
"Kamu...."
"Sudah lama kita tak bertemu. Apa kamu benar-benar sudah sembuh dari sakit jiwa?" tanya Anton.
Ya, orang yang menyapa Hana adalah Anton, mantan suami Hana.
"Bukan urusan kamu!" sergah Hana yang mulai mematikan api amarah yang sudah lama terpendam. Bahkan tatapan Hana benar-benar menghunus.
Anton tersenyum menyeringai, menatap Hana yang menatapnya tajam serta penuh dengan kemarahan.
Sedangkan Aries bingung menatap wajah Hana yang berubah menahan amarah. Sedangkan lelaki yang di hadapannya tersenyum penuh arti terhadap Hana. Aries terus memperhatikan interaksi Hana dan lelaki di hadapannya. Sebenarnya ada yang membuat hatinya mengganjal soal omongan lelaki tersebut, yaitu soal Hana yang sakit jiwa.
Siapa lelaki ini?, sepertinya dia bagian dari masa lalu Hana. Terus kenapa Hana begitu membenci lelaki itu. Sepertinya aku harus mencari tahu, siapa dia sebenarnya dan ada hubungan apa antara Hana dengan lelaki tersebut. Batin Aries.
"Kalau di lihat-lihat, ternyata kamu makin cantik juga ya," ucap Anton seraya menatap Hana dari atas sampai bawah.
Tangan Anton terulur dan akan menyentuh pipi Hana, Hana langsung menepis tangan Anton kasar dan mendelik menatap Anton.
"Ck, sok jual mahal," ejek Anton menggelengkan kepalanya.
"Terserah!" sergah Hana yang langsung melengoskan wajahnya.
"Maaf, jika saya potong. Alangkah baiknya anda segera meninggalkan kami. Anda sudah membuat Hana tidak nyaman," ujar Aries sesopan mungkin.
"Oh ... ternyata kamu di temani sama lelaki," ucap Anton mencibir Hana, " Saya pikir kamu sudah berubah setelah keluar dari rumah sakit jiwa dan ternyata ... jiwa ngeja*angnya nggak berubah."
Plak
Hana langsung menampar pipi Anton. Sudah cukup dirinya di hina sama lelaki bajingan seperti Anton.
"Dengar ya, jangan pernah lagi kamu menghina aku. Aku bukan wanita yang seperti kamu pikirkan!" Sentak Hana yang sudah sangat marah.
__ADS_1
"Ck, bagi saya kamu tetap wanita mu-ra-han." Anton sengaja menekan kata murahan.
Kali ini Aries nggak tinggal diam. Aries langsung menarik kaos Anton.
Bugh
Aries meninju rahang Anton. Sudah cukup lelaki di hadapannya menghina Hana, wanita yang dia cintai sepenuh hatinya.
"Cukup kamu merendahkan Hana!, jika kamu masih tetap menghina Hana kamu akan berurusan denganku!" gretak Aries yang tak terima Hana di rendahkan, apalagi di katakan wanita tak baik.
"Pergi kamu dari sini," Hardik Aries.
"Cuih...." Anton membuang ludahnya dan menatap Aries tajam.
Anton memilih meninggalkan kedai bakso tersebut seraya menyeka bibirnya yang berdarah akibat bogem mentah dari Aries.
Brengsek!, siapa lelaki itu?. Berani-beraninya dia menghajar saya. Batin Anton.
Sepeninggalan Anton, Hana langsung terduduk lemas seraya menangis. Hatinya pedih akibat lelaki brengsek itu, gara-gara Anton, Hana harus kehilangan buah hatinya dan juga membuatnya menjadi depresi. Mengingat itu semua kebencian Hana terhadap Anton semakin bertambah.
"Ya, aku nggak papa."
"Lebih baik, aku antar kamu pulang saja."
Hana mengangguk sembari menyeka air matanya.
"Mang, baksonya di bungkus saja," ucap Aries seraya membayar baksonya.
***
Brak
__ADS_1
Anton membanting pintu rumahnya, kemudian Anton menerjang kursi. Anton yang sedang di selimuti dengan kemarahannya langsung mengalihkan amarahnya membanting apa saja yang ada di hadapannya.
"Brengsek, siapa lelaki itu!"
"Sejak kapan wanita sialan itu keluar dari rumah sakit jiwa."
Dada Anton naik turun karena kekesalannya yang tak tersalurkan. Anton langsung terduduk seraya mengatur nafasnya.
Saya nggak akan membiarkan kamu bahagia, Hana!. Saya akan membuat kamu menderita. Gara-gara wanita sialan itu, saya harus masuk bui.
"Ya Tuhan, apa-apa ini!" pekik Diah, yang melihat rumahnya berantakan.
"Kenapa?, kamu nggak suka!" sergah Anton menatap Diah sinis.
"Bukan begitu, Mas."
"Halah, dasar wanita mandul!" ketus Anton seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Diah.
"Mana duitnya?, saya mau pergi!" Anton mengadahkan telapak tangannya di hadapan Diah.
"Aku belum dapat uang, Mas," lirih Diah.
Anton langsung menarik rambut Diah ke belakang dengan tatapan tajam.
"Dari pagi kerja sampai malam kamu nggak dapat duit!" sentak Anton.
"Dasar wanita tidak berguna!" Anton langsung mendorong punggung Diah ke depan dengan kasar.
Ya, selama Diah hidup bersama Anton, hidupnya penuh dengan kesengsaraan. Jangankan memberi nafkah yang ada Diah yang harus menghidupi kehidupan mereka berdua selama tinggal bersama Anton.
Menikah?, sampai sekarang pun Anton hanya menikahi Diah secara sirih. Selama ini Diah ingin sekali meninggalkan Anton, tapi Anton selalu saja mengancam dirinya dan akan memaksa dirinya menjadi wanita penghibur di sebuah warung remang-remang.
__ADS_1
Pernah sekali Diah mencoba kabur, tapi yang ada Diah langsung di seret dan di bawa ke sebuah tempat dimana para lelaki hidung belang berada. Diah di gilir oleh beberapa lelaki bejat dan mereka semua dalam keadaan mabuk.
Hanya sebuah penyesalan yang Diah rasakan, mungkin buat Diah ini adalah karma karena pernah memisahkan seorang bayi dari ibunya, siapa lagi kalau bukan Hana. Bahkan hukuman Diah belum berakhir, karena sampai sekarang dirinya belum juga di beri keturunan.