Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 60


__ADS_3

Sore harinya, Hana izin pergi ke Muti Cake untuk mengajukan pengunduran dirinya. Hana berangkat di antara oleh supir pribadi papa Erik. Sesampainya di sana, Hana segera menemui Bu Muti.


"Hai, Nit...." Sapa Hana kepada temannya.


"Hana!" pekik Nita. " Kamu kemana aja, sudah beberapa hari ini kamu nggak masuk kerja."


"Ada urusan yang nggak bisa aku tinggalkan. O iya, ibu Muti nya ada?"


"Ada di dalam."


"Aku temuin ibu Muti dulu ya."


"Ya." Sembari menganggukkan kepalanya.


Hana masuk ke dapur dan melihat ibu Muti tengah membuat adonan brownies.


"Bu...."


Ibu Muti mengangkat kepalanya dan menengok ke arah Hana.


"Hana...." seru ibu Muti, kemudian ibu Muti menghentikan aktivitasnya yang sedang membuat kue.


"Gimana kabar anak kamu? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Alhamdulillah baik, Bu."


Selama Hana menemani Aisyah di rumah sakit. Hana sudah memberi tahukan kepada ibu Muti soal dirinya yang sudah memiliki seorang anak dan Hana juga memberi tahukan kalau Aisyah mengalami kecelakaan.


"Maaf, ibu belum sempat menjenguk anak kamu. Kamu tahu sendiri, di toko ini yang bisa menghandle buat kue cuman ibu dan kamu. Jadi, ya ... ibu kewalahan menghandle nya."


"Ya, nggak apa-apa, Bu. Maaf, gara-gara saya nggak masuk kerja ibu jadi kewalahan membuat kue-kue nya," ucap Hana merasa bersalah.


"Tidak masalah kok," ujarnya seraya tersenyum lembut.

__ADS_1


"Bu, maaf sekali. Maksud kedatangan saya ke sini mau menyampaikan kalau saya mau berhenti bekerja dari sini. Saya mau fokus mengurus anak saya. Jadi, saya minta maaf kalau saya harus berhenti bekerja dari Muti Cake."


"Baiklah, ibu nggak bisa mencegah kamu untuk berhenti bekerja disini. Padahal ibu sudah sangat cocok dengan kerjaan kamu, apa lagi kalau kamu yang membuat kue, pasti rasanya selalu enak."


"Sekali lagi saya minta maaf, Bu."


"Ya, nggak apa-apa."


Ibu Muti pun tersenyum hangat, meski ada rasa tak rela di hatinya saat Hana mengungkapkan kalau memilih berhenti bekerja.


***


Selesai dengan urusan pengunduran dirinya, Hana memutuskan untuk pulang ke kontrakannya dulu, hanya untuk mengambil beberapa lembar pakaiannya untuk mengganti pakaiannya selama Aisyah di rawat.


" Pak, berhenti disini saja. Soalnya kontrakan saya harus masuk ke gang, bapak tunggu saja di sini, saya cuman sebentar." ujar Hana yang kini mulai turun dari mobil dan melangkah menuju kontrakannya.


Karena hari sudah mulai malam, jadi keadaan di sekitar gang tidaklah begitu ramai. Hana terus berjalan sampai tiba di kontrakannya. Hana merogoh tasnya mencari kunci pintu dan langsung membuka pintu kontrakannya.


"Aku sholat magrib dulu deh, setelah itu aku baru ke rumah sakit lagi." gumamnya.


Saat Hana berjalan menyusuri gang kontrakannya, dari jauh ada seseorang yang memperhatikan lekat ke arah Hana. Dia pun mencoba berjalan mendekati Hana. Saat jarak tidak terlalu jauh, dia tersenyum menyeringai saat tau kalau yang di jumpainya adalah Hana. Dia terus mengikuti Hana dari belakang.


Drrtt Drrtt


Dering handphone Hana. Hana pun segera mengangkat telponnya, yang ternyata dari mama Soraya.


"Halo...."


'Ibu dimana?'


"Ais! kenapa, nak?"


'Cepat kesini ... Ais pengen peluk ibu. Ibu kenapa lama sekali perginya?'

__ADS_1


"Iya, ini ibu lagi di jalan, mau ke rumah sakit lagi. Tunggu Ibu ya. Ais jangan nangis," ujar Hana menenangkan Aisyah yang terdengar sedang merengek, karena Hana perginya terlalu lama.


'Cepetan. Jangan lama-lama, Ais bobonya pengen di peluk ibu.'


"Iya, ibu segera ke sana. Ais tunggu ibu ya."


Selesai pembicaraannya dengan Aisyah, Hana mempercepat langkahnya. Akan tetapi dari arah belakang, orang yang sejak tadi mengikuti Hana, menarik tangan Hana.


Hana pun terkejut karena tiba-tiba tangannya ada yang menariknya. Hana segera membalikkan badannya, dan betapa terkejutnya Hana saat tau orang yang telah menarik tangannya adalah Anton, mantan suaminya.


" Mas Anton!!"


"Hai, Hana. Mantan istriku. Akhirnya kita bertemu lagi di sini!" Ucap Anton dengan senyum seringainya.


"Lepaskan tanganku, aku mau pergi!" Hardik Hana penuh dengan api amarah.


"Mau kemana? Buru-buru amat. Jangan-jangan kamu mau mau menjual tubuhmu itu kepada lelaki hidung belang," ejek Anton masih dengan senyum seringainya.


"Cukup!!" Hardik Hana dengan tatapan berang melihat wajah Anton. " Aku bukan wanita seperti itu," ujar Hana penuh penekanan.


"O ya ... terus kenapa kamu buru-buru mau pergi dariku."


"Itu bukan urusan kamu," Sentak Hana dan Hana melengos meninggalkan Anton. Tapi sayang, Anton tak membiarkan Hana pergi begitu saja dan Anton menarik tangan Hana secara paksa dengan mulut Hana yang di bekap oleh tangan Anton. Agar suara Hana tidak menimbulkan kecurigaan warga.


Hana berusaha melepaskan diri dari kungkung Anton yang kini membawa Hana ke sebuah rumah kosong dan sepi.


"Mau apa kamu!" ketus Hana dengan tatapan waspada.


"Kita akan bersenang-senang, Hana. Dari pada kamu menjual diri kamu ke lelaki hidung belang, mending sama saya, sayang. Ha ... ha...."


Hana menelan Salivanya, dan Hana bisa melihat tatapan me sum Anton terhadapnya.Hana mundur saat Anton mulai melangkahkan kakinya.


Aku harus bisa kabur dari lelaki baji ngan ini, gimanapun caranya.

__ADS_1


______***______


Jangan lupa tinggalkan like 👍👍


__ADS_2