
Keesokan harinya, Iin sudah bersiap pergi ke rumah ibunya. Sari pun juga sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kedatangan keluarganya nanti.
"Kog beli jajan banyak banget buat apa tow Sar?" tanya ibunya karena belum tahu apa yang akan direncanakan kedua anaknya.
"Ya buat makan tow buk. Nanti pakde bude dan yang lainnya mau datang." jawab Sari sambil menata makanan di toples-toples.
"Owalah iya tow? Kog ibu gak tahu. Ya wes kalau gitu ibu mandi dulu mau siap-siap juga." ibunya Sari segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Sari.
"Maafin Sari uda bohong buk!" batin Sari sedih setelah melihat kepergian ibunya.
Beberapa saat kemudian, Iin datang dan membantu Sari menyiapkan makanan.
"Gimana Sar? Ibu sudah tahu? Semua uda dikabari suruh datang? Mbak takut Sar!" ucap Iin dengan sedikit gemetar antara siap tidak siap menghadapi nanti.
"Ibu belum aku kasih tahu mbak, aku takut nanti malah marahnya gak ke kontrol kalau dikasih tahu dulu. Tapi pakde bude dan yang lain uda aku kabari kog. Mungkin bentar lagi datang." jawab Sari dengan melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Mbak jangan takut kita hadapi bareng-bareng ya." ucap Sari menenangkan sang kakak.
"Iya makasih Sar." jawab Iin sambil memeluk adiknya.
__ADS_1
Ketika mereka berpelukan, datanglah ibu mereka.
"Kenapa kalian kog berpelukan gitu? Tumben-tumbenan biasanya juga kayak kucing sama anjing." sang ibu menatap curiga kepada mereka berdua.
"Ibu kog malah gak seneng sih aku sama mbak Iin akur? Kog malah senengnya lihat kita berantem terus?" jawab Sari dengan nada sedikit merengek.
"Hehe ya gak gitu nduk, ibu ya tambah seneng kalian akur lah. Eh.. kog ibu perhatikan kamu kelihatan pucat trus kayaknya agak berisi gitu ya In?" tanya sang ibu ketika memperhatikan penampilan Iin, yang kebetulan saat itu memakai kaos polos dan terlihat lebih berisi. Bagaimanapun seorang ibu pasti tahu perubahan pada anaknya sekecil apapun.
Iin yang ditanya seketika bingung akan menjawab apa, dia hanya melirik Sari untuk meminta bantuan. Sari yang dilirik pun seakan tahu dengan kode yang diberikan kakaknya.
"Emm buk tadi aku beli sirup ditaruh dimana ya? Kog aku cari di dapur gak ada? Ibu tahu gak?" tanya Sari dengan menarik pelan ibunya untuk dibawa ke dapur sekalian untuk mengalihkan perhatian ibunya dari Iin.
"Masa sih buk? Kog aku gak lihat tadi?"
"Makanya kalau cari itu pake mata"
Sayup-sayup Iin mendengar ibu dan adiknya masih beradu mulut di dapur. Seketika dia lemas benar-benar semakin merasa takut. Tapi mau bagaimanapun semuanya tetap harus dia jalanikan?.
...****************...
__ADS_1
Sementara Yudi pagi ini memiliki janji dengan distributor yang lain. Karena dia ingin menambah usahanya secara pelan-pelan.
Sedangkan Aldi tidak ikut karena Yudi sekalian membawa pesanan pelanggan yang akan dikirim ke ekspedisi. Jadi jika Aldi ikut tidak akan cukup sepeda motor yang mereka tumpangi.
Begitu sampai di ekspedisi Yudi segera mengirim semua pesanan menuju ke alamat yang sudah tertera. Setelah itu dia segera ke rumah distributor yang sudah membuat janji dengannya, kebetulan rumahnya searah jadi Yudi bisa tepat waktu menemuinya.
Karena memang ini adalah distributor baru, jadi Yudi masih pendekatan dulu untuk melakukan negosiasi bekerja sama.
Yudi mendapat rekomendasi dari sesama distributor yang sudah kenal baik dengannya, jadi dia berharap bisa menjalin kerjasama dengan baik nantinya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Mampir yuk kak di karya kedua ku 👇
Mohon dukungannya 🙏
__ADS_1