
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bidan pun datang. Dan dengan segera memeriksa keadaan Iin.
Bidan pun memastikan dengan benar setiap gejala-gejala yang dialami oleh Iin. Bidan tersebut sebenarnya sudah curiga kalau Iin hamil, tapi dia belum mau mengatakan dulu karena melihat keadaan Iin yang sudah bercerai dan tidak mempunyai suami. Dia takut apabila nanti malah menjadikan fitnah.
"Gimana bu, mbak Iin sakit apa?" tanya Sari penasaran dengan sakit kakaknya.
"Hmm.. begini Sar, kita bicara di luar ya?" ajak bu bidan dengan beranjak dari duduknya untuk keluar dari kamar dimana Iin berbaring.
Iin yang melihat itu hanya diam memperhatikan ketika bidan dan Sari keluar dari kamarnya. Karena dia merasa terlalu lemas untuk sekedar bangun dari tidurnya.
"Mbak Iin kenapa bu? Apa sakit parah kog ibu kayaknya bingung gitu?" tanya Sari begitu mereka sudah berada di luar kamar Iin.
"Hmm... gimana ya Sar, ibu bingung ngomongnya!"
"Kenapa bu? Apa parah banget ya?" tanya Sari khawatir.
"Kalau melihat dari gejalanya, maaf ya ibu harus mengatakan..."
Bidan tersebut sejenak menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Hmm.. kayaknya mbak mu itu sedang hamil." lirih sang bidan tapi masih bisa di dengar oleh Sari.
Sari pun seketika kaget!
Benar-benar tidak menyangka apa yang barusan dikatakan oleh bidan itu.
"Maaf bukan bermaksud apa-apa tapi kan Iin sudah tidak punya suami jadi maksud saya..." bidan itu kembali berbicara ketika melihat Sari hanya diam saja karena keterkejutannya itu.
"Iya saya mengerti bu." Sari segera memotong perkataan sang bidan karena memang Sari sudah tahu apa yang akan dikatakan. Tentang Iin yang sedang hamil tapi dengan kondisi sudah lama bercerai dengan Yudi.
"Lebih baik kamu belikan testpack dulu aja untuk lebih memastikan. Tapi ini tetap saya kasih obat dan vitamin biar tidak lemas lagi. Tenang saja ini obat dan vitamin aman kog untuk ibu hamil apabila ternyata benar Iin hamil." kata bu bidan sambil memberikan resep kepada Sari untuk ditebus di apotik.
Sari kembali masuk ke dalam kamar kakaknya setelah mengantar bu bidan ke depan rumah dan membayar biaya periksanya.
Sari menghampiri sang kakak yang terlihat lemas dengan memejamkan mata dan duduk di ranjang di sebelah Iin.
"Aku tebus resepnya dulu ke apotik ya mbak, aku tinggal sebentar gak apa-apa?" tanya Sari sebelum dia pergi meninggalkan kakaknya.
Iin membuka matanya dan hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar meninggalkan sang kakak, Sari kembali melihat kakaknya. Dia merasa sangat kasihan dengan kehidupan sang kakak setelah bercerai yang dia pikir akan merasa terlepas dari beban tetapi ternyata kembali diberi cobaan dengan adanya janin diperutnya tanpa ada suami.
Setelah Sari mengingat-ingat, tidak mungkin kalau itu anaknya Yudi. Karena mereka bercerai sejak awal Yudi masuk penjara. Yang jelas sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Yudi. Kalaupun kemarin setelah keluar penjara sempat bertemu tetapi tidak mungkin mereka melakukan hubungan. Karena sudah dipastikan bahwa mereka sudah bukan suami istri lagi dan yang jelas malam itu Yudi tidur di kamar Aldi. Karena saat itu Sari sudah memastikan sendiri kepada Aldi bahwa sang ayah tidur di kamarnya.
Jadi selama ini???
Semoga apa yang ada dipikiran Sari saat ini tidak benar!
...****************...
Mampir yuk kak di karya kedua aku 👇
Mohon dukungannya 🙏
Tinggalkan jejak
Jangan lupa like, komen dan hadiahnya 🙏
__ADS_1