
Keesokan harinya Ari dan semua pegawainya sudah bersiap akan pulang. Mereka diantar oleh Kepala Desa setempat untuk menuju ke kota dan disana mereka akan menaiki travel yang sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya.
Mereka semua merasa bahagia karena akan segera bertemu dengan keluarga mereka yang sudah lama ditinggalkan. Begitupun dengan Ari dia sudah membuat rencana untuk memberi kejutan kepada Iin berupa lamaran, dan Ari yakin Iin tidak akan menolak lagi. Dia sudah semua yang dibutuhkan untuk lamaran nanti dan dia sudah tidak sabar akan segera bertemu dengan Iin.
...****************...
Di kediaman Iin, disana terlihat banyak orang-orang yang membantu untuk perayaan 7 bulan kehamilan Iin. Kalau orang jawa menyebutnya mitoni. Iin sudah cuek tidak terlalu mempedulikan orang-orang yang mencibirnya saat tahu kehamilan Iin tanpa suami, dan dengan berjalannya waktu cibiran itu sudah berhenti dengan sendirinya. Orang-orang juga sudah mulai kembali respek kepada Iin, terbukti saat ini mereka membantu persiapan Iin mengadakan perayaan 7 bulanan.
Malam pun tiba dalam kamar, Iin terlihat bersedih dia duduk di sisi ranjangnya sambil mengelus perutnya yang sudah mulai kelihatan.
"Nak, apa bener papa kamu melupakan kita? Dimana papa kamu sekarang mama juga tidak tahu! Apa papa kamu tidak bisa merasakan kehadiran kamu?" lirih Iin dengan derai air mata yang membasahi pipinya.
Hampir setiap malam dia mengeluhkan hal yang sama. Apakah benar Ari sudah melupakannya? Karena sudah berbulan-bulan lamanya tidak ada kabar sama sekali dari nya.
__ADS_1
Tidak ingin kembali larut dalam kesedihan, Iin segera menghapus air matanya dan bersiap akan beristirahat karena besok dia harus terlihat segar.
...****************...
Keesokan harinya acara pun dimulai. Terlihat banyak sekali para tetangga, kerabat dan teman-teman Iin yang sudah datang memberikan selamat. Meskipun tanpa adanya suami Iin tidak malu mengadakan syukuran itu, karena menurutnya anak adalah rejeki maka tidak akan pernah dia tolak bagaimanapun caranya dia hadir.
Acara berjalan dengan khidmat, semua turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Iin.
Di gang dekat rumah Iin terlihat seorang laki-laki yang sedang berhenti mengendarai sepeda motornya. Dia masih terlihat duduk diatas sepeda motor dengan membawa paper bag di depannya. Dia adalah Ari. Ya, sesuai dengan rencananya Ari hari ini juga datang menemui Iin dan ingin segera melamarnya. Tetapi dia cukup terkejut karena melihat rumah Iin yang rame banyak orang seperti ada acara. Karena dia sendiri tidak tahu ada acara apa dirumah Iin.
"Permisi Bu, mau tanya itu dirumah Mbak Iin ada acara apa ya?" tanya Ari.
"Ow itu acara syukuran 7 bulanan Mas." jawab Ibu tersebut. Ibu itu tidak kenal dengan laki-laki yang sedang bertanya kepadanya itu. Meskipun dulu pernah mengerjakan proyek dikampungnya tetapi Ibu itu terlihat cuek saja.
__ADS_1
"Apa 7 bulanannya Sari ya? Emang Sari uda nikah?" batin Ari sambil menebak-nebak. Karena penasaran akhirnya Ari pun kembali bertanya.
"7 bulanannya Sari ya bu?"
"Bukan Mas, 7 bulanannya Iin. Maaf Mas saya permisi dulu ya, buru-buru ini." jawab Ibu itu segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Ari.
Ari yang mendengar itu segera diam membeku ditempat tanpa bisa menjawab perkataan dari Ibu itu yang berpamitan kepadanya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Mampir kak di karya aku yang lain 👇
__ADS_1
Mohon dukungannya like, komen dan hadiah 🙏