
Begitu Iin sampai dirumah, dia segera beristirahat sejenak untuk melepaskan penat yang seharian dia rasakan. Dengan berbaring diranjangnya, Iin mengambil ponselnya di dalam tas. Dia segera melihat ponselnya ada beberapa panggilan tidak terjawab dari 1 nomor asing.
"*Siapa ini ya? Kenapa dari tadi telpon terus sampai banyak banget gini?"
"Telpon balik gak ya? Nanti takutnya penting, tapi kalau ditelpon balik ternyata kabar buruk lagi kayak dulu gimana*?"
Iin benar-benar bingung saat ini, karena memang dia merasa trauma perihal nomor asing.
Kemudian dengan ragu dia mencoba menghubungi nomor tersebut. Setelah beberapa kali berbunyi nada panggilan tunggu akhirnya dijawab juga oleh pemilik nomor tersebut.
"Iya halo.." sapa seseorang yang menerima panggilan itu.
Iin tidak segera menjawabnya tetapi justru dia malah mematikan panggilannya.
"Kog cewek yang angkat? Siapa ya? Kalau kenal aku kan harusnya memang langsung memanggil namaku." Iin bertanya pada dirinya sendiri.
Karena tidak mau memusingkan hal tersebut akhirnya dia lebih memilih mengabaikan soal ponselnya. Iin menaruh di atas nakas kemudian dia segera beristirahat.
...****************...
__ADS_1
Di lain pihak, begitu mendengar ponselnya berbunyi Siti segera menghampirinya untuk menjawab panggilan itu.
Begitu akan menggeser tombol hijau, Siti mengerutkan keningnya karena tidak tahu nomor siapa yang menghubunginya. Karena tidak mau memikirkan yang tidak-tidak dan menjadi penasaran akhirnya Siti pun menjawab panggilan tersebut.
"Iya halo.." begitu dia menjawab panggilan itu.
Tetapi setelah beberapa saat menunggu jawaban, terasa hening tidak ada suara apapun di seberang. Justru setelah itu hanya bunyi panggilan terputus yang di dengar oleh Siti.
Siti pun kembali merasa heran.
"Ini siapa sih yang telpon? Udah nomor asing diangkat malah diem aja." gerutu Siti dengan kesal.
Kemudian daripada pusing Siti lebih baik tidak memikirkan hal tersebut. Dia segera menaruh kembali ponselnya di dalam kamar kemudian dia segera kembali ke dapur untuk membantu asisten rumah tangganya menyiapkan makan siang keluarganya.
Dan Siti berencana akan mengantarkan sebagian makanan itu ke kontrakan yang sudah disewa oleh Ari. Dengan senyum yang terus mengembang, Siti membantu pekerjaan itu hingga selesai.
"Selesai! Huft akhirnya selesai juga!" seru Siti senang sambil melepas celemeknya untuk ditaruh ditempat seperti biasa.
"Mas Ari I'm coming!" segera Siti bersiap-siap untuk pergi ke kontrakan Ari.
__ADS_1
...****************...
Begitu Iin pulang dari rumahnya, Pakdenya kembali memikirkan masalah yang sedang dihadapi kakak kandungnya yaitu Ibu dari Iin dan Sari.
Jelas saja sebagai orang yang dituakan dikeluarga besarnya dan sepertinya kakaknya juga yang sedang terkena masalah, akhirnya mau tidak mau Pakde pun harus menyelesaikan masalah ini. Dan beliau tidak setuju apabila harus memberikan syarat kepada Iin untuk menikah kembali dengan Yudi.
Selain karena memang mereka sudah bercerai, tentu saja karena itu semua bukan tanggung jawab Yudi. Jadi Yudi berhak untuk menolaknya juga.
Akhirnya Pakdenya Iin pun berniat untuk segera pergi ke rumah sakit untuk berbicara dari hati ke hati kepada kakaknya tersebut atau Ibu dari Iin dan Sari.
Pakde segera beranjak dari duduknya, kemudian segera menuju ke Rumah Sakit setelah sebelumnya berpamitan kepada istrinya dan mengambil jaket juga kunci motornya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Mampir yuk kak dikarya kedua ku 👇
Mohon dukungannya like, komen dan hadiah 🙏
__ADS_1