
"Aku ... mau menikah dengan kamu." Ungkap Hana, setelah berperang memikirkan hidupnya yang akan di jalaninya bersama Aisyah. Di sini Hana harus memiliki sikap legowo, demi kebahagiaan Aisyah.
Aries diam terpaku, menatap Hana. Apa yang barusan Hana katakan bukan sekedar mimpi belaka, yang akan membuatnya kecewa ke dalam lautan yang terdalam.
"Apa aku sedang bermimpi?" tanya Aries masih dalam mode terkejut, takut pendengarannya salah tangkap.
Hana mencubit lengan Aries dengan sangat kencang, "Aw ... sakit ...." rintih Aries seraya mengelus lengannya yang di cubit oleh Hana.
"Mimpi bukan?" cibir Hana.
Tapi setelah itu, kedua tangan Aries mengepalkan tangannya ke udara dan berkata, " Yes...." sembari berjingkrak gembira. Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aries.
"Bagaimana kalau kita nikahnya besok," ujar Aries antusias.
Hana memukul tangan Aries dan mendelik kan matanya, " Ya nggak besok juga kali!!" sungut Hana yang kesal.
"Terus kamu maunya kapan?" tanya Aries.
"Ya nanti! Kita tunggu Ais sembuh dulu. Lagian kita juga harus memberi tahu orang tua kita masing-masing."
"Benar juga, baiklah aku menurut saja apa kata kamu. Mudah-mudahan Ais cepat sembuh agar aku secepatnya menikahi kamu."
Aries langsung menarik tubuh Hana dan membawa Hana ke dalam pelukannya seraya mencium pucuk kepala Hana berkali-kali.
"Terima kasih, sudah mau bersedia menikah denganku. Aku janji, aku bakalan terus membahagiakan kamu dan Ais. Karena sekarang kalian adalah hidupku, nyawaku, nafasku juga kebahagiaanku."
Hana tersenyum mendengar ungkapan Aries, dan semoga saja Aries berbeda dengan Anton yang selalu kasar terhadapnya. Begitu isi pikiran Hana.
Aries semakin mengeratkan pelukannya, rasa bahagia begitu membuncah di dadanya. Kebahagiaan yang di rasakan Aries berlipat ganda karena dia mendapatkan dua orang perempuan sekaligus dalam waktu dekat, yaitu memiliki seorang anak yang cantik dan mendapatkan cinta dari Hana, ibu dari anaknya.
"Permisi Tuan, maaf mengganggu," ucap Syam canggung, karena harus mengganggu tuannya yang sedang berpelukan dengan Hana.
"Memang kamu mengganggu," cetus Aries sembari melepaskan pelukannya dengan Hana.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasinya?"
"Sudah tuan."
"Bagaimana dengan keadaan pak Harto? Apa kamu sudah tahu siapa pelakunya?"
"Sudah tuan."
__ADS_1
" Siapa?"
" Namanya Doni, ayah kandungnya Marshall," jawab Syam.
"Tunggu! Kalian lagi ngomongin apa? Kenapa Marshall di bawa-bawa," tanya Hana bingung.
"Nanti aku ceritain ke kamu," terang Aries kepada Hana.
"Baiklah," kata Hana.
"Keadaan pak Harto, gimana?" tanya Aries lagi.
"Pak Harto sedang mendapatkan perawatan intensif," jawab Syam.
Aries pun mengangguk, " Hana, aku mau melihat pak Harto dulu. Nanti kita bicarakan lagi soal kita."
Hana mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar rawat Aisyah. Sedangkan Aries segera melihat keadaan pak Harto yang harus mendapatkan perawatan intensif akibat terkena tembakan.
Untung saja, para anak buahnya membawa pak Harto ke rumah sakit yang sama dengan Aisyah, sehingga dapat memudahkan Aries untuk melihatnya tanpa harus meninggalkan Aisyah.
Aries dan Syam tiba di ruang perawatan, dimana pak Harto tengah mendapatkan perawatan oleh dokter.
"Pasien harus segera melakukan operasi kecil, untuk mengeluarkan peluru di betis dan di lengannya," ucap dokter.
"Lakukanlah, tunggu apa lagi. Saya nggak mau pegawai saya terlalu lama menunggu mendapatkan perawatannya." Imbuh Aries, yang tak mau melihat pak Harto kesakitan akibat terkena tembakan.
"Baik pak. Secepatnya akan kami bawa pasien ke ruang operasi dan tolong segera urus administrasinya agar kami segera melakukan operasinya."
"Ya...." Jawab Aries sembari mengangguk.
Setelah pembicaraan dengan dokter, Aries menyuruh Syam mengurus administrasinya. Sedangkan Aries kembali ke kamar Aisyah.
***
Pagipun menyapa, cahaya matahari menerobos masuk ke ruang rawat Aisyah. Gadis kecil itu masih betah meraih alam mimpinya. Sedangkan Hana dan Aries tengah sarapan bersama.
"Aries, hari ini aku mau ke toko kue Muti Cake. Mau mengajukan pengunduran diriku," ucap Hana setelah selesai dengan sarapannya.
"Aku antar ya," tawar Aries.
"Nggak usah, siapa yang jaga Ais Lagian aku cuman sebentar ini, setelah itu aku balik lagi ke sini."
__ADS_1
Semalam, setelah Aries melihat kondisi pak Harto. Aries meminta Hana untuk berhenti bekerja dan lebih fokus mengurus Aisyah. Aries juga menjelaskan soal Marshall yang kini sudah kembali ke rumahnya lagi.
Saat Hana akan bersiap-siap untuk berangkat, tiba-tiba pintu kamar di buka dan menampakkan seorang wanita dan laki-laki paruh baya, wanita itu menatap berang Aries.
Wanita itu mendekati Aries, kemudian menjewer telinga Aries.
"Dasar anak tak tau diri!" Wanita itu terus menjewer telinga Aries.
"Aduh ... ma, sakit!" pekik Aries seraya memegang telinganya yang masih di jewer oleh mamanya.
"Ma, sudah. Ingat ini di rumah sakit," bujuk papanya Aries.
Mereka berdua adalah orang tua Aries, selama ini orang tua Aries tinggal di Singapura. Setelah mendapatkan kabar soal anaknya yang ternyata sudah memiliki seorang anak. Keduanya langsung terbang ke Jakarta dan ingin tau kebenarannya secara langsung.
"Sekarang, kamu jelasin ke mama. Apa benar kalau kamu sudah memiliki seorang anak?" Cecar sang mama.
"Iya, ma...."
Mamanya langsung memukul tubuh Aries, saking kesalnya telah di bohongi oleh Aries.
"Ma, stop. Jangan bikin ribut di sini, Ais masih tidur." Ucap Aries, berusaha menghentikan mamanya yang terus memukulinya.
"Mana cucuku?" tanyanya kesal.
"Itu, cucu Mama masih tidur. Makanya Mama jangan berisik, nanti aku ceritain semuanya."
Mamanya langsung menatap Aisyah yang masih betah tidur di ranjangnya, kemudian pandangannya bertemu dengan kedua netra Hana.
"Siapa dia?" tanyanya datar seraya menunjuk ke arah Hana.
"Dia Hana, ibu dari cucu Mama." Ucap Aries.
________***________
Terima kasih, masih setia menanti cerita ini. Bolehlah kasih komentar, apa tulisanku ini mudah di pahami atau tidak Atau ceritanya bertele-tele.
Jangan lupa kasih like 👍👍👍
Jika berkenan, bolehlah kasih kembang 🤭🤭
Salam sayang dari othor 😘😘
__ADS_1