
Setelah ibu Yudi membuka pintu, kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah. Dengan segera ibu Yudi membuatkan minuman dan makanan untuk sang anak. Karena dia yakin bahwa anaknya lapar.
Yudi pun dengan segera membersihkan diri terlebih dahulu supaya terlihat lebih segar. Dan ayahnya membantu ibunya untuk menyiapkan makanan.
Setelah mereka selesai melakukan pekerjaan masing-masing, akhirnya ketiganya duduk di ruang makan untuk menikmati makan siang yang terbilang sangat sederhana itu. Hanya sekedar nasi putih hangat, tempe goreng, sambal bawang dan oseng sayur hijau.
Yudi pun terlihat begitu menikmati makanannya. Karena jujur saja dia begitu merindukan masakan sang ibu. Tanpa terasa di tengah-tengah dia mengunyah makanannya, dia tidak bisa menahan air matanya. Tetapi dia segera menyeka air matanya sebelum kedua orang tuanya melihat dia menangis.
Setelah mereka selesai makan siang, mereka bersantai di ruang tamu. Melepas kangen karena hampir satu tahun tidak bertemu.
"Pie le sekarang ceritakan dari awal kapan kamu bebas? Kog tidak telpon bapak dulu?" tanya sang ayah ketika mereka sedang duduk santai.
"Aku sudah bebas 2 hari yang lalu pak..."
"Lah sudah 2 hari yang lalu kog baru pulang saiki tow le?" tanya sang ibu dengan memotong perkataan Yudi.
__ADS_1
"Sek tow buk dengarkan Yudi cerita dulu jangan dipotong." tegur ayah Yudi.
Yudi hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya yang selalu seperti itu, tetapi tidak pernah bertengkar hanya adu mulut seperti itu saja.
"Yow wes yow wes aku tak diam aja!"
"Wes le lanjutkan ceritanya." suruh ayahnya.
"Iya pak buk aku sudah bebas 2 hari yang lalu. Tapi aku pulang dulu ke rumah Iin, karena aku kangen sama Aldi.." sengaja Yudi tidak mengatakan bahwa kangen dengan Iin, memang yang sebenarnya terjadi cintanya untuk Iin sudah luntur ketika Iin menolaknya menemani dikala dia menderita kemarin.
"Aku juga minta maaf sama bapak dan ibu karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk istri sehingga membuat istri tidak nyaman dan akhirnya memilih untuk mundur." ucap Yudi dengan sendu.
Ibu Yudi yang tahu maksud dari perkataan anaknya pun ikut ngomong.
"Lhoh kamu sudah tahu tow le kalau Iin menceraikan kamu?" tanya Ibu Yudi.
__ADS_1
"Iya kemarin waktu baru sampai itu Iin kasih amplop yang isinya itu buk. Ya sudah memang benarkan aku sudah tidak memberikan nafkah lahir dan batin untuknya." kata Yudi dengan sedikit terkekeh untuk menutupi luka hatinya.
Dan lagi-lagi Yudi tidak membicarakan soal perselingkuhan Iin kepada orang tuanya juga. Karena dia tidak ingin Iin semakin dinilai jelek oleh kedua orang tuanya.
"Harusnya seorang istri itu mendampingi suami dalam suka dan duka bukan dalam suka aja. Uda tahu lagi susah kog malah ditinggal. Ancen gendeng Iin iku!" seru ibu Yudi yang merasa tidak terima dengan keputusan sepihak yang diambil oleh Iin.
"Wes ta lah buk, diterima aja semua sudah ditakdirkan. Diyakini saja semua ada hikmahnya." ucap sang ayah menenangkan istrinya.
Yudi hanya mengangguk-anggukkan kepala mengamini perkataan ayahnya.
...****************...
Tetap semangat 💪
Tinggalkan jejak
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan hadiah 🙏