Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 88


__ADS_3

Doni di giring oleh anak buah Aries menuju mobil. Diam-diam Doni mengeluarkan pistolnya dari balik jaket yang di kenakannya.


Saat Syam tengah memeriksa anak buahnya Doni yang lain, di situlah kesempatan Doni untuk kabur dari jeratan anak buah Aries.


Doni dan anak buah Aries sudah tiba di dekat mobil yang akan membawanya pergi. Doni langsung mengeluarkan pistolnya dan menembak anak buah Aries.


Door Door


Doni menembak dua anak buah Aries tepat di dada mereka, dan Doni langsung berlari ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Syam yang mendengar suara tembakan langsung berlari menghampiri anak buahnya, tapi sial Doni sudah lebih dulu kabur.


"Sial!! Cepat kejar dia!" perintah Syam kepada anak buahnya yang lain.


Syam dan anak buah Aries langsung masuk ke mobil dan mengejar mobil Doni.


Di sepanjang jalan, Doni menghubungi anak buahnya yang lain untuk membantunya dari kejaran anak buah Aries. Sedangkan anak buah Aries yang lain membawa anak buahnya yang tertembak oleh Doni ke rumah sakit, dan yang lainnya menunggu kedatangan polisi.


Syam menambah kecepatan laju mobilnya agar bisa mengejar Doni, hingga tiba di persimpangan jalan, dan mobil Syam di hadang oleh anak buah Doni.


Hingga perkelahian itu pun terjadi, sedangkan Doni berhenti tidak jauh dari persimpangan jalan tersebut dan keluar dengan terburu-buru saat anak buahnya yang membawa motor sudah menunggunya di sana.


"Ini bos motornya?"


"Terima kasih."


Doni segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan tempat tersebut. Sekarang Doni bisa bernafas lega karena berhasil lolos dari kejaran anak buah Aries.


Doni tiba di rumahnya dan segera turun dari motornya. Dengan langkah cepat Doni memasuki rumah yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Saat akan menaiki anak tangga, handphonenya berdering dan ternyata dari anak buahnya yang selama ini menjaga gudang narkobanya.


"Halo...." jawab Doni.


"Bos, gudang kita di sudah di kepung sama polisi dan anak buah kita yang lain berhasil di ringkus sama polisi. Beruntung saya berhasil lolos dari polisi, tapi sepertinya polisi akan segera menuju ke rumah bos."


"Sial!!"


Doni langsung mematikan teleponnya dan tergesa-gesa menaiki tangga. Doni langsung mencari keberadaan Marisa di kamarnya.


"Sayang!!" teriak Doni.


Marisa yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menatap heran.


"Ada apa teriak-teriak?"


"Kita harus segera pergi dari sini!"

__ADS_1


"Kenapa harus pergi dari sini? dan apa yang terjadi?" tanya Marisa bingung.


"Sudah jangan banyak tanya. Cepat kamu berkemas-kemas dan jangan lupa dengan Marshall. Kita akan pergi jauh dari kota ini."


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Marisa lagi.


"Sudah aku bilang jangan banyak tanya! Lebih baik kamu lakukan apa yang aku suruh, kita tidak punya waktu lagi," ucapnya dengan nada tinggi.


Meski bingung, Marisa langsung mengikuti perintah Doni mengemas pakaiannya. Setelah itu Marisa langsung menemui Marshall di kamarnya.


"Marshall, cepat kemasi pakaian kamu, kita akan pergi dari sini," titah Marisa seraya membuka lemari pakaian Marshall dan mengeluarkan pakaian Marshall.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Marshall dengan tatapan bingung.


"Mama tidak tahu, tapi papa kamu yang meminta kita pergi dari sini," pungkas Marisa seraya membantu Marshall memasuki pakaiannya ke dalam tas.


"Tapi kenapa mendadak, ma?"


"Sudah jangan banyak tanya! cepat masuki semua pakaian kamu ke dalam tas, setelah itu kita segera temui papa kamu. Papa sudah menunggu kita di bawah." Desak Marisa.


Setelah semuanya beres, Marisa dan Marshall langsung menemui Doni dan segera meninggalkan rumah yang sudah lama mereka tempati.


"Ayo, kita sudah tidak punya banyak waktu," ucap Doni gusar.


"Iya...." jawab Marisa.


"Kemana saja? Yang penting jauh dari kota Jakarta!" jawab Doni dengan langkah cepat menuju keluar rumah.


Doni, Marisa dan Marshall langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah mereka, tapi saat sudah keluar dari gerbang rumahnya, polisi pun datang ke rumah mereka. Doni sudah ketar-ketir begitu melihat mobil polisi.


Salah satu polisi turun dan menemui pak Suryo, scurity rumah Marisa.


"Permisi, pak. Apa benar ini rumah Bapak Doni?"


"Iya, benar," jawab pak Suryo yang heran karena kedatangan polisi ke rumah majikannya.


"Pak Doni nya ada?"


"Mohon maaf pak. Pak Doni dan keluarganya baru saja keluar dari sini."


"Mobil yang barusan keluar?"


"Iya, pak!" jawab pak Suryo.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."

__ADS_1


Polisi tersebut langsung masuk ke mobil polisi dan mengatakan kepada rekan sejawatnya, kalau Doni sudah kabur.


Polisi pun langsung mengejar mobil Doni, dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar mobil Doni.


Sedangkan Doni, berkali-kali melirik kaca spionnya melihat mobil polisi yang kini mulai terlihat dari pandangannya.


"Sial, mereka sudah mulai dekat!"


"Sebenarnya apa yang terjadi? terus kenapa polisi mengejar kita?" ucap Marisa penuh tanya.


Akan tetapi Doni tak menjawab perkataan Marisa, Doni tetap fokus ke jalan agar polisi tidak bisa mengejarnya.


"Mas! Kenapa kamu diam saja! terus kenapa polisi mengejar mobil kita? dan kenapa wajah kamu babak belur," cecar Marisa yang kini menengok ke belakang dimana mobilnya di kejar polisi.


"Diam!!" Sentak Doni, " Bisa nggak sih kamu nggak banyak tanya!!" cetus Doni kesal.


Marisa terdiam dengan tatapan kesal. Hatinya bersungut-sungut terhadap Doni.


"Kejahatan apa yang sudah kamu perbuat, sampai-sampai polisi mengejar kamu," ucap Marisa melunak.


Doni tak menjawab, karena saat ini pikirannya sedang fokus menghindari kejaran polisi.


"Berhenti," pinta Marisa.


"Jangan ngaco kamu! Kamu mau aku di tangkap polisi!!" hardik Doni.


" Aku nggak mau jadi buronan, sedangkan aku nggak tau mas sudah melakukan kejahatan apa?" ucap Marisa tak kalah tinggi.


"Nggak penting," sergah Doni.


"Kalau mas nggak mau menjawab, aku minta berhenti. Aku nggak mau ikut pergi sama kamu!" Kesal Marisa.


Doni lagi-lagi tak menjawab, Doni lebih memilih fokus ke jalan dan menghindar dari kejaran polisi.


Marisa yang sudah sangat kesal langsung memukul pundak Doni dari samping dan meminta menghentikan mobilnya.


"Bisa diam nggak sih!!" Hardik Doni tapi Marisa terus memukul pundak Doni agar mobilnya berhenti. Di saat itu dari arah depan ada kendaraan yang sedang menyelip mobil lain.


Doni yang tidak begitu fokus akibat di ganggu Marisa membuat Doni terkejut saat ada mobil yang menyelip dari arah depan dan demi menghindari mobil yang menyelip membuat Doni membanting setir mobilnya.


Mobil Doni menabrak pembatas jalan dan membuat mobil Doni langsung berguling-guling, juga mobil Doni sempat terseret sama kendaraan yang dari arah lawan jalan.


__________***___________


Ayo dukung novel receh ini dengan cara memberi like, vote dan gifts.

__ADS_1


Salam sayang dari othor 😘😘


__ADS_2