Priaku Bukan Suamiku

Priaku Bukan Suamiku
Bab 76


__ADS_3

"Kamu juga gak usah sungkan, ibu masih tetap anggap kamu anak meskipun kamu sudah bukan suami Iin lagi karena kamu tetap ayah Aldi, cucu ku." lanjut ibu Iin.


Yudi merasa benar-benar terharu hanya bisa menangis, karena benar-benar merasa malu sudah mengecewakan keluarga besarnya Iin.


Setelah menyelesaikan semua urusan dan semua sudah merasa lega karena sudah tidak ada lagi yang mengganjal dihati mereka masing-masing, akhirnya Yudi pamit pulang ke rumah orang tuanya dan menyampaikan bahwa sementara akan tinggal dirumah kedua orang tuanya.


"Kalau begitu saya pamit dulu bu dan semuanya, mau pulang ke rumah emak dan bapak sementara akan disana dulu. Sekali lagi saya minta maaf dan trima kasih banyak masih mau untuk menerima saya meskipun tidak sebagaimana mestinya." ucap Yudi, kemudian dia menyalami semua orang yang ada disana.


"Ini ada sedikit bekal le, buat perjalanan kamu hati-hati dijalan juga salam buat emak sama bapakmu ya." sambil menjabat tangan Yudi, ibu Iin memberikan amplop yang berisi beberapa lembar uang berwarna merah.


Yudi pun kembali terharu dan kembali merasa bersalah. Dia tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menangis dan memeluk mantan mertuanya sambil mengucapkan terima kasih.


Iin pun juga ikut pulang ke rumah, mereka berjalan beriringan bersama-sama tetapi tidak ada yang bersuara. Mereka berjalan dengan saling diam.


Setelah sampai di dalam rumah Yudi segera mengambil tas nya di kamar Aldi. Iin hanya menunggu dengan duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Tidak lama Yudi pun keluar dengan membawa tas nya dan dia ikut duduk dihadapan Iin tetapi masih terhalang dengan meja.


"Dek, sekali lagi mas minta maaf ya uda bikin kamu malu dan uda nyakitin kamu. Semoga kamu bahagia selalu. Seandainya nanti kamu mau menikah jangan lupa kabari mas nanti bakalan datang." kata Yudi.


Iin yang mendengar itu semua hanya menganggukkan kepala pelan.


"Ow iya mas nitip baju-baju mas dulu aja, nanti kalau pas kesini biar mas bawa sedikit-sedikit. Kalau dibawa sekarang gak muat tas nya nanti malah ngrepotin." kata Yudi sambil tersenyum untuk sedikit menutupi luka hatinya.


"Iya mas." jawab Iin singkat.


Tetapi kembali dia teringat bahwa itu semua sudah menjadi takdir yang diatas dan dia harus menerimanya.


...****************...


Setelah kepergian Yudi, Iin pun kembali masuk ke dalam rumah. Sebelum dia sempat menutup pintu, pintu tersebut ditarik dari luar dan ternyata Ari lah yang menariknya agar kembali terbuka.

__ADS_1


Ternyata sedari tadi Ari melihat adegan antara Iin dan Yudi yang sedang berpamitan. Dan Ari sengaja mengintip dulu sebelum akhirnya melihat Yudi pergi dan Ari menyusul Iin masuk ke dalam rumah, tentu saja tanpa sepengetahuan Iin.


"Pah!" Iin kaget karena pintu yang akan dia tutup ditarik kembali oleh seseorang.


Ari tanpa menjawabnya langsung masuk begitu saja dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dijelaskan. Seakan menahan amarah dan rindu yang menggebu.


Marah karena melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Iin dan Yudi. Rindu karena memang sudah beberapa hari tidak bertemu dengan sang pujaan hati, sejak kepulangan mantan suaminya itu.


Iin yang melihat Ari sedang tidak baik-baik saja, merasa agak takut. Seketika dia mundur perlahan, dan Ari pun semakin maju mendekatinya sambil tangan kanannya menutup dan mengunci pintu dibelakangnya tanpa menoleh ke arah pintu.


...****************...


Tetap semangat 💪


Tinggalkan jejak

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan hadiah 🙏


__ADS_2