
Aisyah yang sejak tadi hanya berdiam diri di halte, akhirnya melangkah mencari warung untuk membeli roti dan minuman. Aisyah menyusuri jalanan mencari warung kecil karena di sekitar sana tidak ada warung kecil, semuanya hanya pertokoan. Sekitar dua ratus meter Aisyah menemukan warung kecil dan membeli apa yang di carinya. Setelah membayar, Aisyah mencari tempat duduk dan memakan roti yang tadi di belinya.
Aisyah memakan roti dengan Air mata meluncur bebas bah air terjun, karena sekarang hidupnya terlunta-lunta di jalanan. Aisyah berharap, semoga ada orang yang mau memberinya tempat untuk bernaung.
Aisyah mengingat kembali masa saat bersama sang papa tercinta, dimana dirinya begitu sangat di sayang dan di manja oleh papanya.
"Papa, Ais harus pergi kemana? Ais bingung harus bobo di mana?" keluh Aisyah sembari menyusut air matanya.
"Mudah-mudahan, tante yang tadi mau ngajak Ais tinggal di rumahnya. Kata Tante yang tadi, Ais harus nunggu di tempat yang tadi. Lebih baik Ais balik lagi ke sana deh."
Aisyah segera menghabiskan rotinya dan bergegas balik ke halte dan menunggu Hana datang menemuinya dan berharap mengajaknya tinggal di rumahnya.
Dengan semangat empat lima, Aisyah berjalan menyusuri jalan dan dari arah jalan ada mobil yang pengendaranya mengantuk, sehingga membuat pengendara itu oleng dan membanting stir mobil ke bahu jalan di mana Aisyah tengah berjalan.
Brakkk
Kecelakaan itu tak bisa terelakkan lagi dan malangnya Aisyah menjadi korban kecelakaan itu. Aisyah terpental sekitar satu setengah meter. Aisyah terkapar tak berdaya, bahkan Aisyah tak sadarkan diri karena kepalanya terbentur batu.
***
Hana mencari Aisyah ke sebrang jalan sedangkan Diah menyusuri jalanan itu. Diah terus bertanya ke setiap orang yang lewat.
"Mba-mba, mau tanya? lihat anak ini nggak?" Tunjuk foto Aisyah.
"Nggak Mba."
Diah terus bertanya kepada pejalan kaki dan jawabannya sama, yaitu ' Nggak lihat Mba '.
Diah mencoba bertanya kepada tukang parkir.
"Pak, lihat anak ini nggak?"
Diah menunjukkan foto Aisyah kepada tukang parkir. "Lihat Mba, tadi anak ini berjalan ke arah sana," tunjuk ke arah dimana Aisyah pergi.
"Terima kasih, pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
Saat akan menuju ke arah Aisyah pergi, Diah melihat mobil oleng dan membanting stir mobil ke bahu jalan dan menabrak seseorang. Karena penasaran, Diah mendekati korban yang di tabrak itu.
Seketika jantungnya berasa berhenti berdetak saat melihat siapa yang tertabrak oleh mobil itu.
"Aisyah!!" jerit Diah dan mendekati Aisyah dan mengangkat kepala Aisyah yang banyak mengeluarkan darah.
"Tolong ... bantu saya bawa anak ini ke rumah sakit" pinta Diah kepada siapapun yang ada di sana.
Setelah di bantu warga, Diah segera membawa Aisyah ke rumah sakit terdekat bahkan Diah sampai lupa mengabari Hana, karena saking paniknya dia melihat Aisyah bersimbah darah terutama di kepalanya.
"Pak! Bisa lebih cepat lagi nggak!" pinta Diah.
"Iya, Mba," sahut supir angkot.
Kini angkot yang membawa mereka tiba di rumah sakit, dan Diah mengangkat tubuh Aisyah ke IGD.
"Suster ... tolong!!" teriak Diah.
Dengan sigap para suster menolong Aisyah dan meletakkan Aisyah ke brankar. Aisyah langsung di tangani oleh dokter dan Diah berharap kalau keadaan Aisyah tidaklah parah. Aisyah di bawa ke ruang tindakan oleh suster dan dokter. Sedangkan Diah menunggu di luar dengan keadaan cemas, panik, bingung, menjadi satu.
Segera Diah mengabari Hana dan mengatakan kalau Aisyah mengalami kecelakaan.
***
Derap langkah kaki Hana memasuki ruang IGD, dengan air mata yang membanjiri pipinya serta wajah cemas dan panik yang menjadi satu, Hana langsung mencari ruangan dimana Aisyah berada.
"Diah, bagaimana keadaan Aisyah?" cecar Hana panik.
"Aisyah masih di tangani oleh dokter dan belum ada yang keluar dari ruangan itu."
Tidak lama dokter keluar dari ruangan itu seraya membuka maskernya.
"Keluarga pasien...." panggil dokter.
"Iya dok! Gimana keadaan anak saya?"
__ADS_1
" Pasien harus segera di operasi karena luka di kepalanya terluka parah dan juga pasien membutuhkan donor darah, sedangkan stok darah di sini tinggal beberapa kantong saja dan itu tidaklah cukup."
"Kalau begitu ambil darah saya dok! Ambil sebanyak yang dokter pinta. Asalkan anak saya selamat." ucap Hana dengan derai air mata.
"Kalau begitu, anda ikut dengan suster untuk mengambil darah anda," ucap sang dokter.
Dokter pun memanggil suster dan mengajak Hana untuk di ambil darahnya, tapi sebelum melakukan donor darah, Hana harus di cek dulu apa golongan darahnya sama atau berbeda.
"Bagaimana, sus? Apa saya bisa mendonorkan darah saya?"
"Maaf Bu, golongan darah ibu sama anak ibu berbeda," ucap suster merasa bersalah.
Hana semakin frustasi mendengar kalau dirinya tak bisa mendonorkan darahnya. Tangisan Hana semakin tak bisa terbendung tatkala dirinya tak bisa mendonorkan darahnya.
"Terus saya harus bagaimana, sus?" tanya Hana putus asa.
"Hanya satu yang bisa mendonorkan darahnya yaitu ayahnya," sahut suster.
"Ayahnya?"
"Iya...."
"Saya akan menghubungi ayahnya, tapi saya mohon selamatkan anak saya, sus." pinta Hana.
"Kami akan berusaha menyelamatkan anak ibu."
Hana langsung menelpon Aries, tapi sayang nomor Aries tak bisa di hubungi. Hana terus mencoba menelpon Aries dan tetap sama nomor Aries tak aktif.
"Aries kamu dimana sih, kenapa susah sekali di hubungi," gumam Hana dengan perasaan cemas.
"Hana, bagaimana? apa kamu sudah mendonorkan darah kamu," tanya Diah menghampiri Hana.
Hana menggeleng lemah, "Golongan darah kami berbeda," ucap Hana sedih seraya mengusap wajahnya.
"Terus gimana? Barusan dokter bilang kalau stok darah di rumah sakit ini cuman tinggal dua kantong sedangkan Aisyah membutuhkan lebih dari dua kantong darah."
__ADS_1
Hana terduduk lemas, dadanya terasa sesak tak tahu harus bagaimana. Sedangkan Aries tak bisa di hubungi. Hana hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa mendonorkan darahnya untuk putri tercintanya.