
Triiiing....
Suara panjang bel sekolah, bertanda tiba waktunya istirahat. Aisyah dan temannya keluar dari kelas menuju kantin sekolah. Semua siswa berdesak-desakan saat berada di kantin dan memilih jajanan, tidak sedikit dari mereka juga ada yang membawa bekal.
Aisyah yang memang sudah di bawakan bekal makanan oleh sang ibu, langsung membukanya setelah Aisyah dan temannya yang bernama Arumi duduk di kantin. Keduanya sering bertukar makanan, bahkan jika di antara mereka tidak ada yang membawa bekal, maka Aisyah dan Arumi saling berbagi.
"Hai, Ais...." Sapa seorang anak lelaki yang kini ikut bergabung dengan Aisyah dan Arumi.
Aisyah mendongakkan kepalanya dan menatap wajah anak laki-laki itu. Aisyah tak menjawab, malah Aisyah tetap melanjutkan makannya dan tidak memperdulikan anak laki-laki itu yang kini sedang memandanginya.
"Kamu mau ini...."tawarnya kepada Aisyah, lalu Aisyah menggeleng.
" Nggak, Ais nggak suka makanan pedas."
Anak lelaki itu menggembungkan pipinya, sudah beberapa kali anak lelaki itu mendekati Aisyah. Anak lelaki itu ingin sekali berteman dekat dengan Aisyah, tapi Aisyah selalu saja bersikap cuek.
"Sini kasih ke aku. Aku mau kok dan aku suka makanan pedas," seloroh Arumi.
"Nggak, lagian aku kan menawarkannya kepada Ais bukan sama kamu yang gendut," ejeknya kepada Arumi.
Arumi langsung menundukkan kepalanya, sedih sudah pasti. Siapa sih yang tidak sedih kalau di ejek. Aisyah yang sejak tadi diam, kini mulai bicara kepada anak lelaki itu.
"Eh, Gio. Kalau kamu nggak mau kasih ke Arum jangan ngatain Arum gendut dong. Lihat Arum, jadi sedih kan," cecar Aisyah yang tak suka dengan ejekan Gio terhadap temannya.
"Emang dia gendut, kok dan juga dia orang miskin. Ais kok mau sih berteman dengan orang miskin kaya dia." Tunjuknya kepada Arumi.
"Arum nggak miskin, kok. Kalau kamu nggak suka sama Arum, ya sudah sana pergi. Lagian kata ibu dan ustadzah semua manusia sama di mata Allah, nggak ada yang beda."
"Di kasih tau yang bener, kok Ais marah-marah sama aku," jawab Gio seraya melirik Arumi sinis.
"Ais pasti akan marah, Arum kan teman Ais."
"Ya udah deh, aku pergi saja."
__ADS_1
Gio pun pergi dari hadapan Aisyah dan Arumi.
"Ais nggak malu berteman dengan Arum...."
"Nggak, Arum kan teman baik Ais. Sudah jangan sedih, Ais akan selalu jadi teman Arum."
Aisyah dan Arumi pun sama-sama tersenyum tulus. Keduanya melanjutkan acara makan yang tadi sempat tertunda karena Gio mengganggunya.
Saat sedang asik menghabiskan makanannya, minuman Aisyah tersenggol dan tumpah.
"Ya ... tumpah minuman Ais," seloroh Aisyah, sedangkan tenggorokannya sudah seret ingin minum.
"Punyaku juga habis," timpal Arumi, sembari menunjukkan botol minumnya yang sudah kosong.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menyodorkan Aisyah sebotol air mineral. Aisyah langsung memutarkan tubuhnya dan tersenyum manis saat tau siapa yang memberikannya minuman.
"Abang!" Ucapnya seraya tersenyum.
Aisyah langsung menerima air mineral itu dan segera Ais buka, tapi karena air mineral itu masih di segel, Ais kesusahan membuka tutup botol tersebut.
"Susah bukannya...." rengek Aisyah sembari menggembungkan pipinya.
Marshall hanya tersenyum simpul dan mengambil air mineral dari tangan Aisyah lalu membukakannya.
"Nih...." Marshall langsung menyodorkannya ke Aisyah dan Aisyah pun meraih air mineral itu dan langsung meminumnya hingga air mineral itu tersisa setengahnya.
"Terima kasih, Abang."
"Iya, sama-sama."
Aisyah dan Arumi segera membereskan tempat makannya dan segera meninggalkan area kantin.
"Abang, Ais ke kelas dulu ya," pamit Aisyah.
__ADS_1
"Iya...."
Aisyah dan Arumi kini meninggalkan Marshall di kantin dan berjalan ke kelas. Karena masih istirahat, banyak anak-anak yang masih bermain di luar kelas, bahkan ada yang juga bermain kejar-kejaran. Saat sedang bercengkrama dengan Arumi, tubuh Aisyah terdorong dan membuat Aisyah terjatuh sampai-sampai lututnya terluka dan berdarah akibat ulah salah satu murid yang sedang bermain kejar-kejaran sama temannya.
"Aduh ... sakit...." rengek Aisyah.
"Maaf, nggak sengaja," seloroh anak lelaki yang menabrak Aisyah dan pergi begitu saja dari hadapan Aisyah dan Arumi.
"Ais...." teriak Marshall yang melihat Aisyah terjatuh.
Marshall pun berlari mendekati Aisyah, yang kini terduduk di lantai seraya memegangi lututnya yang terluka. Marshall yang melihat lutut Aisyah yang terluka segera membantu Aisyah bangun dari duduknya.
"Ais duduk di sana dulu," ucap Marshall yang kini membantu Aisyah dan memapahnya ke kursi yang tidak jauh dari sana.
"Tunggu di sini, Abang beli plester dulu."
Aisyah pun mengangguk. Marshall segera membeli plester, setelah mendapatkan plesternya, Marshall langsung menemui Aisyah.
"Sini, Abang obati lukanya."
Marshall langsung mengobati lutut Aisyah. Sebelum memasang plesternya, Marshall terlebih dulu membersihkan luka Aisyah menggunakan air dan setelah itu mengelapnya dengan tisu kering dan terakhir menutup lukanya dengan plester.
"Sudah selesai," seloroh Marshall.
"Terima kasih, Abang. Abang memang yang terbaik," ucap Aisyah bangga memiliki seorang Abang seperti Marshall.
Marshall hanya tersenyum menanggapi omongan Aisyah, bagi dirinya Aisyah sangat berarti dalam hidupnya. Apa lagi dirinya sudah berjanji kepada mendiang papa Adam, kalau dirinya akan selalu menjaga Aisyah selama dirinya masih bernafas.
"Ayo, Abang akan gendong Ais sampai ke dalam kelas." Aisyah langsung naik ke punggung Marshall, dan dengan hati-hati Marshall menggendong Aisyah sampai di dalam kelasnya Aisyah.
_______***______
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍
__ADS_1