiin, mudah-mudahan," jawabnya sembari tersenyum.


Setelah menemui sahabatnya, Aries langsung pulang ke rumah. Aries ingin mengajak Hana memeriksakan diri, dan kini Aries sudah tiba di rumah. Aries langsung menemui Hana di kamar.


Aries melihat Hana yang masih betah bergulung dengan selimut, dan gordennya juga masih tertutup rapat. Aries mendekati Hana dan duduk di samping Hana yang kini tengah tertidur pulas. Aries memandangi wajah damai Hana, kemudian tangan Aries terulur membelai wajah Hana.


Hana mengerjapkan kelopak matanya, karena terganggu dengan belaian lembut jemari Aries. Sedangkan Aries tersenyum menatap sang istri.


"Abay, sudah pulang? memang sekarang jam berapa?" tanya Hana dengan suara serak khas bangun tidur.


Hana kembali memejamkan matanya, entah mengapa hari ini dirinya merasa sangat malas beranjak dari ranjang.


"Sayang, apa kamu sudah makan?"


Hana hanya menggelengkan kepalanya pelan, sembari menikmati belaian lembut jemari Aries.


"Mau aku ambilkan makan."


Hana menggeleng dan kini Hana malah menggeserkan tubuhnya dan kepala Hana kini berada di atas pangkuan Aries dan membenamkan wajahnya di perut Aries.


"Kamu harus makan sayang, aku nggak mau kamu sampai sakit," ucap Aries penuh kelembutan.


"Aku lagi nggak mau makan."


" Tapi kamu harus makan, sayang. Aku ambilkan ya...."


"Nggak!!" tegas Hana.

__ADS_1


Aries menghela nafasnya pelan, dan membiarkan Hana menyembunyikan wajahnya di perutnya.


"Sayang, bagaimana kalau kamu di periksa saja. Apa kamu mau ikut aku ke rumah sakit."


Hana yang mendengar perkataan langsung mengadahkan pandangannya dan menatap Wajah Aries.


"Ngapain? Lagian aku nggak sakit. Aku cuma lagi malas saja."


"Ayolah sayang... demi aku," ucap Aries penuh permohonan.


"Baiklah."


"Sekarang, ayo bangun dan siap-siap. Kita berangkat sekarang saja ke rumah sakitnya."


Dengan malas Hana bangun dari tidurannya, dan saat Hana akan berdiri tiba-tiba kepalanya mendadak pusing. Hana pun limbung dan akan tersungkur ke lantai. Untung saja Aries sigap menangkap tubuh Hana.


"Kenapa sayang?"


"Aku pusing sekali," keluh Hana seraya memejamkan matanya.


"Mungkin karena kamu belum makan. Makanya, kamu pusing. Aku ambilkan makan dulu ya."


Tanpa menunggu jawaban dari Hana, Aries langsung keluar dan mengambilkan makanan untuk Hana. Sedangkan Hana kembali tiduran seraya memijit dahinya. Aries kembali dan membawa makanan untuk Hana.


Dengan telaten Aries menyuapi Hana yang terlihat ogah-ogahan memakannya, tapi Aries terus memaksa Hana menghabiskan makanannya.


"Sudah, stop. Aku sudah kenyang."


"Sedikit lagi sayang."


Hana menggeleng seraya menutup mulutnya.


"Ya sudah," pungkas Aries mengalah dan menyimpan piring di atas nakas.


"Apa sekarang masih pusing?"


"Sedikit."


Kemudian Hana bangun di bantu Aries dan berpindah ke kamarnya, hanya untuk mengganti pakaiannya.


***


Kini Hana dan Aries sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju dokter kandungan. Aries tidak perlu mengantri lagi karena sudah di bantu oleh sahabatnya yaitu Diki.

__ADS_1


Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari dokter, Hana langsung di suruh berbaring di atas kasur. Sang dokter langsung menyibakkan pakaian Hana ke atas dada dan segera menepelkan alat USG di perut Hana yang sebelumnya sudah di kasih gel. Dokter terus memeriksa perut Hana lewat layar monitor dengan serius.


"Bagaimana dok?"


__ADS_2