Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 43


__ADS_3

"Apa ... saya boleh bertemu dengan Aisyah?" tanya Hana ragu.


Bi Nunik menghela nafasnya pelan dan pandangan matanya tertunduk lesu, bahkan kedua tangannya saling meremas. Hana yang melihat pancaran mata Bi Nunik berubah sendu.


Kenapa Ibu ini terlihat sedih, apa ada sesuatu yang terjadi terhadap anakku? Ya Allah, semoga anakku baik-baik saja.


Hana terus memperhatikan Bi Nunik, dan Hana melihat ada guratan kesedihan di raut mukanya.


"Bu...." panggil Hana.


"Tunggu di sini," titah Bi Nunik.


Bi Nunik bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan mereka berdua, sedangkan Hana dan Diah saling pandang.


"Apa yang terjadi?" bisik Diah.


"Aku juga nggak tahu, kita tunggu saja."


Tidak lama Bi Nunik datang membawa sebuah foto dan selimut bayi, kemudian Bi Nunik meletakan di atas meja.


Hana memandang lekat selimut bayi itu, dan Hana ingat betul selimut bayi itu. Tangan Hana terulur meraih selimut bayi yang berwarna pink dan bertuliskan nama ' AISYAH AYUMNA PUTRI '.


Air mata Hana langsung terjun bebas ke pipinya. Hana mendekap selimut itu dengan Isak tangisnya, kemudian mata Hana tertuju ke sebuah foto seorang bayi yang tengah di gendong oleh seorang lelaki tampan.


"Aisyah...." Suara Hana tercekat memandang foto wajah bayinya serta mengusap foto Aisyah waktu bayi, tapi saat melihat wajah lelaki yang sedang menggendong bayinya. Hana mengernyitkan dahinya, karena Hana merasa pernah bertemu dengan lelaki itu di suatu tempat tapi Hana lupa di mana dia pernah bertemu dengan lelaki itu.


"Ini siapa?" tanya Hana menunjukkan wajah lelaki yang tengah menggendong bayinya.


" Itu adalah tuan Adam. Beliau lah yang selama ini merawat non Ais dengan penuh kasih sayang, tapi---" Bi Nunik menjeda ucapannya sembari menyusut air matanya, " Tuan sudah meninggal," lanjut Bi Nunik sedih.


"Innalilahi wainailaihi rojiun," ucap Hana dan Diah nyaris bersamaan.


"Terus, sekarang Aisyah nya dimana? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hana.

__ADS_1


Bi Nunik menggeleng lemah seraya menatap wajah Hana.


"Maksud ibu?"


"Semenjak tuan meninggal, nyonya selalu memperlakukan non Ais tidak baik, bahkan non Ais pernah di pukul oleh nyonya dan juga ... semalam non Ais di kurung di gudang."


Bi Nunik mengusap pipinya karena bersimbah air matanya, " Dan tadi pagi non Ais di usir dari rumah, cuman gara-gara nggak sengaja memecahkan pas bunga milik nyonya." Bi Nunik langsung terisak mengingat tangisan Aisyah dan meraung meminta di buka pintu gerbangnya.


"Apa!"


Hana menjatuhkan foto yang sejak tadi di pegangnya. Dadanya langsung terasa sesak berasa terhimpit benda yang sangatlah berat. Tangis Hana langsung pecah, harapannya untuk bertemu dengan buah hatinya pupus sudah dan sekarang dia harus kehilangan lagi.


Diah mengusap punggung Hana, kemudian Diah merengkuh tubuh Hana dan berharap bisa memberi kekuatan untuk Hana.


"Harus kemana lagi aku harus mencarinya?" lirih Hana seraya mendekap selimut bayi. Hana terus menangis dan tak tau harus berbuat apa dan apa semua penantiannya untuk bertemu dengan buah hatinya harus berhenti sampai di sini.


"Maaf, Bu. Apa ada foto Aisyah yang baru. Kami akan segera mencarinya dan kata ibu, Aisyah pergi tadi pagi kan dan pasti Aisyah masih di daerah sini," ujar Diah mengingat sekarang belum terlalu siang.


Bi Nunik segera mengambil foto Aisyah, setelah itu menyerahkan kepada Diah.


"Ini fotonya non Ais."


Diah segera mengambil foto Aisyah, dan memandang foto Aisyah. Diah menautkan kedua alisnya, saat menatap foto Aisyah yang tengah tersenyum.


"Na ... inikan anak kecil yang tadi di halte bukan?" tanya Diah sembari menepuk bahu Hana yang masih mendekap selimut bayi.


Hana mendongak menatap Diah, kemudian Diah menunjukkan foto Aisyah ke depan wajah Hana. Sedetik kemudian wajah Hana berubah berbinar.


"Ini ... ini Aisyah?" tanya Hana kepada Bi Nunik.


"Iya, Mba benar," sahut Bi Nunik.


Hana segera menyeka air matanya, rasa sesak yang tadi menghimpit dadanya kini terangkat dan berubah menjadi rasa bahagia.

__ADS_1


"Diah, ayo kita balik lagi ke halte. Tadi aku suruh Aisyah menunggu di sana karena aku sudah berjanji akan balik lagi untuk menemuinya." Desak Hana tak sabaran.


"Apa kalian bertemu dengan non Ais?" tanya Bi Nunik bingung.


"Iya, sebelum kesini tadi saya bertemu dengannya di halte dan saya menyuruhnya tetap berada di sana," balas Hana.


"Bu, kami pamit dulu. O iya, ini saya bawa," pinta Hana.


"Iya boleh dan semoga non Ais masih setia menunggu di halte," timpal Bi Nunik.


Hana dan Diah segera meninggalkan kediaman tuan Adam dan kembali ke halte. Hana terus tersenyum menatap foto Aisyah dan juga Hana mendekap selimut bayi milik Aisyah.


Angkot yang mereka tumpangi berhenti di halte. Hana dan Diah segera turun dari angkot. Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling halte, senyum yang tadi terpancar di bibirnya menghilang berganti dengan rasa cemas yang menjalar ke hatinya.


"Hana, mana Aisyah? kok nggak ada?" tanya Diah.


"Mungkin Aisyah lagi beli jajan, tadi aku kasih dia uang buat beli sesuatu. Lebih baik kita mencarinya."


"Bagaimana kalau kita berpencar, kamu bawa fotonya kan?"


"Iya, kenapa?"


"Sini aku mau fotoin fotonya Aisyah," ujar Diah dan Hana mengulurkan foto Aisyah, kemudian Diah memotret foto Aisyah.


"Nanti aku kabarin jika bertemu dengan Aisyah," kata Diah dan Hana pun mengangguk.


Akhirnya mereka berpencar mencari Aisyah dan berharap Aisyah tidaklah jauh dari halte.


___________***__________


Jangan lupa tinggalkan like ya 👍👍


Salam sayang 😘😘

__ADS_1


__ADS_2