
Marisa sungguh semakin gusar, karena sampai malam hari, keduanya tidak berhasil menemukan Marshall. Marisa menangis di pelukan Doni.
"Kita cari kemana lagi? ini sudah malam dan kita sampai sekarang belum menemukan Marshall," ujar Marisa seraya menangis.
Doni menghela nafasnya, dia sendiri juga bingung dan juga hampir putus asa mencarinya. Doni mengelus punggung Marisa yang menangis di pelukannya.
"Yang penting kita sudah berusaha mencarinya, aku juga sudah nyuruh orang untuk membantu kita mencari Marshall."
"Aku takut kalau Marshall sampai kenapa-napa, mas. Apalagi sekarang sudah malam dan Marshall tidur dimana malam ini. Aku takut ada orang yang jahatin anak kita."
"Kita doakan saja, mudah-mudahan Marshall baik-baik saja." Doni terus berusaha menenangkan Marisa.
"Lebih baik kita pulang dulu, besok kita cari lagi," bujuk Doni.
Dengan berat hati, Marisa mengiyakan untuk berhenti mencari Marshall dan berharap saat dia terbangun dari tidurnya, hanyalah mimpi.
***
Malam semakin larut, tapi Aisyah masih terjaga dan memikirkan Marshall yang tak tahu kalau dirinya pergi dari rumah. Setetes air matanya meluncur membasahi pipinya.
Aries yang memang sedang bekerja menyelesaikan pekerjaannya, menatap heran melihat Aisyah menangis. Kemudian Aries menutup laptopnya dan mendekati Aisyah yang sedang melamun itu. Aries duduk di tepi ranjang dan mengusap pipi Aisyah yang basah.
"Kenapa bersedih? apa yang membuat Ais sedih?"
"Ais lagi mikirin Abang Marshall, pasti Abang nyariin Ais. Abang nggak tau kalau Ais pergi dari rumah," ungkap Aisyah sendu.
Aries mencium tangan Aisyah dan mengelus rambut hitam Aisyah dengan sayang.
"Nanti kalau Ais sudah sembuh, kita temui Abang...."
"Marshall, om. Namanya Marshall," pungkas Aisyah.
__ADS_1
"Ya, Abang Marshall. Nanti kita temui sama-sama ya. Sekarang Ais bobo dulu, biar Ais cepat sembuh dan bisa bertemu dengan Abang Marshall," bujuk Aries lembut.
"Tapi Ais belum ngantuk, om."
"Bagaimana kalau om bacakan cerita. Ais mau cerita apa?" tawar Aries.
"Apa ya." Aisyah memicingkan matanya.
"Apa saja, Ais bingung."
"Cerita Arnab yang pemalas, mau?"
"Boleh om."
Aries bangkit dan berpindah duduknya di samping kepala Aisyah, seraya mengelus rambut Aisyah dengan sayang, sedangkan tangan satu lagi memegang gawainya dan Aries mulai menceritakan kisah Arnab yang pemalas.
Aisyah terus menyimak cerita yang di bacakan oleh Aries, dan kini kedua matanya mulai berat untuk membuka kelopak matanya dan mulai terpejam meraih alam mimpi. Aries terus menceritakan kisah Arnab sampai selesai dan tangannya masih setia mengelus rambut Aisyah.
"Selesai ceritanya...." seloroh Aries dan menengok ke wajah Aisyah.
"Selamat istirahat, Nak. Semoga mimpi indah, ayah sayang Ais." Aries kembali mencium kening Aisyah dan juga pipinya.
Saat akan melangkah, Aries menatap Hana yang tengah meringkuk di atas sofa panjang. Aries mendekati Hana dan membenarkan selimutnya sampai sebatas bahu dan mencium pelipis Hana.
"Semoga mimpi indah. I love you," bisik Aries kemudian mencium pipi Hana.
Aries memilih melanjutkan pekerjaannya, sembari menjaga kedua perempuan yang sangat berharga di dalam hidupnya. Perempuan yang akan selalu dia bahagiakan dan akan selalu menjaganya segenap jiwanya.
***
Pagipun menyapa, cahaya matahari menerobos masuk lewat kaca memancarkan cahayanya yang menyilaukan mata. Marshall mengerjapkan matanya dan menggeliatkan tubuhnya. Marshall terbangun dan menatap sekeliling kamar yang tampak asing di matanya.
__ADS_1
Marshall langsung bangkit dari kasur tipis itu dan mencari keberadaan teman yang baru di kenalnya semalam.
"Sudah bangun, Nak," sapa neneknya Zidan.
" Iya, nek. Zidan nya mana, nek?"
"Ada, tuh di belakang rumah, lagi siap-siap mau mulung lagi," kata nenek.
"Mulung," cicit Marshall. "Zidan nggak sekolah, nek?" tanya Marshall.
"Nggak." Seraya menggelengkan kepalanya.
Marshall langsung mendekati Zidan yang sedang mengambil karung dan juga topinya.
"Aku ikut ya," pinta Marshall yang sedang memperhatikan Zidan ke sana kemari.
"Boleh, sekaligus kita cari adik kamu yang hilang, siapa tau kamu menemukan adik kamu."
"Iya, maka dari itu aku ikut kamu mulung," ujar Marshall yang terus memperhatikan Zidan yang kini sedang mengenakan pakaian yang menurut Marshall tidak layak lagi untuk di kenakan.
"Zidan.... " panggil nenek.
"Iya, nek," balasnya.
"Ayo, sarapan dulu."
Zidan dan Marshall langsung sarapan dengan nasi dan hanya berlauk garam. Marshall tertegun melihat Zidan dengan lahapnya makan hanya dengan nasi dan garam. Sedangkan selama ini, dia hidup penuh berkecukupan dan bisa makan dengan enak tanpa memikirkan apapun.
"Kamu kenapa?" tanya Zidan sembari mengunyah makanannya.
"Nggak, kenapa-napa. Kamu setiap hari hanya makan nasi dan garam?"
__ADS_1
"Mau gimana lagi, aku mulung juga buat beli obat untuk nenek. Kasihan nenek, udah sering sakit-sakitan."
Marshall terenyuh mendengar apa yang di katakan oleh Zidan, dan mulai sekarang dirinya berjanji akan menjadi anak yang harus banyak bersyukur atas apa yang Tuhan berikan untuknya, dan yang terpenting jangan sering mengeluh dengan apa yang sudah di berikan oleh Tuhan.