Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 96


__ADS_3

Waktu terus berjalan, hingga tak terasa usia pernikahan Hana dan Aries sudah memasuki tujuh bulan. Berkali-kali Hana harus menelan rasa kecewa saat dirinya beberapa kali telat datang bulan, tapi hasilnya negatif. Akan tetapi Aries terus memberinya dukungan dan selalu berkata. Belum waktunya kita di kasih kepercayaan lagi sama Tuhan, jadi kita harus terus bersabar dan berusaha.


Meskipun begitu, hati kecil Hana sangatlah berharap akan hadirnya calon buah hati berkembang di rahimnya.


"Bagaimana hasilnya, sayang?" tanya Aries saat Hana keluar dari kamar mandi dan menunjukkan testpack kepada Aries dengan perasaan sedih. Aries menerima testpack tersebut dan memandanginya lekat. Aries menautkan kedua alisnya saat melihat hasilnya satu garis merah, akan tetapi Aries melihat ada satu garis samar bahkan nyaris tak terlihat. Aries menyimpannya ke dalam saku celananya, dan akan dia tanyakan kepada salah satu temannya yang bekerja sebagai seorang dokter.


Hana berjalan gontai ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan perasaan sedih. Aries mendekati Hana yang kini tengah menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kecewa.


"Sayang...."


Hana tak menyahutinya, yang Hana rasakan saat ini rasa sedih karena harus kecewa untuk ke sekian kalinya, padahal Hana sangatlah berharap dirinya segera hamil.


"Jangan bersedih, lagian usia pernikahan kita juga belum lama. Bahkan ada temanku yang pernikahannya hampir sepuluh tahun baru di karuniai seorang anak."


Hana mendesah samar dan menatap Aries. "Tapi ... aku sangat berharap bisa hamil lagi," ucap Hana dengan matanya yang berkaca-kaca.


Aries ikut berbaring di samping Hana dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Kita terus berdoa dan berusaha. Jangan bersedih ya...."


Hana langsung menyembunyikan wajahnya di dada Aries dan memeluknya erat.


***


Biasanya kalau pagi hari, Hana selalu bangun lebih awal dan selalu bersemangat memulai harinya. Tapi tidak untuk hari ini. Hana masih betah berada di tempat tidur dan malas beranjak dari ranjang. Aries yang melihat istrinya masih berada di balik selimut di buat heran. Pasalnya, Hana bukanlah tipe pemalas seperti sekarang ini.


"Sayang, ayo bangun."


"Hmm...." sahut Hana malas, bahkan Hana menutupi seluruh tubuhnya saat Aries menyibakkan gordennya dan seketika matahari pagi masuk ke kamar mereka dan menerpa Hana.


"Abay ... tutup lagi gordennya, aku pusing terkena sinar matahari," keluh Hana di balik selimutnya.


"Tapi ini sudah pagi. Cepat bangun."


"Nggak mau! Malas."

__ADS_1


Aries mendekati Hana dan berusaha menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya dan hal itu membuat Hana geram saat Aries berhasil menarik selimut yang menutupinya.


"Abay!!" sentak Hana dengan tatapan kesal.


Aries terpaku di tempatnya, melihat Hana yang tak biasanya bersuara dengan nada tinggi.


Hana langsung bangkit dari atas kasur dan melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan yang teramat kesal.


Brakkk


Hana menutup pintu kamar mandi dengan sangat kencang, bahkan Aries sampai terlonjak di buatnya.


"Hana, kenapa jadi seperti itu?" gumamnya heran dengan sikap Hana yang berubah.


Aries menunggu Hana selesai mandi, dan biasanya Hana selalu menyiapkan segala kebutuhannya sebelum berangkat ke kantor. Hana keluar dan langsung mengambil pakaiannya tanpa memperdulikan Aries yang sejak tadi menunggunya.


"Sayang, dasiku mana?"


Hana mendengus, tapi Hana tetap mengambil dasi untuk Aries.


Aries mengambil dasi tersebut dari tangan Hana dan hanya di kalungkan saja.


"Sayang, tolong pasangin dasinya."


"Aku kan sudah bilang pake sendiri."


Aries menghela nafasnya, dan akhirnya Aries memasang dasinya sendiri, yang biasanya itu adalah tugas Hana.


Aries mencoba mendekati Hana yang sejak tadi marah terhadapnya tanpa alasan yang jelas.


"Sayang, apa kamu lagi ada masalah?"


Hana tidak menjawab, dan justru sekarang Hana meninggalkan Aries di kamar.


"Apa gara-gara aku menarik selimutnya, ya?"

__ADS_1


Aries segera keluar dari kamarnya dan menuju meja makan.


"Selamat pagi, anak-anaknya ayah."


"Pagi juga ayah," balas Aisyah dan Marshall, kemudian Aries memberikan kecupan di kepala kedua anaknya. Setelah itu, Aries pun langsung duduk.


"Sayang, kamu nggak sarapan?"


"Malas," jawab Hana seraya meminum teh hangat dengan nada suara yang tak bersahabat, kemudian Hana bangkit dan meninggalkan meja makan begitu saja. Aries terus memperhatikan Hana, sampai Hana masuk ke salah satu kamar tamu dan menutupnya.


Ada apa dengan Hana? Kenapa hari ini Hana sangatlah berbeda? kayak bukan Hana, istriku.


"Ayah, ayo kita berangkat," seloroh Aisyah.


"Iya, nak."


Aries, Aisyah dan Marshall langsung bangun dari duduknya dan melangkah menuju kamar yang di tempati oleh Hana.


Tok tok tok


"Sayang...." panggil Aries, tapi Hana tak menyahutinya.


"Kita langsung masuk saja ayah," pungkas Marshall, Aries pun mengangguk.


Ketiganya langsung masuk dan melihat Hana tengah bergulung dengan selimut dengan gorden yang tertutup rapat bahkan nyaris tak ada cahaya matahari masuk.


"Sayang, aku berangkat dulu ya," pamit Aries.


"Hmm...." sahut Hana.


"Ibu sakit?" tanya Aisyah.


"Nggak, ibu cuma lagi malas saja," jawab Hana.


"Kami langsung berangkat ya, sayang."

__ADS_1


Hana mengangguk dan tidak memperdulikan ketiganya yang berangkat ke sekolah dan ke kantor.


__ADS_2