Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 21


__ADS_3

Sesuai dengan janjinya, Adam mengajak kedua anaknya jalan-jalan ke taman bermain. Hati Aisyah sangatlah senang, Sedangkan Marshall tidak begitu antusias, Marshall hanya ingin selalu dekat dengan Adam meski yang menjadi pusat perhatian Adam tetaplah Aisyah. Semenjak merasakan hangatnya pelukan Adam, hati Marshall selalu terasa nyaman dan aman.


Aisyah mencoba menaiki hampir semua permainan, rasa bahagia untuk kesekian kalinya Aisyah rasakan. Aisyah berlari ke sana ke sini dengan penuh semangat. Tidak ada rasa Lela yang dia rasakan, kaki mungilnya terus berlari ke tempat yang ingin Aisyah tuju. Adam hanya menuruti semua yang Aisyah inginkan dan yang terpenting bisa membuat senyum cerianya terus mengembang.


Tangan Adam refleks melingkar di bahu Marshall, saat Aisyah terus berjalan cepat. Marshall melirik tangan Adam yang berada di bahunya, senyum tipis terbit di bibir Marshall.


"Aisyah, tunggu sayang!" seru Adam yang terus mengikuti kaki mungil Aisyah.


"Pa, Ais mau itu." Tunjuk Aisyah.


"Es krim?" tanya Adam.


"Iya, Pa!"


"Baiklah Papa belikan, Marshall kamu mau es krim juga?"


"Mau Pa," jawab Marshall Antusias.


"Kalian tunggu disini!, ingat jangan kemana-mana!" perintah Adam.


Aisyah dan Marshall mengangguk bersamaan. Adam segera membeli es krim untuk keduanya.


Aisyah gelisah di tempatnya, sehingga membuat Marshall keheranan.


"Kamu kenapa, Ais?"


"Ais pengen pipis," jawab Aisyah yang semakin tak bisa diam di tempatnya.


"Kamu harus menahannya, bisakan!"


"Aduh!, Ais sudah nggak bisa menahannya ini!" seru Aisyah.


Aisyah berdiri dan matanya menengok ke sana kemari mencari keberadaan toilet. Aisyah tersenyum karena melihat toilet meski jaraknya lumayan jauh. Tanpa sepengetahuan Marshall, Aisyah berlari ke arah toilet karena sudah tidak dapat menahannya.


Adam segera kembali ke tempat di mana kedua anaknya berada. Saat Adam melangkah, yang harus pertama kali di lihatnya adalah Aisyah. Adam mengernyitkan dahinya, karena Adam tak melihat keberadaan Aisyah, sedangkan Marshall tetap berada di tempatnya.


Dengan cepat Adam melangkah dan netra Adam terus mencari keberadaan Aisyah, jantung Adam berdetak kencang karena tidak menemukan Aisyah dari pandangannya.


"Aisyah mana?" tanya Adam cepat.


"Ini Ai---" Marshall menggantung ucapannya dan Betapa terkejutnya Marshall tidak melihat Aisyah di sampingnya.


"Tadi Ais ada di sini, Pa!"


Hati Adam semakin resah karena Aisyah menghilang. Panik, cemas dan Khawatir menjadi satu bahkan es krim yang di belinya terjatuh dari tangannya.


"Cepat!, kita harus cari Ais!" Desak Adam kepada Marshall.


Adam dan Marshall mencari Aisyah dan netra keduanya harus memperluas pandanganya. Sedangkan Aisyah yang baru selesai pipis, tersenyum lega. Aisyah keluar dan berjalan kembali ke tempatnya yang semula.

__ADS_1


"Bang Marshall mana?"


Aisyah mengedarkan pandangannya ke kedai es krim yang tadi Adam beli es krim. "Papa juga nggak ada?"


Aisyah memperluas pandanganya mencari Adam dan Marshall, kaki Aisyah melangkah mencari keberadaan Adam dan Marshall. Aisyah mulai berkaca-kaca karena tidak dapat menemukan Adam dan Marshall.


"Papa...Bang Marshall...." Suara Aisyah bercampur dengan Isak tangisnya.


Aisyah terus mencari dan mencari sambil menangis. "Papa, jangan tinggalkan Ais. Ais takut sendirian."


"Papa!, Bang Marshall!" teriak Aisyah.


Hingga tubuh kecilnya menubruk tubuh kekar yang penuh tato di lengannya.


"Ade, sendiri?" tanya pria yang Aisyah tubruk.


"Iya, om!" jawab Aisyah masih dengan Isak tangisnya.


"Ikut om mau?"


"Nggak!, Ais maunya sama Papa." Ungkap Aisyah seraya mundur satu langkah.


" Ikut om aja," rayu pria itu.


"Nggak mau!, Ais maunya sama Papa!" tegas Aisyah.


Saat Aisyah mau berlari, tubuh Aisyah sudah lebih dulu di tangkap oleh pria, tentu saja membuat Aisyah memberontak.


Pria itu hanya tertawa karen berhasil menangkap mangsa baru untuk di jadikan budaknya sebagai pengemis. Pria itu membawa Aisyah keluar dari area taman bermain dengan senyum terus mengembang.


"Lepas om!, tolong... tolong!" teriak Aisyah bahkan tangis Aisyah semakin pecah. Tangan mungil A Bu n isyah terus memukul tangan yang penuh tato itu.


"Papa...tolong Ais."


Tiba di depan mobil, pria itu menurunkan tubuh Aisyah dan akan di masukan ke dalam mobilnya.


"Berhenti!" teriak seseorang dari arah belakang pria yang mau menculik Aisyah.


Pria itu memutarkan tubuhnya dan beradu pandang dengan lelaki yang memiliki perawakan atletis dan berkulit coklat.


"Siapa kamu!" hardik pria bertato.


"Siapa aku, itu tak penting. Sekarang lepaskan anak itu."


"Ck, aku nggak akan melepaskannya."


" Kalau gitu, hadapi aku!" Tantang lelaki yang berkulit coklat.


Aisyah di masukan terlebih dahulu ke dalam mobil, lalu pria bertato itu maju dan mulai saling serang. Serangan pertama tak membuat pria berkulit coklat itu kalah hingga pertarungan itu di menangkan oleh lelaki yang berkulit coklat.

__ADS_1


"Baru segitu saja sudah K.O."


Lelaki berkulit coklat itu memutarkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobil dan membuka mobil.


"Anak cantik, kamu nggak apa-apa?"


Aisyah reflek memeluk lelaki itu dengan Isak tangisnya. Dan lelaki itu adalah Aries Yanuar Heryanto. Aries diam saat mendapatkan pelukan dari seorang anak kecil, bahkan hati Aries merasakan sesuatu di hatinya yang dia sendiri tidak tau itu apa.


Tangan Aries terangkat dan membalas pelukan Aisyah, tiba-tiba air matanya terjatuh tanpa dia sadari.


"Cup...cup...sekarang Ade cantik aman." Bisik Aries.


"Ais mau Papa, om."


"Oke, kita cari Papa kamu."


Aries menggendong Aisyah. Aries memandangi wajah manis Aisyah, ada rasa hangat di hati Aries saat menggendong Aisyah. Bahkan Aries sendiri tidak dapat menjelaskannya kenapa tiba-tiba hatinya menghangat.


"Nama Ade, siapa namanya?"


"Namaku Ais. Kalau om siapa namanya?"


"Nama om adalah Ar---"


"Ais!" panggil Adam dengan deru nafas yang tak karuan.


Dengan cepat Adam melangkah mendekati Aisyah. Adam langsung merebut Aisyah dari gendong Aries. Tangis Adam yang dari tadi di tahannya pecah tatkala bertemu kembali dengan Aisyah walau hanya sesaat.


"Kamu dari mana saja, Nak?," ucap Adam yang begitu erat memeluk Aisyah bahkan Adam terus mencium kepala Aisyah.


Di sisi lain, ada hati yang tak rela melihat perlakuan Adam terhadap Aisyah. Dia adalah Aries. Hati Aries benar-benar merasa tak rela, Aries sendiri bingung dengan hatinya.


"Papa...Ais nggak bisa nafas," cetus Aisyah di balik dekapan Adam.


"Maaf-maaf, Papa terlalu erat memeluk Ais. Papa takut kehilangan, Papa takut Ais kenapa-napa?"


"Ais baik-baik saja, Pa."


"Ais tadi pergi kemana?" tanya Adam lembut sembari membenarkan rambut Aisyah yang terkena angin.


" Tadi Ais pengen banget pipis, tapi pas Ais balik Papa sama Bang Marshall sudah nggak ada.Terus saat Ais cari Papa, Ais ketemu orang jahat. Tapi Ais di tolongin sama om Ar---, siapa nama om?"


Pandangan Ais menatap ke arah Aries yang dari tadi melihat adegan ayah dan anak itu.


"Aries!" Ucap Aries seraya tersenyum.


"Terima kasih sudah menolong anak saya" ucap Adam tulus.


" Sama-sama."

__ADS_1


"Maaf, Karena Ais sudah bertemu dengan orang tuanya, maka saya permisi dulu."


Belum sempat Adam membalas perkataan Aries, tapi Aries dengan cepat meninggalkan mereka.


__ADS_2