Priaku Bukan Suamiku

Priaku Bukan Suamiku
Bab 12 (Session 2)


__ADS_3

Sebelum ke rumah Pakdenya, Iin lebih dulu pulang kerumahnya untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan. Begitu sampai di depan rumah ponsel yang di dalam tas nya berdering tanda ada panggilan masuk. Segera Iin mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menghubunginya.


Ketika dilihat ternyata nomor asing yang menghubunginya, dia membiarkan saja panggilan itu hingga berakhir sendiri. Kemudian Iin segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil barangnya yang ketinggalan.


Belum lama setelah panggilan berakhir, ponselnya kembali berdering dan Iin melakukan hal yang sama yaitu membiarkan saja panggilan tersebut. Karena Iin memang tidak pernah mau menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Dia trauma ketika kejadian Yudi dipenjara dulu, dia menerima panggilan nomor tidak dikenal dan ternyata adalah polisi yang menghubunginya untuk mengabarkan bahwa Yudi ada di penjara. Berawal dari itu Iin sudah tidak mau lagi menerima panggilan masuk dari nomor tidak dikenalnya.


Padahal tanpa dia tahu, orang yang menghubunginya terus menerus adalah orang yang selama ini dia tunggu-tunggu kedatangannya.


Karena tidak mau semakin membuat masalahnya terus berlarut-larut, akhirnya Iin segera menuju ke rumah Pakdenya. Sebelumnya dia sudah mengirim pesan kepada Pakdenya akan datang ke rumah untuk membicarakan masalahnya dengan sang Ibu.


Ketika sampai di rumah Pakdenya, Iin segera disuruh masuk dan duduk di ruang tamu.


"Gimana In, kamu sudah ngomong sama Ibu kamu?" tanya Pakdenya tanpa basa basi.


"Sudah Pakde, Iin sudah minta. Ibu mau memaafkan Iin asalkan dengan syarat..." Iin menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Apa syaratnya?" tanya Pakde penasaran.


"Syaratnya Iin harus menikah dengan Mas Yudi lagi dan biarkan anak ini menjadi tanggung jawabnya Mas Yudi. Karena Ibu tidak mau kalau punya menantu selain Mas Yudi." jawab Iin lirih tetapi masih bisa didengar oleh Pakde.


"Hah?!" jujur saja Pakdenya sangat terkejut, aneh saja menurutnya pemikiran kakaknya ini. Tidak banyak orang yang mau bertanggung jawab atas apa yang tidak mereka lakukan, apalagi sebelumnya sudah pernah disakiti dengan cara diceraikan secara sepihak.


"Kog aneh sekali Ibu mu itu?"


"Ya gak mungkin Yudi mau. Emangnya kamu sudah menghubungi Yudi?" tanya Pakdenya.


"Makanya Iin kesini mau minta tolong sama Pakde, tolong bicara sama Ibu kasih Ibu pengertian bahwa gak mungkin mengabulkan syarat seperti itu." mohon Iin.


"Kalaupun nanti ayah dari anak ini tidak mau bertanggung jawab sekalipun Iin ikhlas akan merawatnya sendiri. Meskipun mungkin akan menjadi buah bibir banyak orang." lanjut Iin dengan mengelus perutnya yang masih rata.


"Ya sudah nanti coba Pakde ngomong sama Ibu kamu. Untuk sementara biarkan Ibumu tenang dulu jangan menambahkan beban pikirannya." terang Pakde.

__ADS_1


"Iya Pakde Iin tahu, ini tadi juga tidak mau ngomong sama Iin dan Sari. Makanya Iin langsung ke sini minta tolong Pakde." jelas Iin.


"Ya sudah nanti biar Pakde urus, kamu lebih baik pulang saja istirahat biar gak kecapekan." usul Pakde.


"Iya Pakde terima kasih banyak Iin permisi dulu." pamit Iin, dia segera pergi dari rumah Pakdenya untuk pulang kerumahnya beristirahat sejenak setelah seharian dia merasa sangat lelah berpikir.


...****************...


Tetap semangat 💪


Mampir yuk kak di karya kedua ku 👇


Tinggalkan jejak like, komen dan hadiah 🙏


__ADS_1


__ADS_2