
Begitu syarat darinya merasa tidak dituruti, Ibunya Iin pun tidak mau mengeluarkan sepatah kata apapun kepada kedua anaknya yang saat ini menjaganya di Rumah Sakit, yaitu Sari dan Iin.
Akhirnya Sari dan Iin memilih untuk keluar ruangan dan menjaga dari luar.
"Gimana ini Sar, gak mungkin juga kan Mbak nyuruh Mas Yudi buat tanggung jawab." lirih Iin sendu.
Sari hanya bisa menghela nafas pelan tanpa mau menjawab perkataan kakaknya, karena dia sendiri juga merasa bahwa tidak mungkin mengabulkan keinginan Ibunya itu.
"Apa lebih baik aku ngomong sama Pakde aja ya Sar? Biar pakde yang ngomong sama Ibu." kata Iin. Karena kalau dia atau Sari yang ngomong ke Ibunya akan percuma saja. Lebih baik yang sesama orang tua yang bicara dari hati ke hati.
"Iya mending gitu aja Mbak, biar Pakde yang coba ngomong sama Ibu. Kalau kita yang ngomong gak mungkin juga didengerin."
"Mbak juga mikirnya gitu Sar. Ya sudah kalau gitu sekarang aja Mbak ke rumah Pakde." pamit Iin.
"Iya hati-hati Mbak." jawab Sari.
Setelah kepergian Iin, Sari benar-benar merasa pusing. Masalah yang satu belum selesai sudah ada masalah yang satu lagi.
...****************...
Di suatu daerah susah sinyal.
__ADS_1
Ari merasa sudah enakan setelah meminum teh hangat yang diberikan Siti. Kemudian dia berniat untuk ke rumah Pak Kepala Desa atau rumah Siti juga.
Kebetulan Siti yang berada dirumah, melihat Ari yang berjalan mendekat menuju rumahnya dia segera menyambutnya.
"Lho Mas Ari sudah tidak pusing lagi?" tanya Siti begitu Ari sudah sampai di teras depan rumahnya.
"Sudah mendingan Sit, terima kasih ya sudah kasih teh hangat. Ini gelasnya." jawab Ari seraya memberikan gelas kosong ke tangan Siti dan segera diterima olehnya.
"Iya sama-sama Mas. Mari silahkan duduk dulu kalau masih pusing." Siti mempersilahkan Ari untuk duduk.
"Ow ya Siti, disini susah sinyal banget ya memangnya? Soalnya aku coba hubungi keluargaku tidak bisa." tanya Ari tanpa basa basi.
"Iya Mas disini lumayan susah dan hanya nomor tertentu yang ada sinyalnya. Siti masih bisa sih Mas kalau menghubungi teman yang jauh. Apa coba Mas Ari pakai ponselnya Siti aja kalau begitu." tawar Siti seraya beranjak untuk mengambil ponselnya di kamar.
Tidak berapa lama Siti keluar dan memberikan ponselnya kepada Ari.
"Tidak apa-apa ini aku pakai telpon dulu Sit?" tanya Ari.
"Iya tidak apa-apa Mas, silahkan."
"Terima kasih banyak ya."
__ADS_1
"Sama-sama."
Kemudian Ari memencet nomor ponsel Iin yang sudah pasti dihapalnya.
Tetapi setelah menunggu beberapa lama dan beberapa kali panggilan tidak diangkat-angkat juga oleh Iin.
"Kemana sih ini Iin, kog gak angkat telpon nya ya?" batin Ari sambil terus melihat ponsel Siti yang masih dipegangnya.
"Kenapa Mas? Gak diangkat ya?" tanya Siti karena melihat Ari yang gelisah.
"Iya ini Sit, gak diangkat-angkat." jawab Ari.
"Ya mungkin masih repot Mas, nanti dicoba lagi saja kalau begitu." usul Siti.
"Iya nanti dicoba lagi saja. Ini terima kasih banyak ya. Sekalian aku pamit mau kembali ke kontrakan." pamit Ari.
Karena memang disana Ari tidak mempunyai keluarga, jadi dia dan beberapa pegawainya menyewa kontrakan untuk menyelesaikan proyeknya.
"Iya hati-hati Mas."
...****************...
__ADS_1
Tetap semangat 💪