
Iin hanya mendekap kresek putih berisi 2 testpack yang berbeda merk tersebut dengan terus menangis.
Sari yang mengetahui perubahan sang kakak pun segera memeluknya, karena tanpa berbicara dan melakukan testpack pun Sari tahu dengan jelas hasilnya. Mau bagaimanapun Iin adalah kakaknya, kalau melihat sang kakak terluka jelas Sari pun merasakannya. Sari ikut meneteskan air mata seakan ikut merasakan apa yang juga dirasakan oleh kakaknya.
Setelah hening beberapa saat, dan hanya isak tangis saja yang terdengar.
"Maafin mbak Sar, mbak gak tahu harus gimana." Iin berkata seperti itu dengan menangis tersedu-sedu.
"Mbak tenang dulu, mendingan dicoba dulu aja testpacknya siapa tahu mbak emang lagi sakit." Sari mencoba menyangkal keadaan yang memang sudah ada di depan mata.
Iin hanya menggelengkan kepala pelan.
"Tapi mbak yakin Sar kalau mbak hamil." karena bagaimanapun Iin yang lebih tahu dengan kondisi tubuhnya, apalagi tanda-tanda kehamilan yang jelas dia sudah pernah merasakan meskipun itu sudah lama berlalu karena memang Aldi saat ini sudah remaja.
Tapi Iin tetap menuruti perkataan Sari. Dia dengan segera ke kamar mandi untuk mengecek keadaannya. Meskipun sebenarnya lebih akurat apabila dilakukan di pagi hari, tapi dia tetap akan melakukan saat itu juga.
Selama sang kakak berada di kamar mandi, Sari hanya menunggu dalam diam dan duduk di ranjang sang kakak.
__ADS_1
Jujur saat ini dia bingung, seandainya nanti benar kakaknya hamil dia akan membantu dengan cara bagaimana untuk menjelaskan kepada seluruh keluarga besarnya khususnya kepada ibunya. Dan tentu saja itu nanti akan kembali mencoreng nama baik keluarga besar dan kembali membuat malu setelah kejadian Yudi waktu lalu.
Tentu jelas akan malu, karena Iin hamil tanpa adanya suami. Bahkan orang yang menghamili pun entah pergi kemana tidak ada satupun yang tahu. Kalau untuk mengguggurkan kandungannya, jelas tidak mungkin karena akan sangat berdosa apalagi bayi dalam kandungannya pun tidak tahu apa-apa dan seandainya mau memilih dia juga tidak ingin dilahirkan dengan jalan seperti itu.
Ahh Sari bingung menghadapi ini!
Seandainya bisa dia lebih memilih dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk daripada dengan situasi yang seperti ini.
Dan setelah beberapa saat Sari bingung dengan pemikirannya tersebut, pintu kamar mandi dibuka oleh Iin. Dan terlihat Iin keluar dengan memegang kedua testpack yang baru saja dia gunakan itu.
Sari yang melihatnya segera mendekati Iin dan meminta testpacknya untuk melihat hasilnya.
Benar apa yang dipikirkan Sari sedari tadi. Dua garis merah terlihat jelas di kedua testpack tersebut. Sari lemas seketika.
Keduanya pun kembali duduk di tepi ranjang.
"Ya uda mbak semuanya uda terjadi mau gak mau harus tetap dijalani dan mbak memang harus terima konsekuensi semua yang sudah mbak lakukan. Lebih baik sekarang mbak hubungi Mas Ari. Maaf kenapa aku suruh hubungi Mas Ari karena itu pasti anaknya bukan anak mas Yudi." jelas Sari panjang lebar.
__ADS_1
Iin hanya menggelengkan kepala pelan. Sari pun mengerutkan kening merasa heran kenapa malah kakaknya tidak mau menghubungi laki-laki itu.
"Kenapa mbak?" tanya Sari penasaran.
"Dia tidak bisa dihubungi Sar, dari awal dia pergi nomornya sudah tidak aktif dan aku gak tahu harus nyari dia kemana." lirih Iin dengan kembali meneteskan air mata.
Jedeeerrr!.
Sari jelas tahu maksud dari perkataan kakaknya, karena memang Ari adalah mandor proyek dan jelas pekerjaannya pindah-pindah tempat. Dia tidak menyalahkan Ari tetapi hanya menyesalkan dengan kegampangan sang kakak menghadapi laki-laki seperti Ari. Yang dengan mudah menabur benih sesuka hati.
Kembali Sari dihadapkan dengan masalah lagi. Dia hanya mengacak rambutnya dengan keras, karena tidak tahu lagi harus bagaimana.
...****************...
Tetap semangat 💪
Mampir yuk kak di karya kedua ku 👇
__ADS_1
Mohon dukungannya like, komen dan hadiah 🙏