
Semenjak kejadian itu, Doni semakin gencar mendekati Hana. Doni tidak peduli dengan ancaman Aries. Satu di dalam pikirannya adalah ingin memiliki Hana, entah gimana caranya yang terpenting dia harus bisa memiliki Hana sebagai kekasih gelapnya.
"Oke, kalian tunggu perintah dariku," ucap Doni di ujung telepon.
Selesai telponnya, Doni lalu tersenyum menyeringai mengingat apa yang akan dia lakukan esok hari.
Hana! kenapa kamu selalu menghantui pikiranku. Bahkan kamu selalu hadir dalam mimpiku. Kamu tenang saja, aku pasti akan mendapatkan kamu dengan caraku. Aku nggak peduli dengan ancaman suamimu itu, yang penting aku bisa memiliki kamu seutuhnya, sebab kamu sudah masuk ke dalam hatiku ini. Hana ... oh ... Hana, aku suka sama kamu.
Saat sedang memikirkan Hana, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya dan mencium punggung Doni. Doni tersenyum, kemudian Doni memutarkan tubuhnya menghadap ke wanita yang kini menjadi istrinya.
"Lagi ngapain disini?" tanya Marisa.
"Lagi ngadem, sekaligus lagi mikirin seseorang yang selalu ada di hati dan pikiranku," ujarnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ck, kamu tuh. Memang aku kenapa?"
"Karena kamu selalu mampu membuat hidup aku lebih berwarna seperti pelangi. Oleh karena itu bagiku kamu adalah pelangi hidupku."
Marisa langsung tersipu mendengar perkataan Doni, bahkan hatinya langsung di hinggapi ratusan kupu-kupu yang berterbangan. Marisa langsung memeluk tubuh tegap Doni dan mencium rahang tegas Doni dengan mesra.
Hana, engkaulah pelangi hidupku saat ini. ucapnya di dalam hati Doni.
"Aku mencintai kamu," ucap Marisa yang kini berada di pelukan Doni.
"Apalagi aku sayang. Aku sangat-sangat mencintai kamu, kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan kita agar bisa hidup bersama dengan kamu dan anak kita, Marshall."
Marisa tersenyum bahagia, karena sekarang hidupnya benar-benar sempurna karena sudah tidak ada lagi penghalang dalam hubungannya dengan Doni.
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini," rayu Marisa dengan tatapan mesra.
"Tentu saja boleh sayang. Ayo kita lakukan di sini."
"Disini! di balkon!" seru Marisa yang tak percaya dengan perkataan Doni.
"Kenapa memangnya? justru sensasinya akan lebih terasa jika kita melakukannya di sini, lagian di sini tidak akan ada yang melihat kita."
Doni langsung mencium bibir Marisa dengan mesra dan juga mereka berdua melakukannya di sana.
***
Pagi pun menyapa bumi, berhiaskan awan mendung. Hana, yang saat ini tengah memasak nasi goreng sosis permintaan Aisyah di kagetkan dengan kecupan mesra di pipinya.
__ADS_1
"Selamat pagi, ibu dari anakku," sapa Aries mesra, kemudian Aries memeluk Hana dari belakang seraya mencium pundak Hana.
Aries yang bucin, tidak peduli dengan tatapan para ART nya yang kini mulai menyingkir dari dapur.
"Abay, lepaskan."
"Aku nggak mau melepaskan kamu."
"Aku lagi masak dan susah bergerak kesana kesini."
"Aku tidak peduli."
Aries tetap memeluk Hana dari belakang, sesekali tangan nakalnya bergerilya ke tempat sensitif Hana.
"Abay!! tangan kamu, iih...."
Hana memukul tangan Aries yang kini sudah berada di balik pakaian Hana.
"Lebih baik kamu duduk di meja makan, sebentar lagi Ais akan turun."
"Iya-iya, aku berhenti gangguin kamu. Tapi ada syaratnya."
"Apalagi sih! pake syarat segala," sungut Hana.
Aries tersenyum dan meninggalkan Hana yang belum selesai memasaknya. Tidak lama, Aisyah pun turun dan duduk manis di meja makan.
" Anak ayah makin cantik saja," seloroh Aries seraya mengelus rambut Aisyah.
"Terima kasih pujiannya ayah."
Hana datang dan membawa masakannya. Hana langsung membagikannya kepada Aisyah dan Aries, kemudian mereka sarapan bersama.
Selesai sarapan, Aries langsung berangkat ke kantor. Aisyah dan Hana juga berangkat ke sekolah.
***
"Belajar yang rajin dan dengarkan apa kata guru," nasihat Hana kepada Aisyah.
"Iya, ibu. Ais masuk ke kelas dulu."
Sebelum masuk ke sekolah, Aisyah terlebih dulu mencium tangan Hana. Setelah itu, Aisyah langsung masuk ke dalam sekolah.
__ADS_1
Hana langsung meninggalkan sekolahan Aisyah dan berjalan menuju mobilnya.
"Tante...."
Hana berhenti dan menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Iya, kenapa dek?"
"Aku boleh minta tolong nggak Tante," ucap anak laki-laki yang seumuran dengan Marshall.
"Minta tolong apa?"
"Adik aku sakit, sekarang adik aku ada di sana sendirian. Apa Tante mau menolong adik aku yang sedang sakit?"
"Baiklah, sekarang tunjukkan dimana adik kamu berada."
"Di sana Tante." Tunjuk anak lelaki itu.
Hana dan anak lelaki itu segera menemui adiknya yang sedang sakit. Tanpa rasa curiga Hana mengikuti langkah anak laki-laki itu, hingga tiba di jalan yang tidak begitu ramai.
"Dimana adik kamu?" tanya Hana.
"Sebentar lagi sampai kok Tante," jawabnya.
Hana terus mengikuti anak tersebut dan berhenti di dekat sebuah gerobak.
"Adikku ada di dalam gerobak itu Tante."
Hana pun langsung mendekati gerobak tersebut, tanpa sepengetahuan Hana dari arah belakang seseorang mendekati Hana dan membekap mulut Hana.
Hana langsung jatuh pingsan dan orang tersebut membawa tubuh Hana ke dalam mobil.
"Kerja yang bagus anak kecil," ucap orang itu kepada anak lelaki yang tadi meminta tolong kepada Hana, kemudian orang itu memberikan sejumlah uang kepada anak lelaki tersebut.
Setelah itu, Hana di bawa oleh orang yang membiusnya ke suatu tempat yang sudah di persiapkan oleh bosnya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍
__ADS_1
Salam sayang dari othor 😘😘