
Mobil yang dikendarai keluarga Iin pun sampai dirumah sakit terdekat. Sari segera berlari mencari bantuan untuk menyuruh perawat yang ada untuk segera membantu memberi pertolongan kepada Ibunya.
Kemudian beberapa perawat segera membawa brankar untuk membaringkan ibunya Sari dan segera dibawa ke UGD.
Sari dan keluarga yang ikut mengantar pun menunggu di depan ruang UGD begitu sang ibu dibawa masuk ke dalam.
Sambil menunggu Sari berniat menghubungi Yudi untuk memberi kabar bahwa ibunya masuk Rumah Sakit. Tetapi kemudian dia ingat bahwa Yudi sudah tidak ada hubungan lagi. Sari kembali teringat akan menghubungi Aldi yang saat ini masih berada di rumah Yudi, tetapi dia juga kembali teringat bahwa Iin memberi waktu kepada Aldi untuk menikmati waktunya bersama sang ayah. Akhirnya Sari mengurungkan niatnya untuk menghubungi kedua orang tersebut.
...****************...
Di kediaman Ibunya Iin, masih terlihat jelas wajah marah dari sang pakde. Dan Iin mau tidak mau harus mengatakan semua yang sebenar-benarnya terjadi.
__ADS_1
"Sekali lagi Iin minta maaf pakde. Sebenarnya setelah bercerai dari Mas Yudi dulu Iin mempunyai hubungan dengan mandor proyek dari kampung sebelah. Dan dia salah satu orang yang membantu Iin mencukupi semua kebutuhan Iin dan Aldi selama Mas Yudi berada di penjara. Jujur kalau hanya mengandalkan hasil toko saja tidak cukup pakde, dan tidak mungkin kalau Iin terus-terusan minta kepada ibu meskipun sebenarnya ibu tidak keberatan akan hal itu. Dan sebenarnya setiap melakukan hubungan itu Iin selalu minum pil tetapi karena waktu itu habis jadi Iin lupa tidak minum, mungkin karena itu Iin hamil..."
"Dan setelah proyek nya selesai dia pindah ke daerah yang Iin sendiri juga tidak tahu, apalagi dengan sinyal yang susah jadi dia tidak bisa dihubungi. Waktu dia pergi itu Iin belum tahu kalau hamil, setelah sebulan dia pergi baru Iin tahu kalau hamil." jelas Iin panjang lebar.
Pakde pun mendengarkan dengan seksama kejujuran yang disampaikan oleh keponakannya itu. Sebenarnya tidak sepenuhnya semua salah Iin, karena memang Iin membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya. Tetapi caranya yang salah, sama saja dia menjual dirinya untuk mendapatkan uang dengan alasan mencukupi kebutuhan hidup.
Pakde pun menghela nafas panjang, benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak, karena yang lebih berhak adalah adiknya yang tidak lain adalah Ibunya Iin yang saat ini justru terbaring di Rumah Sakit karena mendengar kabar itu.
"Ya sudah untuk sementara, kamu terus coba hubungi laki-laki itu. Kalau seandainya bisa dihubungi kamu segera katakan apa yang sebenarnya terjadi sama kamu dan suruh dia bertanggung jawab karena mau bagaimanapun itu semua salah kalian bukan salah bayinya.."
"Dan untuk urusan ibumu, kamu juga minta maaf sama ibumu. Jangan sampai ibumu memendam sakit karena tingkah kamu ini." terang pakde panjang lebar.
__ADS_1
"Iya pakde, Iin sampai saat ini juga masih berusaha untuk menghubunginya. Dan untuk ibu Iin siap menerima apa keputusan ibu nanti buat Iin, karena bagaimanapun Iin harus mau menerima konsekuensi nya.."
"Terima kasih banyak ya pakde sudah mau mengerti Iin dan sekali lagi Iin minta maaf." ucap Iin dengan menjabat tangan pakdenya sambil terus menangis.
...****************...
Tetap semangat 💪
Mampir yuk kak di karya kedua ku 👇
Mohon dukungannya like, komen dan hadiah 🙏
__ADS_1