Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 55


__ADS_3

Setelah pembicaraan Aries dan Marshall selesai, kini keduanya kembali masuk dan Hana pun sudah selesai dengan ritual mandinya.


Sebelum Aries berangkat bekerja ke kantor, Aries terlebih dulu menunggu Aisyah di periksa oleh dokter, agar tahu bagaimana keadaan Aisyah. Agar Aries tahu berkembangan Aisyah selama di rawat.


"Gimana Dok, apa anak saya keadaannya mulai membaik?" tanya Aries serius.


"Keadaan pasien sudah bagus, bahkan luka di kepalanya juga semakin membaik. Tapi kita harus melakukan CT Scan di kepalanya, dan pemeriksaan yang lainnya. Semoga saja hasilnya bagus dan tidak ada yang perlu di khawatirkan," imbuh dokter.


"Ya Dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya. Jangan sampai ada hal yang bisa membuat anak saya drop di kemudian hari," sambung Aries.


"Iya tuan, pasti saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien saya," kata dokter.


"Anak cantik bisa duduk dulu, karena dokter mau mengganti perbannya dengan yang baru," pinta sang dokter.


Hana yang selalu ada di samping Aisyah, dengan sigap membantu Aisyah menegakkan tubuhnya. Dokter pun segera mengganti perban yang melilit di kepala Aisyah dengan yang baru. Selesai mengganti perban, dokter pun pamit undur diri dari ruang rawat Aisyah.


"Ais, sayang. Ayah berangkat kerja dulu, kalau Ais butuh sesuatu bilang sama ibu," ucap Aries.


"Iya, ayah. Tapi pulangnya jangan malam-malam, Ais pengen ayah selalu membacakan cerita untuk Ais, sebelum Ais tidur."


"Oke, ayah usahakan pulang cepat. Tapi Ais jangan rewel ya...."


Aisyah mengangguk dan Aries mencium kening Aisyah.


"Cepat sembuh ya, sayang."


"Marshall, om titip Ais."


"Siap, om."


Aries tersenyum dan mengacak rambut Marshall, setelah itu Aries melangkah mendekati Hana yang sedang duduk di sofa.


"Aku kerja dulu. Titip anak-anak, kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."


" Iya, sudah sana berangkat. Kasian pak Syam menunggu kamu dari tadi," usir Hana.


Aries pun bergegas berangkat ke kantor bersama Syam.


Waktu terus bergulir menuju siang. Hana melirik jam di handphonenya karena sudah menunjukkan waktu untuk makan siang, sedangkan Aisyah tengah tertidur pulas setelah menggambar bersama Marshall.


"Shall, tante keluar dulu sebentar. Tante mau mencari makan siang untuk kita. Tante titip Ais, ya."


" Iya, tan...." jawab Marshall yang kini tengah menonton tivi.


" O iya, di luar ada yang jaga kamar Ais. Kalau butuh sesuatu atau apa, langsung bilang sama mereka," ucap Hana.


Marshall pun mengangguk dan Hana segera keluar mencari makan siang untuk mereka. Tidak lama Aisyah pun terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling kamar rawatnya yang sepi, hanya suara televisi yang menggema di ruangan itu.


"Abang, ibu mana?" tanya Aisyah sembari mengucek matanya.


Marshall langsung menengok dan mendekati Aisyah di ranjang.

__ADS_1


"Tante Hana pergi cari makan. Kenapa? Ais butuh sesuatu?"


Ais pun mengangguk, " Ais pengen minum...." rengek Aisyah.


Marshall segera mengambil minum untuk Aisyah dan menyodorkan minuman itu ke Aisyah.


"Sudah?" tanya Marshall dan Aisyah hanya mengangguk.


"Abang mau ngomong sama Ais."


"Ngomong apa?"


Marshall naik ke ranjang dan duduk menghadap ke Aisyah yang tengah terbaring.


"Dengarkan Abang baik-baik. Ini soal siapa orang tua kandung Ais yang sebenarnya," ujar Marshall yang mulai menjalankan apa yang di minta oleh Aries tadi pagi.


"Maksud Abang?"


" Ayah Aries dan ibu Hana adalah orang tua kandung Ais."


"Orang tua kandung," ulang Aisyah bingung.


"Iya ... mereka orang tua kandung Ais. Ibu Hana yang sudah melahirkan Ais dan ayah Aries adalah ayahnya Ais yang sesungguhnya, bukan papa Adam."


"Kok bisa? Ais jadi bingung?" cetus Aisyah yang belum paham.


" Papa Adam itu, hanya mengasuh kita saja. Sedangkan orang tua Ais adalah om Aries dan tante Hana, mereka orang tua Ais yang sebenarnya."


"Bukan!" Geleng Marshall.


"Mama Marisa juga?"


"Iya...."


Tiba-tiba wajah Aisyah menjadi murung, dan membuat Marshall mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Marshall.


"Padahal Ais sayang sama mama Marisa, tapi mama Marisa kenapa nggak suka sama Ais?" ucapnya sedih mengingat perlakuan Marisa terhadapnya.


"Apa karena Ais bukan anak Mama ya, bang?"


"Mungkin, tapi harusnya sekarang Ais senang, karena Ais sudah punya ibu yang menyayangi Ais dan ada ayah Aries yang sama sayangnya seperti papa Adam."


"Kalau memang benar ayah dan ibu orang tua Ais, berarti Ais boleh minta adik dong!" ucapnya antusias.


"Tentu saja boleh. Ais tinggal bilang sama ibu dan ayah saat mereka kumpul sama Ais."


"Asik ... Ais akan bilang sama ibu dan ayah." Girang Aisyah yang ingin sekali memiliki seorang adik.


"Iya, tapi bilangnya kalau ada om Aries dan tante Hana, ya."

__ADS_1


" Ya, bang," jawab Aisyah senang seraya tersenyum ceria.


Hana pun kembali dan membawa makan siang untuknya dan Marshall, sedangkan Aisyah terus tersenyum ceria lantaran keinginannya memiliki seorang adik akan terkabulkan. Dengan sabar Aisyah menunggu Hana menyelesaikan makan siangnya dan meminta Aries segera pulang.


"Ibu, Ais boleh telpon ayah?" ujar Aisyah yang melihat Hana membereskan makan siangnya.


"Boleh, Ais mau ngomong sama ayah?" tanya Hana sembari mengambil handphonenya di dalam tasnya.


"Iya...."


Hana pun menelepon Aries dan langsung di angkat oleh Aries.


'Halo...'


"Halo, ayah. Ini Ais...."


'Iya, kenapa sayang. Apa Ais ingin sesuatu?'


" Ayah cepat ke sini, Ais mau minta sesuatu sama ayah dan ibu."


'Minta apa, sayang?'


"Pokoknya, ayah harus cepat pulang. Ais nggak mau tau!"


'Iya-iya, ayah ke sana sekarang.'


Aisyah pun mematikan teleponnya dan menyerahkan handphone ke Hana sembari tersenyum ceria.


***


Aries yang mendapat telpon dari Aisyah, langsung meninggalkan meetingnya dan menyerahkan kepada Syam. Aries tidak mau membuat Aisyah marah dan menunggunya terlalu lama.


Saat ini Aisyah adalah prioritas utama untuknya dan yang lain di bawah posisi Aisyah dan Hana. Aries segera meninggalkan perusahaannya dan menuju ke rumah sakit.


Hanya memerlukan waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah sakit dan Aries segera menemui Aisyah yang sudah meneleponnya yang kedua kalinya saat dia di jalan.


Dengan langkah lebar Aries menuju kamar inap Aisyah, dan kini Aries sudah berada di depan kamar inap Aisyah. Aries langsung masuk dan di sambut dengan senyuman sang putri tercintanya dengan wajah ceria.


Aries yang melihat Aisyah tersenyum ceria langsung mendekati Aisyah dan mencium kening Aisyah, lalu duduk di tepi ranjang.


" Oke, sekarang ayah sudah ada di sini? Ais mau minta apa sama ayah dan ibu?" tanya Aries sembari menarik hidung Aisyah gemas.


"Ais sudah tau kalau ibu dan ayah adalah orang tua Ais yang sebenarnya. Jadi Ais pengeeen sekali punya adik seperti teman-teman Ais di sekolah. Ayah dan ibu mau kan mengabulkan permintaan Ais yang pengen punya adik?"


"Adik!!" Jawab Aries dan Hana bersamaan.


_______***______


Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍


Salam sayang dari othor 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2