
Jam pulang sekolahpun tiba. Aisyah dan Arumi tengah menunggu jemputan, keduanya tengah duduk dan saling bercengkrama. Tidak lama Marshall datang dan mendekati Aisyah dan Arumi. Kini ketiganya sama-sama menunggu orang tua mereka untuk menjemputnya.
"Apa lututnya masih sakit?" tanya Marshall sambil melirik lutut Aisyah.
"Sedikit," jawab Aisyah dan Marshall pun tersenyum simpul.
Tidak lama, ibunya Arumi datang. Arumi pun berpamitan kepada Aisyah dan juga Marshall.
"Abang, di jemput sama siapa?"
"Abang nggak tau. Mungkin mang Jaja yang jemput?"
"Oh, kirain Ais om Doni."
"Kenapa Abang nggak mau panggil om Doni, papa?" tanya Aisyah lagi.
"Bagi Abang, papa Abang adalah papa Adam. Bukan om Doni, karena Abang nggak suka sama om Doni."
Karena om Doni, papa Adam meninggal. Abang benci sama om Doni. Kalau bukan karena Mama, Abang nggak mau tinggal sama om Doni, bahkan sampai kapanpun Abang nggak akan panggil om Doni papa!
Saat itu juga Doni datang menjemput Marshall.
"Maaf, papa terlambat jemput kamu, nak."
"Iya, nggak apa-apa," jawab Marshall malas.
Doni yang melihat Aisyah, langsung mendekati Aisyah dan duduk di samping Aisyah.
"Lagi nunggu di jemput sama ibu?" tanya Doni.
"Iya, om," ucap Aisyah sembari menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu di jemput sama ibu kamu, boleh om yang antar kamu sama ibu kamu pulang?" tawar Doni kepada Aisyah.
Aisyah melirik Marshall, Aisyah bingung mau jawab apa?.
"Lebih baik kita pulang sekarang saja om," timpal Marshall yang tak suka kalau Doni mendekati ibunya Ais.
"Nanti, kita tunggu ibunya Ais dulu."
Marshall mendengus menatap Doni. Bahkan Marshall bisa menebak kalau Papanya itu ada rasa suka terhadap Hana.
__ADS_1
"Ais, Abang pulang duluan. Ais nggak apa-apa kan di tinggal sendiri di sini."
Aisyah pun mengangguk kecil, kemudian Marshall bangun dari duduknya dan menarik tangan Doni.
"Ayo om, kita pulang," ucap Marshall seraya menarik tangan Doni.
"Marshall, kita tunggu ibunya Ais menjemputnya."
Doni menahan Marshall untuk tidak menarik tangannya.
"Kenapa? Mama pasti sudah menunggu kita pulang," jawab Marshall dan kembali menarik tangan Doni, tapi Doni tak bergeming. Doni tetap duduk di samping Aisyah, lalu Doni menarik Marshall dan membawa tubuh Marshall dalam rengkuhannya, agar Marshall tidak menariknya lagi.
"Diam, kali ini dengarkan kata papa!" ucap Doni, karena Marshall mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Doni.
Sekitar sepuluh menit, Hana datang menjemput Aisyah. Doni yang melihat Hana datang, langsung tersenyum manis.
"Hai, anak ibu. Maaf ibu jemputnya telat, tadi ada sedikit masalah di kantor ayah."
"Iya, Bu," jawab Aisyah.
"Ayo, kita pulang. Ayah sudah menunggu kita di mobil."
"Tunggu Hana! Bagaimana kalau aku yang mengantarkan kamu dan Ais," tawarnya penuh harap.
"Maaf, nggak bisa."
Hana kembali melangkah, tapi baru beberapa langkah. Doni kembali mencekal tangan Hana.
"Ayolah Hana. Aku hanya ingin mengantar kamu pulang ke rumah kamu. Aku mohon...."
"Maaf, aku nggak bisa. Lagian aku datang ke sini bersama---"
"Aku akan tetap maksa kamu untuk pulang denganku."
Doni langsung menarik tangan Hana, dan menggenggam tangan Hana. Kemudian Doni memaksa Hana agar ikut naik ke mobilnya. Hana berusaha menarik tangannya dari genggaman Doni, tapi Doni semakin mengeratkan genggamannya.
"Lepaskan!"
"Aku nggak akan melepaskan kamu, aku sudah berusaha meminta kamu secara baik tapi kamu tetap menolaknya. Jadi aku nggak akan melepaskan tangan kamu."
"Doni! aku mohon lepaskan!"
__ADS_1
Doni tak menghiraukan perkataan Hana, Doni tetap membawa Hana menuju mobilnya.
Dari jauh, sepasang mata tengah memperhatikannya. Dari sorot matanya terlihat guratan kemarahan. Kemudian dia keluar dari dalam mobil dan mendekati Hana dan Aisyah yang tengah di paksa ikut bersama Doni.
"Berhenti!!"
Doni pun langsung menghentikan langkahnya dan menatap lelaki jangkung yang tengah berdiri dengan tatapan nyalang.
"Lepaskan dia!"
"Emangnya anda siapa?"
"Kamu belum tahu siapa saya?"
"Maaf, saya tidak kenal anda. Lebih baik anda pergi dari hadapan saya."
Doni kembali melangkahkan kakinya masih dengan menggenggam tangan Hana.
Hana berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Doni.
"Lepaskan tanganku!!" Sentak Hana.
Hana menatap lelaki jangkung itu dengan sorot memohon. Lelaki itu bahkan semakin geram dan langsung menarik lengan Hana, kemudian lelaki itu langsung memberi Doni bogem mentah.
"Dengar ya, saya nggak akan membiarkan siapapun yang berani mendekati istri saya."
"Istri?" cicit Doni menatap lelaki itu yang ternyata suaminya Hana.
"Oh, jadi anda suaminya Hana?"
"Iya, dan jangan harap anda bisa mendekati istri saya. Kalau anda masih berusaha mendekati istri saya, kamu akan tau akibatnya." Ancam Aries dengan tatapan tajam.
Doni hanya tersenyum menanggapi perkataan Aries. Bahkan Doni semakin tertantang untuk mendekati Hana.
Aries langsung membawa Hana dan juga Aisyah menuju mobilnya, sedangkan Doni terus menatap kepergian Hana.
_________***_______
Terus berikan dukungan berupa like, vote and gifts.
Salam sayang dari othor 😘😘
__ADS_1