
Adam terpental kurang dari dua meter, saat tubuhnya menjadi tameng untuk putri tercintanya, agar tidak tertabrak mobil.
"Papa ... Papa!!" jerit Marshall dan Aisyah, keduanya berlari menghampiri Adam yang tergeletak di jalan.
Sedangkan mobil yang menabrak Adam berhenti tidak jauh dari tempat Adam tergeletak. Sang pengendara keluar dari mobilnya dan tersenyum menyeringai melihat Adam terkapar di jalan, setelah itu dia kembali masuk dan mengendari mobilnya sebelum semua orang menyadarinya.
Marshall yang melihat orang yang menabrak Adam hanya memandangnya lekat, dan memperhatikan gerak-geriknya dengan air mata terus rembes membasahi pipinya.
"Papa...." lirih Aisyah di sela tangisannya.
"Tolong ... tolong!!," teriak Marshall.
"Marshall...." panggil Adam sedikit terbata.
"Iya, Pa!" sahut Marshall dengan derai air matanya.
"Tolong jaga Ais, jangan sampai Ais bersedih. Jangan biarkan Ais merasa sendiri. Tolong jaga Ais demi Papa, karena Papa percaya sama kamu Nak," pinta Adam sebelum kesadarannya menghilang.
" Iya, Pa. Marshall pasti akan jaga Ais, Marshall janji, Pa," jawab Marshall menangguk seraya menyeka air matanya yang terus mengalir semakin deras.
" Terima kasih, Nak."
Lalu Adam mengalihkan pandangannya kepada gadis kecilnya yang terlihat sesegukan karena menangisi dirinya yang tertabrak.
"Ais, anak Papa yang cantik. Jangan menangis, Papa nggak kenapa-napa Nak. Lihat Papa masih tersenyum untuk Ais."
"Tapi Papa terluka dan berdarah," ungkap Aisyah sesegukan.
" Ini hanya luka kecil," ucap Adam lirih. Tangan Adam perlahan terulur untuk menyentuh pipi Aisyah, tapi sebelum sampai ke pipi Aisyah, Adam sudah tak mampu lagi mempertahankan kesadarannya dan perlahan Adam menutup matanya.
"Papa bangun... Papa buka matanya, Ais mohon...." ucap Aisyah seraya mengguncang tubuh Adam dan berharap papanya terbangun.
__ADS_1
"Papa ... tolong!", jerit Marshall.
"Papa bangun ... buka mata Papa...." Suara tangis Aisyah semakin pilu karena sang Papa tak kunjung membuka matanya.
"Tuan!" pekik penjaga keamanan rumah mereka dan supir pribadi Aisyah, saat melihat Tuanya tergeletak di jalan di temani kedua anak Tuannya yang menangis.
Semua orang yang berada di sana segera mengangkat tubuh Adam dan membawa tubuh Adam ke dalam taksi, karena hanya taksi yang terlintas di pikiran Mang Jaja ( supir pribadi Aisyah).
"Yo, jangan lupa kamu kasih tau Nyonya," suruh Mang Jaja kepada Suryo, sebelum ikut masuk ke dalam taksi.
"Iya Ja!" Menganggukkan kepalanya cepat.
***
Kini taksi yang membawa Adam sudah tiba di rumah sakit. Mang Jaja turun terlebih dahulu dan berteriak meminta tolong kepada suster yang jaga di UGD.
Semua suster dengan sigap mengangkat dan meletakkan tubuh Adam ke atas brankar. Sedangkan Mang Jaja, Aisyah dan juga Marshall mengikutinya di belakang. Kedua anak kecil itu masih menangisi Adam, Marshall merengkuh bahu Aisyah dan berharap dapat memberikan kekuatan untuk Aisyah meski dirinya juga masih menangis.
"Lebih baik kita berdoa saja, semoga Papa baik-baik saja," ucap Marshall. Aisyah mengangguk lemah.
Ya Allah, Ais mohon sembuhkan Papa. Jangan biarkan Papa terluka parah, Ais masih ingin bersama Papa, Ais sayang Papa. Jadi tolong sembuhkan Papa, Ais mohon ya Allah.
Ya Allah, semoga Papa nggak kenapa-napa dan luka Papa nggak parah. Ya Allah, hamba mohon beri kesembuhan buat Papa. Jangan biarkan Papa pergi dari kami, kami masih sangat butuh Papa. Kabulkan doa kami ya Allah, Aamiin.
"Mang Jaja!" panggil Marisa dengan wajah panik, meski dirinya sudah tak cinta lagi dengan Adam tapi dia masih memperdulikannya.
"Ya, Nyonya," sahut Mang Jaja.
"Gimana keadaan Mas Adam?"
"Tuan masih di tangani oleh dokter."
__ADS_1
"Kenapa bisa Mas Adam kecelakaan?" tanya Marisa penasaran.
"Saya kurang tau Nyonya, tapi yang jelas saya menemukan Tuan sudah seperti itu. Cuman anak-anak yang tau kejadiannya?"
"Oh, ya sudah. Semoga Mas Adam baik-baik saja."
"Ya Nyonya, saya juga berharap begitu," timpal Mang Jaja.
Lama mereka menunggu, sedangkan Aisyah masih terus meneteskan air matanya. Marshall yang sudah berhenti menangis hanya bisa merengkuh tubuh Aisyah dan saling menguatkan, juga dengan harapan yang sama yaitu keadaan sang Papa baik-baik saja.
"Udah dong nangisnya, berisik tau!," sentak Marisa yang jengah mendengar suara tangisan Aisyah.
"Ma...." Protes Marshall yang tak suka Mamanya membentak Aisyah, tapi Marisa hanya melengoskan kepalanya.
Tidak lama suara pintu terbuka dan keluarlah sang dokter dengan wajah yang tertunduk lesu.
"Bagaimana dengan keadaan suami saya." Desak Marisa yang ingin tau keadaan Adam.
"Maaf, kami sudah berusaha agar pasien tetap bertahan. Tapi keadaan pasien yang banyak mengeluarkan darah membuat pasien tak bisa kami selamatkan. Sekali lagi saya minta maaf," ucap sang dokter.
"Maksud dokter, suami saya meninggal?" tanya Marisa lirih.
"Iya...." seraya mengangguk.
Marshall tertegun mendengar kalau Papanya sudah meninggal, lalu tak terasa air matanya kembali merebes keluar tanpa permisi. Marshall semakin merengkuh tubuh Aisyah semakin erat dan mulai terdengar suara isakkan Marshall.
Sedangkan Marisa tak tau harus senangkah atau bersedih mendengar keadaan Adam yang sudah tiada meninggalkan dirinya. Akan tetapi air matanya sudah meluncur bebas dari tempatnya.
Bukan seperti ini cara perpisahan kita, Mas. Bukan seperti ini!
Marisa menggeleng-geleng seraya menangis, walau bagaimanapun Adam adalah lelaki yang baik. Bahkan Marisa berharap suatu saat suaminya bisa bahagia dengan wanita yang bisa mencintainya sepenuh hati.
__ADS_1
"Maafkan aku Mas, maaf," gumam Marisa.