Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 30


__ADS_3

Marisa benar-benar sangat marah dan kesal terhadap Adam, berharap bisa cerai darinya justru yang ada Adam semakin mengikatnya.


"Dasar brengsek!," pekik Marisa, "Pokoknya aku akan tetap mengajukan permohonan cerai ke pengadilan agama. Aku nggak peduli apa kamu setuju atau nggak!" ucapnya kesal.


"Lebih baik aku mandi, siapa tau otakku semakin segar."


Adam berjalan ke ruang kerjanya dengan langkah cepat, hatinya benar-benar sangat kesal. Dia marah bukan karena dia tak mau cerai dengan Marisa tapi Dia marah karena dia tak mau melihat Marisa bahagia dengan orang yang sudah menghancurkan rumah tangganya. Terlebih lagi dari perselingkuhannya sampai memiliki seorang anak yaitu Marshall.


Brak


Adam menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar, lalu melangkah ke arah sofa dan duduk di sana dengan rasa berkecamuk kesal dan marah menjadi satu.


"Ck, aku nggak akan biarkan kamu bahagia setelah apa yang telah kalian lakukan di belakangku,"


Kemudian Adam memilih merebahkan diri di sofa itu, dan memejamkan matanya. Tidur mungkin itu solusi terbaik dari pada kembali ke kamarnya.


Lama Adam tertidur di ruang kerjanya. Merasa ada yang mengusik tidurnya, membuat Adam harus membuka matanya meskipun malas untuk terbangun dari tidurnya. Ternyata yang mengusik tidurnya adalah Aisyah yang kini tengah terkiki-kikik karena berhasil membangunkan Adam.


"Kamu nakal ya, Nak," ucap Adam dengan suara serak kas bangun tidur.


Tapi Aisyah semakin tertawa senang, " Lagian Papa ngapain tidur di sini. Lihat sekarang sudah jam berapa?, udah malam Pa!" tukas Aisyah.


"Pasti Papa belum mandi," sambung Aisyah sembari menutup hidungnya.


"Ya ya Papa bangun," ucap Adam.


"Ayo temani Papa ke kamar," lanjut Adam.


"Tapi gendong, Pa," seru Aisyah.


Adam membungkukkan tubuhnya, lalu Aisyah segera naik ke punggung Adam dan langsung melingkarkan tangannya di leher Adam.


"Ais!, jangan cekik Papa dong."


"Hihihi ... iya Papa."


Merekapun meninggalkan ruang kerja Adam dan melangkah menuju kamar utama.


***


Saat ini, Aries tengah berdiri di depan toko 'Muti Cake'. Aries benar-benar menjemput Hana pulang kerja.


Aries tersenyum begitu melihat Hana keluar dari toko kue dan mendekatinya dengan kakinya di hentakkan ke lantai tanda kesal. Justru membuat Aries gemas dengan perilaku Hana, yang terlihat kesal.


Segera Aries membukakan pintu mobil untuk Hana, setelah itu Aries bergegas ke pintu sebelah dan duduk di belakang kemudi.

__ADS_1


"Kita pergi kemana dulu?" tanya Aries.


" Terserah!" jawab Hana ketus tanpa menoleh ke arah Aries.


Aries hanya mengulum senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Aries mulai menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat kerja Hana.


Di sepanjang perjalanan, hanya terdengar suara musik dari radio. Hana sama sekali enggan berbicara, sedangkan Aries bingung memulai pembicaraannya dari mana dulu.


"Ehm...." Aries berdehem, berharap Hana menengok ke arahnya. Tapi Hana tetap cuek dan malah asik melihat lalu lalang kendaraan dari jendela.


Aries mendengus samar, saat melirik Hana tetap fokus ke luar jendela tanpa menghiraukannya.


Sabar Aries, kamu harus lebih keras lagi meraih hatinya. Batin Aries.


Aries membelokkan mobilnya ke arah taman bunga. Setelah memarkirkan mobilnya, Aries mengajak Hana menikmati air mancur.


" Kita duduk di sana." Tunjuk Aries ke arah tangga tepat di depan kolam air mancur.


"Hmm...." sahut Hana.


Aries memperluas pandanganya, kemudian Aries melihat ada pedagang tahu gejrot.


"Mang!" Teriak Aries, memanggil pedagang tahu gejrot seraya melambaikan tangannya.


Pedagang tahu gejrot itu mendekati mereka, " Kamu mau?" tawar Aries.


"Ya deh, tapi jangan terlalu pedas ya Mang," ucap Hana.


"Baik neng, kalau masnya pedes nggak?" tanya mang tahu.


"Kalau saya jangan pedes mang, saya tidak terlalu suka pedas," ungkap Aries.


Sambil menunggu tahu gejrotnya, Aries menggeser duduknya mendekat ke samping Hana. Ingin rasanya Aries menggenggam tangan Hana dan mencium tangan Hana.


"Maaf, aku mengajak kamu ke tempat seperti ini."


"Iya, nggak masalah," sahut Hana cuek.


Aries merogoh sakunya dan memperlihatkan name tag atas nama Hana Azzuhra. Hana menautkan kedua alisnya saat melihat benda pipih itu, kemudian mengambil name tagnya.


"Kamu dapat ini dari mana?" tanya Hana.


"Di mobil."


"Mobil?" ucap Hana bingung.

__ADS_1


"Iya ... aku dapat ini di mobil. Maaf!, tapi semenjak malam itu hidupku jadi tak tenang. Rasa bersalah terus mengusik hidupku sampai sekarang," ungkap Aries sembari menatap sepasang netra Hana.


"Hampir setiap malam aku selalu memimpikan kamu menangis karena kesalahanku yang merenggut kehormatan kamu. Bahkan sampai sekarang. Aku selalu di hantui rasa bersalah dan penyesalan yang teramat terhadap kamu." Aries menghirup banyak-banyak oksigen.


" Malam itu, aku pergi bertemu dengan kolegaku bahkan dia datang bersama putrinya. Tanpa sepengetahuanku mereka berdua menjebakku memberikan minuman yang sudah di kasih obat perangsang. Mungkin mereka berharap aku akan terbujuk rayu anaknya, tapi waktu itu akal sehatku masih bekerja dengan baik. Aku langsung pergi meninggalkan mereka, membawa hasrat yang menggebu karena efek obat laknat itu dan akhirnya aku bertemu denganmu malam itu. Maaf, karena aku nggak bisa menahannya sehingga membuat kamu harus kehilangan kesucian kamu," ungkap Aries dengan tatapan ke depan mengingat malam itu.


Sedangkan Hana hanya diam membisu, dia nggak tahu harus berbicara apa?, apa mungkin harus mengungkapkan kalau dia hamil anaknya. Tapi dia sendiri tidak tahu keberadaan anaknya sampai detik ini.


Hana menghela nafasnya, serta menutup mata ketika dia mengingat terakhir kalinya bersama putri tercintanya. Rasa sesak kembali hadir di dadanya, sudah beberapa bulan tinggal di Jakarta tapi sampai sekarang dia belum berhasil mendapatkan info keberadaan anaknya. Hana bahkan sudah mendatangi beberapa kantor asuransi tapi dari sekian kantor yang sudah di datanginya tidak ada yang tau nama Adaskhan, membuat hati Hana putus asa.


Hana cuman berharap, semoga putrinya dalam keadaan baik-baik saja dan berada di tangan orang yang baik.


" Ini tahunya."


Suara penjual tahu gejrot berhasil membuyarkan lamunan Hana.


" Terima kasih, Mang," ujar Aries seraya menerima tahu gejrotnya juga Hana.


"Sama-sama, mas."


"Ayo di makan," suruh Aries.


"Iya...."


"Habis dari sini mau kemana lagi?" tanya Aries sembari memakan tahu gejrot.


"Pulang, aku mau istirahat. Lagian ini sudah semakin malam."


"Baiklah."


Setelah menghabiskan tahu gejrotnya dan juga sudah membayarnya. Mereka berdua meninggalkan tempat itu dan kembali ke mobil.


Karena kelelahan, Hana sampai tertidur di mobil. Aries menengok dan tersenyum melihat Hana tertidur bahkan Hana tertidur sampai mengeluarkan suara dengkuran halus.


Mobil sudah berhenti di depan mulut gang, tapi Aries tak tega harus membangunkan Hana. Tangan Aries meraih tangan Hana lalu menggenggam tangan Hana dan membawanya ke bibirnya. Di cium tangan Hana, kemudian tangan Aries mengusap pipi halus Hana. Karena merasa terusik, Hana mengerjapkan matanya, dengan cepat Aries menarik tangannya saat melihat Hana mulai terbangun.


"Sudah sampai ya?"


"Iya."


"Makasih ya, sudah mengantarkan aku pulang."


"Iya. Aku akan antar kamu sampai depan kontrakan."


"Terserah kamu."

__ADS_1


__ADS_2