
Sudah beberapa hari, Hana tak mendapatkan kabar dari Aries. Lelaki yang biasanya selalu mengusiknya setiap waktu, tapi sudah beberapa hari ini Hana tak melihat batang hidung Aries bahkan pesanpun tak ada dari lelaki itu.
Berkali-kali Hana menengok layar handphonenya, hanya untuk mengecek pesan dari lelaki yang sering mengganggu hidupnya akhir-akhir ini. Hana hanya bisa mendengus setiap kali menatap gawainya.
"Kenapa aku mengharapkan kabar dari dia sih!" Dengus Hana yang sebal karena tak ada pesan satupun yang masuk dari Aries.
"Kenapa lagi dengan hatiku ini?, kenapa sekarang aku selalu kepikiran lelaki itu sih," kesal Hana seraya memukul guling yang tengah di peluknya.
"Aarrggh ... enyah-enyah dari pikiranku!!"
Lalu Hana menelungkupkan badannya, berharap bisa menghilangkan tentang lelaki yang sudah mengganggu hidupnya.
"Apa aku telpon aja ya?, nggak-nggak. Nanti yang ada dia jadi ke ge'eran lagi. Au ... ah lebih baik tidur," gerutu Hana seraya membanting gawainya ke atas kasur lalu menarik selimutnya, berharap esok dia tak lagi memikirkan Aries.
Tik tak tik tak
Suara detak jarum jam terus terdengar di kesunyian kamarnya. Hana sudah berusaha memejamkan matanya, tapi isi pikirannya di penuhi oleh sosok Aries.
"Huft...." Hana menghembuskan nafasnya dan kini Hana bangkit dari tempat tidurnya. Hana melirik jam di handphonenya dan ternyata sudah larut malam tapi hatinya benar-benar gundah gulana dan nggak bisa mengenyahkan sosok Aries dari pikiran dan juga hatinya.
Hana meraih kembali handphonenya dan mendial nomor Aries, tapi sayang nomor Aries tak aktif. Hana mencoba beberapa kali menelpon Aries tapi lagi-lagi nomornya tidak aktif.
"Nih orang kemana sih!, kenapa nomornya nggak aktif sih!," kesal Hana seraya membanting tubuhnya ke kasur.
Sedangkan orang yang di pikirkan Hana baru saja menyelesaikan meeting penting di negara lain. Aries yang mendapat kabar kalau perusahaannya yang ada di luar negri bermasalah, sehingga membuat Aries harus turun tangan langsung serta harus mencari tahu kenapa perusahaannya bermasalah.
Aries melangkah memasuki hotel di mana dirinya menginap. Saat sudah tiba, Aries langsung duduk seraya melonggarkan dasinya yang merasa mencekiknya.
"Handphone aku mana?" tanya Aries kepada Syam.
"Ini Tuan...." Syam memberikan Handphone Aries ke pemiliknya, kemudian Aries mengibaskan tangannya. Syam yang mengerti dengan gerakan tangan Aries segera meninggalkan kamar tuanya.
Aries mengaktifkan handphonenya, kemudian ada notif yang memberitahukan bahwa nomor 0899738xxxx menelponnya. Aries tersenyum lebar saat tau itu nomor handphone Hana.
Aries mencoba menelpon nomor Hana, tapi deringan pertama tak di angkat. Aries mencoba kembali dan kali ini di angkat. Aries mengalihkan ke video call.
__ADS_1
"Hai...." sapa Aries seraya tersenyum memandang wajah Hana yang sayu.
"Hmm...."
Aries hanya menggeleng melihat Hana yang terkantuk-kantuk.
"Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?" cibir Hana.
"Karena kamu cantik."
"Ck, kenapa kamu ngehilang dan nggak ada kabar," ujar Hana kesal.
Aries tergelak mendengar perkataan Hana, "Apanya yang lucu?" ucap Hana ketus.
"Nggak!, jadi selama aku nggak kasih kabar ternyata kamu begitu merindukan aku," pungkas Aries seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Ih ... pede banget sih. Justru aku tuh bersyukur karena nggak ada yang mengganggu aku," ketus Hana.
"Masa...." goda Aries.
"Jadi kamu nggak mau ngaku nih."
"Udah ah, aku mau tidur. Besok aku harus kerja!"
Hana langsung mematikan teleponnya, tapi di balik itu semua bibir Hana mengulum senyum seraya mendekap handphonenya dan langsung memejamkan matanya untuk menjemput sang mimpi.
Sedangkan di tempat lain, Aries tersenyum lebar. Meskipun Hana tidak mau mengakuinya kalau ternyata tengah merindukannya.
"Perjuangan kamu untuk mendapatkan hati Hana, tinggal beberapa langkah lagi," gumam Aries.
***
Akhir weekend ini, toko kue tengah banyak pesanan. Hana dan yang lainnya benar-benar di sibukkan dengan membuat adonan. Sampai-sampai waktu pun tak terasa sudah beranjak malam. Hana yang kelelahan langsung terduduk dan meminum jus.
"Hari yang sangat melelahkan," gumam Hana sambil memijat pundaknya.
__ADS_1
"Ya nih, Alhamdulillah beres juga," timpal teman sejawatnya.
"He'emmm...." sahut Hana seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah mengecek semuanya, tokopun segera di tutup. Hana dan yang lainnya keluar dari toko kue dan berpisah di teras toko, untuk pulang dan beristirahat.
Tanpa sepengetahuan Hana, Aries sudah menunggu Hana di pinggir jalan.
"Hai ... baru pulang Neng."
Hana terbelalak melihat Aries yang sudah berdiri di depannya dengan senyum manisnya.
"Sejak kapan kamu ada di sini?"
"Sejak kamu keluar dari toko," sahut Aries.
Kemudian Aries membuka pintu mobilnya untuk Hana dan mempersilahkan Hana masuk ke dalam mobil.
" Kamu lapar nggak?" tanya Aries saat sedang memasang seatbeltnya.
"Lapar sih."
"Kalau gitu kita cari makan dulu." Ucap Aries dan Hana pun mengangguk.
Mobil pun melaju membelah jalanan, dari kejauhan Hana melihat kedai bakso.
"Bagaimana kalau kita makan bakso saja," pungkas Hana menengok ke arah Aries.
"Boleh."
Aries pun membelokkan mobilnya ke kedai yang di tunjukkan oleh Hana. Mereka berdua segera turun dan memasuki kedai bakso tersebut, dan langsung memesannya.
Saat sedang menunggu bakso, tiba-tiba ada yang menepuk bahu Hana.
"Hana!"
__ADS_1
Hana pun menengok dan betapa terkejutnya Hana saat tau siapa yang memanggilnya. Hati Hana langsung geram dan murka saat melihat wajahnya, wajah yang tak ingin dia lihat lagi seumur hidupnya. Gara-gara dia, Hana harus kehilangan buah hatinya. Tatapan mata Hana nyalang saat menatap orang yang tengah berdiri di depannya.