
Keesokan harinya, Ari sudah bersiap-siap untuk pergi menuju proyek di kota selanjutnya.
Ari dan Iin benar-benar akan berpisah. Jujur saja sebenarnya di dasar hati mereka masing-masing sangat berat untuk melepaskan tetapi karena keadaan yang mengharuskan mereka melakukan itu semua.
Sari mengetahui tentang Ari yang akan pergi, karena memang dia tahu kalau proyek di kampung sebelah sudah selesai. Dan dia merasa cukup senang karena sang kakak sudah tidak akan menjalin hubungan dengan Ari lagi setelah kepergian Ari nanti. Tanpa dia tahu bahwa hubungan keduanya sudah cukup dalam.
Setelah kepergian Ari, kehidupan Iin pun menjadi biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial lagi karena dia merasa kehilangan sosok Ari yang hampir setiap hari bersamanya.
...****************...
1 bulan berlalu...
Sudah sebulan lamanya Iin tidak mendengar kabar dari Ari. Bahkan nomor teleponnya pun tidak bisa dihubungi. Dan Iin pun tidak tahu lagi harus mencari Ari dimana. Karena proyek yang barunya pun Iin tidak tahu.
Jujur saja Iin merasa sangat kehilangan. Dia merasa sudah tidak punya gairah hidup lagi. Dia jadi sering malas makan dan tidak jarang setiap malam hanya begadang untuk memikirkan dimana keberadaan Ari. Tapi tetap saja dia tidak tahu harus mencari kemana.
Malam hari sebelum dia beristirahat Iin merasa badannya sangat capek dan lelah sekali. Padahal dia setiap hari tidak melakukan aktifitas berat, hanya aktifitas ringan pada umumnya. Tetapi entah kenapa dia merasa sangat capek. Akhirnya dia memilih untuk mengistirahatkan badannya agar besok pagi bisa sehat lagi.
Keesokan harinya, ketika bangun pagi entah kenapa perut Iin terasa sangat mual. Dengan segera dia berlalu ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dan memuntahkan semua isi perutnya. Beberapa kali dia mual-mual hingga sampai mengeluarkan cairan yang berwarna kuning baru dia merasa lega.
__ADS_1
Siang harinya tetap saja dia merasa sangat capek hingga sangat terlihat mukanya pucat.
"Mbak kog tokonya gak dibuka? Kenapa?" tanya Sari yang waktu itu kebetulan sedang lewat dan melihat toko kakaknya masih tutup padahal hari sudah siang.
Kemudian dia berhenti sebentar untuk melihat kakaknya takutnya ada apa-apa.
Setelah masuk ke dalam rumah sang kakak tidak terlihat, Sari langsung menuju ke kamar kakaknya. Dilihatlah disana sang kakak sedang berbaring di ranjang dengan memakai selimut.
"Mbak kenapa? Sakit?" tanya Sari ketika sudah duduk di dekat ranjang, kemudian memegang dahi sang kakak dan terasa sedikit demam.
Iin hanya membuka mata pelan tanpa berniat menjawab karena dia merasa sangat lemas.
Sari yang melihat itu sempat bingung, sakit apakah sang kakak?
Setelah beberapa saat akhirnya Iin kembali berbaring di ranjang.
"Mbak uda makan belum? Asam lambung mbak kumat lagi ya?" tanya Sari terus karena Iin tidak menjawab pertanyaannya.
"Uda ke dokter belum?"
__ADS_1
Iin hanya menggelengkan kepala pelan.
"Gimana sih kog belum ke dokter? Sari panggilin bidan ya? Biar dipriksa dirumah aja, mbak kayaknya lemes banget gitu!" seru Sari segera meraih ponselnya untuk menghubungi bidan tetangganya untuk datang ke rumah Iin.
Meskipun kadang Sari tidak suka dengan sikap Iin yang sesuka hati, tetapi mau bagaimanapun Iin adalah kakaknya dan sebagai sesama saudara harus saling menyayangi.
...****************...
Jangan lupa mampir di karya kedua ku ya kak 👇
Mohon dukungannya 🙏
Tetap semangat 💪
Tinggalkan jejak
Jangan lupa like, komen dan hadiah 🙏
__ADS_1