
Sebulan sudah Hana bekerja di toko kue itu, tapi selama itu Hana juga belum mendapatkan titik terang keberadaan anaknya. Akan tetapi Hana menikmati hari-harinya sebagai pegawai toko roti, banyak hal yang Hana pelajari tentang pembuatan kue-kue. Berbagai jenis kue yang sudah Hana kelola dengan sangat baik, bahkan kue buatan Hana tak kalah enak dari buatan majikannya.
Pagi itu, semua karyawan tengah di sibukkan dengan pesanan yang mendadak dan harus di kirim hari itu juga.
"Hana...." Panggil Bu Muti.
"Iya, Bu!" sahut Hana yang tengah memasukan kue-kue pesanan ke dalam box kue.
"Kamu bisa antarkan pesanan ini ke perusahaan The Star Grup?"
"Bisa, Bu." Seraya menganggukkan kepalanya.
"Nanti kamu berangkat bareng Mang Jojo."
"Ya Bu."
Selesai memasukkan kue-kue ke dalam box, Hana segera mengambil tasnya di loker. Hana dan Mang Jojo berangkat ke perusahaan The Star Grup menggunakan sepeda motor, walaupun barang bawaannya banyak, tapi sepeda motor yang di kendarai oleh Mang Jojo muat membawa box kue itu.
Kurang lebih tiga puluh menit, Hana dan Mang Jojo tiba di perusahaan The Star Grup. Hana dan Mang Jojo menghampiri resepsionis terlebih dahulu.
"Permisi, Mba. Saya dari toko keu Muti Cake, pesanan kue-kue ini harus saya bawa kemana?" tanya Hana ke salah satu petugas resepsionis.
"Sebentar, saya telpon sekretaris Bos kami dulu."
Sambil menunggu, Hana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu.
"Perusahaan ini cabangnya banyak, Mba!" Cetus Mang Jojo.
Hana menanggapinya dengan anggukan. Sembari melihat para karyawan yang sedang beraktivitas.
" Dan yang saya dengar, pemilik perusahaan ini masih muda dan single," sambung Mang Jojo.
"Oh, ya!"
"Iya, kalau tidak salah nama pemiliknya adalah Tuan Ar---" Ucapan Mang Jojo terputus.
"Maaf, Mba. Kata sekretaris Mira langsung naik saja ke lantai dua belas. Nanti anda akan bertemu dengannya."
"Oh, baik Mba. Kalau begitu saya permisi." Pamit Hana kepada petugas resepsionis.
" Ya, silahkan." Ujarnya.
__ADS_1
Hana dan Mang Jojo segera melangkah ke arah lift. Kini keduanya sudah tiba di lantai dua belas, Hana dan Mang Jojo di sambut oleh sekretaris Mira.
" Mari, ikut saya." Ajak sekretaris Mira.
Hana dan Mang Jojo mengikuti langkah sekretaris Mira ke sebuah ruangan yang cukup besar dan banyak kursi serta meja panjang di tengah ruangan itu.
"Maaf, cake-cake'nya bisa sekalian di tata di piring." Pinta sekretaris Mira.
"Bisa-bisa!" Jawab Hana cepat.
"Saya tinggal dulu, nggak apa-apa kan. Soalnya saya harus memanggil Bos saya dulu, karena sebentar lagi rapatnya akan di mulai."
"Ya, silahkan," sahut Hana sembari meletakkan cake'nya di piring.
Hana dan Mang Jojo dengan gesit memindahkan cake tersebut ke piring dan menata cake tersebut ke semua meja.
Baru selesai menata cake, semua orang yang akan ikut rapat masuk satu persatu. Ada yang menyapa Hana dan Mang Jojo, ada juga yang cuek saja dengan keberadaan Hana dan Mang Jojo.
Hana dan Mang Jojo segera keluar karena tugasnya sudah selesai. Mang Jojo melangkah lebih dulu, sedangkan Hana masih berada di belakang, membereskan box kue dan membawanya keluar. Hana menutup pintu ruang rapat dan memutarkan tubuhnya. Saat akan melangkah, tubuh Hana bertubrukan dengan sang pemilik perusahaan The Star Grup. Sehingga box yang Hana bawa berjatuhan dan tubuh Hana hampir tersungkur ke lantai, untung saja tubuh Hana di tangkap oleh pemilik perusahaan itu.
Hana mendongakkan kepalanya dan menatap wajah yang menangkap tubuhnya. Seketika mata Hana membesar saat tau siapa yang sedang berada di hadapannya. Ingat Hana kembali ke masa lampau, dimana kesuciannya terenggut oleh orang yang tak di kenalinya. Begitupun dengan Aries yang menatap wajah Hana, wajah yang dulu memelas dan memohon agar berhenti menyentuh tubuhnya.
Wanita yang selama ini Aries cari-cari, sekarang sudah berada di hadapannya. Rasa bersalah terhadap Hana tak pernah hilang dari hatinya, justru membuatnya semakin merasa bersalah dan menyesakkan dadanya.
Hana segera melepaskan diri dari Aries dan berlari dari hadapan Aries. Hana tak mau bertemu lagi dengan orang yang sudah merenggut kesuciannya. Rasa sakit itu muncul lagi di hati Hana, di tambah lagi dengan kehilangan buah hatinya.
"Hana!, tunggu!" Teriak Aries.
"Syam, telpon keamanan agar seluruh pintu masuk segera ditutup dan nggak boleh ada yang keluar dari sini, siapapun itu!" Pinta Aries kepada asisten pribadinya yang bernama Syamsir. Syamsir pun mengangguk dan melaksanakan tugas dari Tuannya.
Aries segera mengejar Hana, dia tak mau kehilangan jejak wanita yang selama ini dia cari-cari hingga sekarang. Kali ini dia nggak akan melepaskannya.
Hana yang sudah berada di lantai dasar segera menghampiri Mang Jojo.
"Ayo, Mang. Kita harus segera balik lagi ke toko!" Desak Hana dan sedikit menyeret tangan Mang Jojo.
" Tapi, Na...."
"Ayo, cepat." Hana memotong omongan Mang Jojo.
"Maaf, tidak boleh ada yang keluar dari sini," ucap scurity.
__ADS_1
"Tapi, Pak. Kita harus segera balik lagi ke tempat kerja kami dan kami sudah di tunggu sama Bos kami," tukas Hana.
"Maaf Mba!, ini perintah dari atasan kami." Tegas scurity itu berucap.
Hana menghela nafasnya, Hana harus berpikir bagaimana caranya agar bisa lolos dari tempat ini.
Aries sudah tiba di lantai dasar dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. Aries terus mencari keberadaan Hana, tapi Aries tak melihat Hana di semua tempat.
"Apa ada yang keluar dari sini!" Ucap Aries lantang.
"Tidak ada Tuan," jawab salah satu scurity.
"Lalu Hana kemana?, mana mungkin Hana keluar dari sini," gumam Aries.
"Dengarkan baik-baik. Jangan ada yang keluar dari sini, paham!"
"Paham, Pak!"
"Kamu ikut dengan saya." Tunjuk salah satu scurity perempuan.
"Baik, Pak."
Hanya ada satu tempat yang belum di periksa olehnya, yaitu toilet.
Sedangkan Hana yang bersembunyi di salah satu bilik toilet, hanya bisa berharap. Semoga dia tak ketahuan oleh Aries.
Brak
Jantung Hana berdekup kencang, saat mendengar pintu toilet di buka. Keringat di dahi Hana mulai bercucuran karena telinga Hana menangkap pintu setiap bilik toilet di periksa. Hana menutup matanya saat derap suara sepatu mendekat ke arah bilik toiletnya.
Ya Tuhan, jangan sampai dia menemukanku.
Tok...tok...tok
"Apa ada orang di dalam!" Seru suara perempuan dari luar bilik.
Hana bingung, apa yang harus dilakukanya. Apa harus menjawab atau diam saja.
"Kalau ada orangnya, tolong jawab," ucapnya lagi.
Orang itu terus mengetuk bilik toilet. Membuat Hana semakin frustasi di buatnya. Hana menggigit bibirnya, Hana benar-benar bingung harus berbuat apa.
__ADS_1