Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 51


__ADS_3

Marshall melangkah mendekati Aisyah di ranjang, dan menatapnya lekat seraya tersenyum senang, Karena harapannya bertemu dengan Aisyah terkabulkan. Begitupun dengan Aisyah, yang sama senangnya bisa bertemu lagi dengan orang yang di sayanginya.


"Apa yang terjadi?" tanya Marshall menatap lekat wajah Aisyah yang sudah beberapa hari ini tidak di lihatnya.


"Ais ketabrak mobil, Bang," jawab Aisyah.


"Maaf. Abang nggak bisa jagain Ais dengan baik, sampai-sampai Mama usir Ais dari rumah. Abang emang nggak becus jaga Ais," ucap Marshall sendu seraya berkaca-kaca, karena merasa gagal menjaga Aisyah dari mamanya yang selalu berbuat kasar.


"Abang tetap yang terbaik buat Ais, Abang jangan bersedih ya."


"Iya...."


"Apa ini sakit?" tanya Marshall menyentuh kepala Aisyah yang di lilit perban.


"Sakit ... tapi, Ais anak yang kuat. jadi Ais nggak boleh nangis. Kata papa, Ais harus jadi anak yang kuat dan nggak boleh cengeng."


"Jadi Abang jangan sedih, Ais disini ada yang jagain Ais. Sekarang Ais sudah punya ibu, dan itu ibu Ais." Tunjuk Aisyah kepada Hana. Marshall pun mengikuti telunjuk Aisyah yang mengarah ke Hana.


Hana mendekati keduanya, kemudian Hana mengelus rambut Aisyah dengan penuh kasih sayang.


"Apa kalian saling kenal?"


" Iya, Bu. Ini Abang Marshall. Abang yang selalu ada buat Ais, saat Ais sedih," tukas Aisyah kepada Hana.


"Terima kasih ya, sudah mau menjaga Ais. Tante ngga tau harus balas dengan apa. Tapi Tante harap kamu terus menjadi kakak yang baik buat anak Tante." Ucap Hana tulus.


" Ya, tan."


Sebenarnya banyak pertanyaan di benak Marshall soal perkataan Hana dan Aries, yang mengaku sebagai orang tua Aisyah.


Sementara itu, di luar kamar rawat Aisyah. Aries yang mendapat telpon dari asistennya yang bernama Syam mengabarkan soal apa yang di minta oleh Aries.


"Ya, Syam. Gimana?"


'Saya sudah mendapatkan informasi yang tuan suruh beberapa hari yang lalu.'


"Oke, setelah dari rumah sakit, saya akan langsung ke kantor. Kamu tunggu saya di di kantor."


'Baik, tuan. Saya akan menunggu tuan di kantor.'

__ADS_1


Aries langsung memutuskan sambungan telepon dengan Syam dan menyimpan kembali handphonenya ke saku celananya.


Aries kembali masuk ke ruang rawat Aisyah, dan mendekati Marshall yang tengah menemani Aisyah di tempat tidurnya.


"Marshall, sekarang sudah sore. Om akan antar kamu pulang ke rumah kamu."


"Tapi, om. Aku masih ingin berada di sini menjaga Ais." Tolak Marshall.


"Tapi kamu harus pulang, pasti orang tua kamu mencari kamu," bujuk Aries.


"Aku nggak peduli, om. Lagian buat apa pulang, nanti yang ada aku nggak bisa bertemu dengan Ais lagi. Mama pasti melarang aku buat ketemu Ais."


"Kalau gitu, Marshall pulang ke rumah saya aja, om," timpal Zidan dan Marshall pun mengangguk setuju.


"Ya sudah, terserah kalian. Yang pasti kalian harus pulang, soalnya nggak baik anak kecil berada di lingkungan rumah sakit."


"Iya, om," seru Zidan.


"Ayo, om antarkan kalian pulang."


"Ais, Abang pulang dulu. Abang janji besok Abang ke sini lagi menjaga Ais."


"Iya, bang."


"Tolong jaga Ais untukku, sayang." Aries mengedipkan sebelah matanya.


"Tanpa di suruh pun, aku pasti menjaga Ais dengan baik," sungut Hana sembari mencebikan bibirnya dan Aries pun menanggapi dengan senyuman.


"Ya ya, aku pergi dulu."


Setelah berpamitan, Aries langsung mengantarkan keduanya pulang ke rumah Zidan yang ternyata tinggal di perkampungan yang kumuh.


"Kita turun di sini aja om," kata Zidan yang kini sudah melompat turun dari mobil dan juga di ikuti oleh Marshall.


"Om boleh ikut?"


"Boleh, jika om mau."


Aries mengikuti langkah keduanya menuju rumah Zidan yang ternyata rumahnya berada di gang sempit, bahkan jalan menuju rumah Zidan harus melewati jalan setapak dan becek.

__ADS_1


Saat sudah tiba di depan rumah Zidan. Hati Aries terenyuh melihat rumah yang sebenarnya tak layak huni, bahkan dinding nya terbuat dari papan yang di tambal oleh spanduk untuk menutupi yang bolong.


"Ayo om masuk," ajak Zidan seraya mendorong pintu rumahnya.


Aries pun mengangguk dan ikut melangkah masuk ke dalam rumah Zidan yang ternyata di sambut oleh neneknya Zidan.


"Assalamualaikum," salam Aries dan mencium tangan neneknya Zidan.


"Wa'allaikumsalam," jawab nenek.


"Maaf nek, saya ke sini cuman mau mengantarkan mereka pulang, karena tadi saya tidak sengaja menabrak adek Marshall," terang Aries menjelaskannya.


"Marshall ketabrak! apa lukanya parah?" tanya nenek yang khawatir terhadap Marshall.


"Nggak kok, nek," sahut Marshall.


"Lain kali hati-hati saat berjalan ya, nak."


"Ya nek...."


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Aries, kemudian Aries mengambil dompetnya di saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang kertas seratus ribuan dari dompetnya dan memberikan kepada neneknya Zidan.


"Ini untuk nenek, maaf saya nggak bisa ngasih yang lebih. Mohon di terima ya, nek." Aries mengulurkan uang tersebut kepada nenek dan nenek menerimanya dengan tangan bergetar.


"Terima kasih ... terima kasih, semoga tuan selalu di limpahkan kebahagiaan dan selalu di lancarkan Rizki nya dan juga semoga Allah membalas kebaikan tuan," ucap nenek seraya berkaca-kaca saat menerima uang dari Aries.


"Aamiin...."


"Saya permisi dulu, nek," pamit Aries.


"Marshall, besok om jemput kamu lagi."


"Iya, om."


Aries pun meninggalkan rumah Zidan dan menuju ke tempat selanjutnya yaitu ke kantornya untuk bertemu dengan Syam, membicarakan kelanjutan yang di pinta Aries beberapa hari yang lalu.


__________***________


Terima kasih, masih setia menunggu cerita ini, meski ceritanya kurang menarik. Walaupun begitu, semoga terhibur dengan ceritanya yang mungkin membosankan dan juga banyak typo nya.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like 👍👍


Salam sayang 😘😘😘


__ADS_2