Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 54


__ADS_3

"Kenapa kamu diam? Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Aries yang dari tadi menanti jawaban Hana.


Hana menghela nafasnya, lalu Hana menatap Aisyah yang tengah tertidur pulas.


"Bukan masalah cinta atau nggak cinta, tapi aku belum siap untuk kembali membina rumah tangga lagi. Aku yang pernah gagal di pernikahanku yang pertama dan aku juga nggak mau gagal lagi untuk yang kedua kalinya. Bukan aku egois, hanya saja aku perlu waktu untuk memikirkan ini semua."


Ada rasa kecewa di hati Aries. Saat Hana menolak menikah dengannya. Jujur Aries hanya ingin yang terbaik bagi dirinya, bagi Hana dan juga Aisyah. Biar bagaimanapun, Aries ingin memberikan kebahagiaan untuk kedua perempuan yang sangat dia cintai.


"Tapi, aku bukanlah Anton, yang akan tega menyakiti hati kamu. Justru aku ingin memberikan kebahagiaan untuk kamu dan juga untuk putri kita."


Aries menarik kedua tangan Hana untuk di genggam, seraya terus memandang wajah Hana yang kini sudah berhasil memenuhi hatinya yang paling dalam, bahkan perempuan satu-satunya yang mampu memporak-porandakan hatinya.


"Hana, aku mohon ... demi Ais. Izinkan aku menikahimu, karena aku memang sangat mencintai kamu dan apa lagi sekarang di antara kita sudah ada Ais yang harus kita jaga dan kita rawat bersama. Aku juga ingin Ais mendapatkan status yang jelas secara hukum." Mohon Aries dan berharap Hana bisa luluh dan tidak keras kepala.


"Aku minta maaf, beri aku waktu." Tolak Hana.


"Hana...."


"Please...."


Aries membuang nafasnya pelan dan mengadahkan wajahnya sembari menutup mata. Demi apapun, Aries ingin sekali menikahi Hana. Bukan sekedar untuk rasa tanggung jawab karena telah hadir seorang anak di antara dirinya dan Hana, akan tetapi dia tulus mencintai Hana apa adanya dan tidak memandang status Hana yang sudah pernah menikah.


Sepertinya aku harus terus berjuang meluluhkan hati Hana. Aku harus mencari cara agar Hana mau menikah denganku tanpa adanya paksaan. Semoga saja ada jalan keluarnya.


***


Pagi-pagi sekali Marshall sudah terbangun, bahkan Marshall sudah siap sejak tadi. Marshall sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Aisyah.


"Ayo shall kita makan dulu. Kali ini nenek masak enak," ucap Zidan yang kini sedang berdiri di gawang pintu.


"Emang nenek masak apa?"


"Masak sayur tahu sama tauge, nggak kayak kemarin hanya berlauk dengan garam," ujar Zidan yang kini lebih dulu melangkah mendekati nenek.


"Mana Marshall?" tanya nenek sembari menata makanan di atas meja.


"Tuh...." tunjuk Zidan dengan dagunya, kemudian Zidan langsung mengambil sarapannya.


"Ayo Shall, kita sarapan dulu," ucap nenek.


"Iya, nek."


Marshall langsung meraih piringnya dan mengisi piringnya dengan nasi dan sayur yang sudah di masak oleh nenek.


Mereka pun sarapan bersama, bahkan Zidan sampai menambah makannya, saking nikmatnya makan dengan sayur tahu dan tauge.

__ADS_1


Selesai dengan sarapannya, Zidan lebih dulu berangkat untuk mulung sedangkan Marshall menunggu jemputan yang akan membawanya ke rumah sakit.


"Permisi...." Sapa seseorang dari arah luar rumah.


"Iya, cari siapa?" tanya nenek.


"Maaf mengganggu, saya di perintah oleh tuan Aries untuk menjemput Marshall."


"Oh ... tunggu sebentar."


" Shall, di depan sudah ada orang yang menjemput kamu," panggil nenek.


"Iya, nek."


Marshall yang sudah rapi sejak tadi langsung saja melangkah pergi menemui orang yang menjemputnya. Kemudian Marshall di bawa sama orang suruhan Aries ke rumah sakit tempat Aisyah di rawat.


Marshall langsung tersenyum saat sudah tiba di rumah sakit. Dengan jalan cepat, Marshall melangkah kakinya ke kamar rawat Aisyah dan kini Marshall sudah berdiri di depan pintu ruang rawat Aisyah dan segera masuk menemui Aisyah.


" Ais..."panggil Marshall lembut.


"Abang!" seru Aisyah berbinar karena abangnya datang menemaninya.


"Abang datang sama siapa? kok sendiri, teman Abang mana?"


"Teman Abang lagi mulung. Abang kesini di jemput sama orang suruhan om Aries."


"Sudah, tan."


"Tante, mau mandi dulu dan tolong Marshall jaga Aisyah dulu." Titip Hana, yang kini mulai melangkah masuk ke kamar mandi.


Aisyah sangat senang karena Marshall datang menemaninya, bahkan Aisyah selalu menampilkan keceriaannya.


"Ais senang di rawat sama Tante Hana dan juga om Aries?"


"Iya." Aisyah mengangguk.


"Ais suka sama ibu dan ayah. Ibu Hana dan ayah Aries sangat menyayangi Ais seperti papa yang selalu sayang sama Ais," ungkap Aisyah tapi saat Aisyah mengatakan tentang papa Adam wajahnya berubah menjadi sendu.


"Ais jadi kangen sama papa," ucap Aisyah sedih.


"Ais jangan sedih, papa sudah bahagia di surga. Tugas kita hanya mendoakan papa, agar papa selalu berada di surganya Allah."


"Iya, Ais selalu doain papa kok. Tapi sekarang Ais cuman kangen papa, kan biasanya papa selalu ada buat Ais."


"Iya, Abang ngerti kok. Sekarang, Ais nggak boleh sedih lagi karena sekarang ada Tante Hana dan om Aries yang menyayangi Ais, sama seperti papa yang selalu sayang sama Ais, termasuk Abang."

__ADS_1


"Iya, Abang."


Tidak lama, Aries datang membawa sarapan untuk mereka dan juga membawa cemilan.


"Ibu mana ,sayang?" tanya Aries.


"Lagi mandi, yah," jawab Aisyah. "Ayah bawa apa?" tanya Aisyah yang melihat cemilan di dalam kantong plastik.


"Bawa cemilan, Ais mau?" tawar Aries.


"Mau...." ucapnya manja.


Aries memberikan cemilan tersebut kepada Aisyah dan Aisyah dengan senang hati menerimanya.


"Marshall, kamu mau juga," tawar Aries.


Marshall menggeleng, " Nggak om, terima kasih." Tolak Marshall halus.


"O iya, om mau bicara sama kamu, bisa?"


" Bisa om."


" Ikut om keluar yuk. Ais, ayah mau bicara sama Abang Marshall dulu ya. Ais nggak apa-apa kan sendirian."


"Iya, Ais kan berani. Tapi tivinya nyalain dulu, Ais mau nonton kartun," kata Aisyah.


"Oke, ayah nyalain tivinya."


Setelah menyalakan televisi, Aries langsung mengajak Marshall keluar dari kamar rawat Aisyah dan duduk berdua di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat Aisyah.


"Marshall, om minta bantuan sama kamu. Ini tentang Aisyah, karena hanya kamu orang yang paling dekat dengan Ais."


"Minta bantuan apa om?" tanya Marshall penasaran.


"Pasti kamu penasaran, kenapa om dan tante Hana mengatakan kalau Aisyah anak om dan tante Hana."


Marshall pun mengangguk, sebab dia juga ingin tahu kenapa Aries dan Hana mengaku kalau Aisyah anak mereka.


"Om dan tante Hana memang orang tua kandung Aisyah, sedangkan papa Adam hanya papa angkat Aisyah."


"Jadi om dan tante orang tua Ais yang sesungguhnya? terus kenapa bisa papa Adam yang menjaga Ais dari kecil?" pungkas Marshall bingung.


"Ceritanya panjang, kapan-kapan om akan menceritakan semuanya sama kamu. Om hanya minta tolong katakan kepada Ais, kalau kami orang tuanya. Hanya kamu yang bisa membantu om."


"Baiklah, aku akan membantu om bilang ke Ais, kalau om dan tante Hana orang tua Ais yang sebenarnya. Tapi,om ... om harus janji akan selalu menjaga Ais."

__ADS_1


"Itu sudah pasti, om akan selalu menjaga Ais seperti papa Adam."


"Terima kasih om."


__ADS_2