Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 34


__ADS_3

Kesedihan Aisyah semakin memilukan, saat tahu kalau sang Papa sudah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Aisyah hanya bisa memandang jenazah sang Papa yang sudah terbungkus kain kafan. Air matanya terus menetes tanpa henti melihat sang Papa kini di angkat dan di pindahkan ke keranda, tatapannya nanar saat melihat keranda itu di angkat oleh para pelayat untuk segera di makamkan.


Semua para pelayat mulai mengiringi ke tempat peristirahatan terakhir Adam, begitupun Aisyah yang ikut mengantar sang Papa.


Marshall hanya bisa memeluk Aisyah dan berharap bisa memberi kekuatan untuk Aisyah. Bagaimanapun Aisyah adalah orang yang paling kehilangan sang Papa, Marshall menghapus air mata Aisyah dan mengelus lengan Aisyah.


Setelah mengantar papanya ke tempat peristirahatan terakhirnya, Aisyah kini mengurung diri di kamarnya. Aisyah meringkuk di atas ranjang dan menatap foto dirinya dan Adam.


"Kenapa Papa pergi meninggalkan Ais sendiri, Ais ingin ikut sama Papa," gumam Aisyah seraya menyeka air matanya.


Karena lelah menangis, akhirnya Aisyah tertidur seraya memeluk foto dirinya dan Adam.


Marshall yang sejak tadi melihat Aisyah dari balik pintu yang sedikit terbuka, merasakan hal yang sama yaitu sama-sama kehilangan sosok Papa yang selama ini selalu menjaga mereka. Meski Adam selalu cuek terhadap dirinya, tapi Adam selalu memperlakukannya dengan baik.


" Marshall janji Pa, Marshall akan menjaga Ais seperti permintaan terakhir Papa," ucap Marshall, lalu Marshall menutup pintu kamar Aisyah pelan.


***


Seminggu sudah berlalu, tapi kesedihan Aisyah sedikitpun tidak berkurang. Aisyah selalu menatap kursi di mana kalau Adam duduk di meja makan. Marshall hanya mengelus punggung sang adik, kemudian Marshall berdiri dan memeluk Aisyah dengan sayang.


"Kita pasti bisa melewatinya tanpa Papa. Papa sudah bahagia di surga," ucap Marshall. Aisyah mengangguk seraya menyeka air matanya.


"Ayo kita makan. Papa pasti sedih jika Ais nggak mau makan, Abang suapin ya."


"Ais makan sendiri."


"Baiklah."


Saat sedang makan terdengar teriakan Marisa dari arah ruang tamu. Aisyah dan Marshall saling pandang dan karena penasaran, keduanya melangkah ke ruang tamu di mana Marisa sedang marah-marah.


"Nggak bisa gitu dong!, aku itu istrinya tapi Kenapa hak waris jatuh ke tangan Aisyah!. Sedangkan saya hanya tiga puluh persen dari harta warisan suami saya. Asal anda tau ya, kalau Aisyah itu hanya anak pungut dan tentunya dia nggak punya hak mendapatkan warisan dari Mas Adam!" ucap Marisa kesal dan juga tak terima jika harta warisan Adam jatuh ke tangan Aisyah.

__ADS_1


"Maaf Bu, tapi ini sudah menjadi keputusan almarhum Pak Adam sebelum beliau meninggal. Sedangkan kami selaku pengacaranya hanya menjalankan tugas beliau untuk terakhir kalinya," pungkas pengacara tersebut.


"Pokoknya saya tidak terima!" Tolak Marisa tegas.


"Sekali lagi mohon maaf, ini sudah menjadi keputusan almarhum Bu. Jadi tolong hormati keputusannya!"


"Sudah-sudah, nanti kita bicarakan lagi soal warisan Adam," pungkas Doni yang kini menarik tangan Marisa dan mengelus punggung tangan Marisa agar lebih tenang.


Marisa menghela nafasnya pelan, dan berusaha menenangkan diri agar tidak memperkeruh hatinya yang tak terima dengan keputusan mantan suaminya itu.


"Lebih baik anda pergi saja dulu, soal warisan nanti kita bisa bicarakan lain waktu," tukas Doni.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit pengacara tersebut.


Setelah pengacara tersebut pergi, Doni kini mengajak Marisa pergi ke kamarnya. Ya, semenjak Adam meninggal, Marisa meminta Doni untuk tinggal bersamanya. Marisa tidak peduli dengan pandangan orang lain tentang dirinya, baginya ini adalah hidupnya.


Saat Marisa dan Doni meninggalkan ruang tamu, mereka melihat Aisyah dan Marshall tengah berdiri di dekat tangga.


Tapi Aisyah dan Marshall hanya saling pandang dan tak tau harus bicara apa.


"Sudah biarkan saja," timpal Doni. Sedangkan Marshall menatap Doni penuh dengan kemarahan.


"Marshall, kenapa kamu menatap Papa Doni seperti itu!" Bentak Marisa.


"Karena aku nggak suka sama om ini!" bantah Marshall. "Dan Papa aku hanya Papa Adam, bukan dia. Om ini yang udah nabrak Papa" Sergah Marshall menatap Doni tak suka.


"Marshall!"


"Sudah-sudah, jangan membentak anak kita sayang. Mungkin Marshall belum bisa menerima aku sebagai Papanya. Kamu kan tau sendiri, selama ini Marshall tinggal bersama Adam, jadi taunya Adam adalah Papanya."


"Tapi----"

__ADS_1


"Ssttt, lebih baik kita ke kamar saja," ajak Doni seraya menarik tangan Marisa.


Sepeninggalan Marisa dan Doni, Marshall dan Aisyah kembali ke meja makan.


"Bang, apa benar om tadi yang udah nabrak Papa?"


"Iya," jawabnya cepat sembari menganggukkan kepalanya.


"Ais jadi kangen sama Papa," ucap Aisyah yang kini sudah mulai berkaca-kaca.


Marshall hanya menghembuskan nafasnya, kemudian Marshall merengkuh bahu Aisyah.


"Lebih baik kita doakan Papa,"


"Iya Bang."


Doni dan Marisa sudah tiba di kamarnya, Doni langsung menarik Marisa untuk duduk di pangkuannya, kemudian mereka saling menautkan bibir mereka. Lama mereka saling berciuman bahkan nafas Doni kini sudah memburu. Marisa menarik kepalanya karena mulai kehabisan nafas.


"Mas, aku mau tanya?, apa benar yang dikatakan Marshall kalau kamu yang menabrak Mas Adam?"


"Kalau iya Kenapa?"


"Jadi benar apa yang dikatakan oleh Marshall," Sahut Marisa yang terkejut dengan perkataan Doni.


"Kenapa kamu melakukannya?, kalau kamu sampai di tangkap polisi bagaimana?" sambung Marisa yang mulai panik


"Kamu tenang saja. Saat kejadian tak ada seorangpun yang melihat aku yang menabrak Adam, kecuali Marshall. Karena Marshall memang ada di sana."


"Tapi tetep saja, aku nggak mau kamu sampai di tangkap polisi," sergah Marisa.


"Sudah nggak usah di pikirkan, kamu harus percaya sama aku. Lebih baik kita melakukan hal yang bisa membuat kita berpeluh keringat." ucap Doni seraya mengerlingkan matanya.

__ADS_1


"Iissshh, kamu tuh," Marisa memukul dada Doni, lalu tanpa menunggu lama mereka sudah saling melucuti pakaiannya.


__ADS_2