
"Tante ... Ais haus...." lirih Aisyah menatap Hana.
Aries langsung mengambil air mineral di atas nakas dan memberikannya kepada Hana. Hana mengangkat kepala Aisyah, agar Aisyah bisa minum. Aisyah langsung membasahi tenggorokannya yang kering, hingga tersisa setengah botol air mineral.
"Sudah?" tanya Hana dan Aisyah mengangguk lemah.
Dengan penuh kehati-hatian, Hana meletakan kepala Aisyah ke atas bantal kemudian Hana menyimpan air minum ke nakas.
"Tante, Ais kenapa bisa ada di rumah sakit?"
"Ais, ketabrak mobil. Makanya ibu bawa Ais ke rumah sakit, biar Ais cepet sembuh."
"Terima kasih tante udah nolongin Ais."
"Iya, sayang," ucap Hana lembut seraya tersenyum simpul memandang wajah cantik Aisyah.
Tiba-tiba wajah Aisyah berubah sendu, membuat Hana mengernyitkan dahinya.
"Kenapa sayang? kenapa wajah Ais di tekuk?" tanya Hana sembari mengelus rambut Aisyah.
"Nanti, kalau Ais udah sembuh, Ais bingung bobonya dimana? sedangkan Ais nggak boleh pulang ke rumah," ungkapnya penuh kesedihan.
"Ais akan tinggal bersama ibu, Ais mau?"
"Beneran, tante?" ucap Aisyah berbinar.
"Iya, ibu nggak bohong, kan sekarang Ais anak ibu."
Aisyah tersenyum manis, "Terima kasih, tante."
"Ibu!, mulai sekarang Ais harus panggil tante, Ibu," pinta Hana.
"Iya, ibu...." ucap Aisyah.
"Bagus," seru Hana seraya mengacungkan jempolnya.
" Sekarang, Ais istirahat lagi. Ibu akan menjaga Ais di sini," titah Hana seraya membetulkan selimut Aisyah dan Aisyah pun mengangguk.
Hana terus memandangi wajah manis Aisyah, putri tercintanya yang lama hilang dan kini Aisyah sudah kembali ke pelukannya.
Aries yang sejak tadi diam dan memperhatikannya juga ikut memandangi wajah damai Aisyah.
"Hana...."
"Hmm, kenapa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kalian tinggal bersamaku?"
"Kenapa mesti tinggal di rumah kamu? Aku dan Aisyah akan tetap tinggal di rumah kontrakanku."
"Kamu jangan keras kepala. Aku nggak mau kalian kenapa-napa jika kalian berdua jauh dari pengawasanku. Pokoknya kamu dan Ais harus tetap tinggal bersamaku."
" Aries."
"Hana! ini demi kebaikan kita bersama. Jadi kamu harus nurut sama aku dan aku nggak mau ada penolakan." Tegas Aries.
"Tapi----"
"Hana!"
"Baiklah, terserah kamu," jawabnya pasrah.
***
Marshall yang sudah tiga hari ini, selalu menanyakan keberadaan Aisyah kepada semua penghuni rumah, tapi tak seorang pun yang menjawab dimana Aisyah berada, membuat Marshall marah akan sikap semua orang yang tinggal bersamanya.
"Ma, sebenarnya Ais dimana sih?" tanya Marshall untuk kesekian kalinya.
Marisa mendengus, lagi-lagi Marshall menanyakan keberadaan Aisyah yang menurutnya hanyalah benalu di rumahnya.
"Apa!! Kenapa Mama usir Ais sih!" geram Marshall yang tak menyangka kalau mamanya tega mengusir Aisyah.
"Buat apa si bocah pembawa sial itu, tinggal bersama kita. Emang dia siapanya kita? Keluarga juga bukan." Ketus Marisa.
"Ma, Ais itu bukan pembawa sial. Ais itu adikku dan Ais harus tetap tinggal di sini bersama kita."
"Adik! Adik dari mana? dari hongkong!" Ketus Marisa.
"Sudahlah, lupakan Aisyah dan kita akan tinggal bertiga dengan papa Doni."
"Marshall benci sama mama! Marshall akan cari Ais sampai ketemu," seraya meninggalkan Marisa di kamarnya.
"Marshall! Berhenti kamu, jika kamu berani pergi cari si anak sialan itu, Mama kurung kamu di kamar," ancam Marisa.
"Terserah, pokoknya Marshall akan tetap mencari Ais sampai ketemu," bantah Marshall dan tidak peduli dengan ancaman Marisa.
Marshall bergegas ke kamarnya dan membongkar celengannya untuk bekal di jalan, kemudian Marshall mengambil beberapa lembar pakaiannya dan di masukan ke dalam rangselnya.
Marshall melangkah keluar meninggalkan kamarnya. Marisa yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Doni langsung geram melihat anak semata wayangnya itu yang membangkang dan tak peduli dengan ancaman yang Marisa katakan.
"Marshall, berhenti kamu!" teriak Marisa tapi Marshall mengacuhkan panggilan Marisa dan tetap melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
__ADS_1
Marisa geram dan mempercepat langkah kakinya, menyusul Marshall yang lebih dulu turun.
"Mas, cepat tangkap Marshall."
Doni pun mengangguk dan berlari mengejar Marshall yang ternyata sudah di luar rumah dan akan berlari ke arah gerbang.
Doni yang berhasil mengejar Marshall langsung menangkap tubuh Marshall dan membawa Marshall masuk ke rumah.
"Lepaskan aku, om!" berontak Marshall dari rengkuhan kuat Doni.
"Diam dan ikuti apa kata Mama kamu," cetus Doni yang semakin erat merengkuh tubuh Marshall.
"Mas, ayo bawa Marshall ke kamarnya," titah Marisa.
Doni mengangkat tubuh Marshall dan membawa Marshall ke kamarnya. Marshall terus memberontak dalam gendongan Doni serta memukul tubuh Doni.
"Lepaskan aku, om!" teriak Marshall seraya memukul Doni.
"Diam!" bentak Doni.
Kini Marshall sudah berada di kamarnya dan sudah di turunkan dari gendongan Doni.
"Dengar, jangan berani-berani kabur dari disini. Jika kamu melanggarnya, Mama tidak segan-segan mengirim kamu ke Surabaya, agar kamu di urus sama bude kamu!" Ancam Marisa.
Marshall mendengus mendengar penuturan Marisa.
"Ayo mas kita keluar," ajak Marisa kepada Doni.
Marisa pun mengunci pintu kamar Marshall dan meninggalkan kamar Marshall.
"Aku nggak peduli dengan ancaman Mama, pokoknya aku harus mencari Ais," gumam Marshall.
Kemudian Marshall menatap sekeliling kamarnya mencari jalan keluar agar bisa kabur dari rumah. Marshall tersenyum seringai saat sudah menemukan jalan keluar agar bisa kabur. Marshall membuka jendelanya dan menengok ke bawah.
"Tinggi juga ternyata, bagaimana caranya aku kabur dari sini."
Marshall berusaha keras untuk berpikir, caranya bisa turun ke bawah.
"O iya, kenapa nggak kepikiran dari tadi."
Marshall menarik seprai dan mengikatnya, "Ternyata masih kurang panjang."
Marshall mencari ke lemari dan mencari seprai dan kain panjang, setelah mengumpulkannya, Marshall segera mengikat satu persatu dan menurunkannya ke bawah. Setelah di rasa cukup panjang, Marshall segera turun ke bawah.
Marshall mengendap-endap saat melangkah keluar dari halaman belakang dan segera keluar dengan cara memanjat pagar rumah.
__ADS_1